Khotbah Populer

Cerdik Seperti Ular, Tulus Seperti Merpati

Tags : Artikel Spiritual Kristen Spiritual Kristen

Terkait


Oleh: Pdt. Bigman Sirait

JIKA tidak ada aral melintang, pemilihan umum (pemilu) akan berlangsung awal bulan depan, tepatnya 5 April 2004. Hasil pemilu tersebut akan menentukan keanggotaan wakil-wakil rakyat di DPR, DPRD, DPD, dan selanjutnya presiden dan wakilnya. Bagi umat Kristen, pemilu kali ini tentu memiliki kesan khusus dengan tampilnya seorang pelayan Kristus, Pdt. Ruyandi Hutasoit, sebagai salah seorang calon presiden (capres). Selain Ruyandi yang mengincar kursi presiden, ada puluhan atau bahkan ratusan anak Tuhan yang terdaftar sebagai calon legislatif (caleg). Para caleg Kristen ini tersebar di berbagai partai politik (parpol).

Tampilnya caleg-caleg dari kalangan orang Kristen memang bukan hal yang baru dalam sejarah perpolitikan di negeri ini. Meski demikian, tidak ada salahnya jika kita sebagai sesama anak Tuhan membekali para caleg itu, sehingga mereka tidak lupa untuk menyuarakan kebenaran sebagaimana yang diinginkan oleh Tuhan. Apa bekal yang hendak kita berikan kepada para caleg itu? Selain doa, ada sebaris kalimat yang dikutip dari kitab Matius 10:16 yang berbunyi: Lihat, Aku mengutus kamu seperti domba ke tengah-tengah serigala. Sebab itu hendaklah kamu cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati.

Apa maksud Tuhan dengan sabdanya itu? Dia menginginkan agar para caleg yang bertarung atas nama-Nya itu mampu menampilkan perilaku yang memperlihatkan keseimbangan antara kecerdikan dan ketulusan. Merujuk konteks, sifat cerdik ada pada ular, sedangkan sifat tulus pada merpati. Dan para caleg dituntut mampu untuk memainkan secara sempurna kedua sifat yang bertolak-belakang ini. Sungguh suatu tugas yang tidak gampang, memang.

Berdasarkan sifat hewaninya saja, ular dan merpati jelas bertolak-belakang. Ular seringkali digambarkan sebagai simbol kejahatan, kelicikan, dan termasuk sebagai salah satu jenis binatang yang sosoknya mengerikan dan membahayakan. Binatang ini kelihatannya tidak berdaya, meliuk-liuk lemah gemulai dengan badan yang lembut dan empuk. Namun ketika dia mulai menggeliat dan siap menyerang, siapa pun akan ketakutan setengah mati. Jika ular berhasil mematuk seseorang, kematian si korban kemungkinan besar hanya tinggal menunggu waktu saja karena bisa (racun) ular menyebar sangat cepat dalam tubuh korbannya.

Sebaliknya, merpati adalah sejenis binatang yang putih, jinak, serta sosoknya jauh dari kesan menakutkan. Binatang ini tidak pernah menaruh syak wasangka (curiga) terhadap majikannya, bahkan orang lain yang memanggilnya untuk memberinya makanan. Dengan sifatnya yang serba lugu dan tulus itu, merpati mudah diperdaya oleh siapa pun. Kombinasi kedua binatang (ular dan merpati) memang luar biasa jika itu dituntut untuk ada di dalam hidup seorang manusia: cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati.

Dalam rangka menarik simpati calon pemilih, berbagai cara dilakukan oleh para caleg. Caleg yang merasa dirinya cerdik, pintar dan hebat, lazimnya mengumbar kata-kata melalui debat, pidato, khotbah, dan sejenisnya. Namun ketika mereka berbicara banyak hal, ada sesuatu yang kurang dari mereka, yakni ketulusan hati. Akibatnya, kesan yang timbul adalah sikap arogan, rasa super, dan serba hebat. Pembawaan-pembawaan semacam ini cenderung membuat banyak orang kurang simpati.

Sementara di sisi lain ada caleg yang menampilkan ketulusan, dan dengan cerdik menyiasati apa yang sedang terjadi di tengah-tengah kehidupan masyarakat saat ini. Dengan sepak terjangnya ini, orang ini akhirnya mendapatkan simpati. Ketika banyak orang dengan segala kebanggaan dan kesenangan mengadu kepintaran, orang ini justru menyusup ke wilayah-wilayah kumuh, atau masuk jauh ke pedalaman, bertemu dan menjamah rakyat yang hidup dalam kesusahan. Warga masyarakat yang terpinggirkan ini jelas merasa terhentak karena merasa dihargai. Bagi mereka, kunjungan dan jabatan tangan dari seseorang yang datang membawa ketulusan tentu jauh lebih berharga daripada debat seru di TV atau komentar hebat di surat kabar.

Inilah yang disebut cerdik. Karena dia menyiasati sesuatu di pinggiran sana yang jauh dan tidak terlihat oleh orang lain, sesuatu yang justru sangat penting.

Sementara itu orang-orang yang pintar tadi seolah-olah lupa bahwa bangsa ini sudah terlalu capek dengan segala sikap yang berbau arogansi, merasa super dan hebat. Ingat, selama lebih tiga dekade kita ditindas oleh kekuasaan yang arogan dan membuat rakyat kecewa, marah dan trauma. Oleh karena itu ketika muncul arogansi intelektual, rasa muak pun meluap-luap. Warga masyarakat tentu tidak akan sudi memberikan perhatian terhadap hal-hal seperti ini lagi. Karena rakyat sekarang ini lebih tertarik pada sisi lain, yakni sisi yang menampilkan ketulusan yang selama ini nyaris tidak pernah dilihat atau dirasakan.

Dan kerinduan akan suasana yang sangat menyejukkan itu akan terpuaskan jika muncul seseorang yang dengan cerdik mengangkat isu-isu yang memihak rakyat banyak dengan penuh ketulusan. Warga masyarakat tidak menginginkan caleg yang bisanya hanya mengangkat isu-isu kuno dan murahan yang bisa membawa suasana tenang ke nuansa mirip perang. Mayoritas warga mendambakan kenyamanan. Untuk itulah kita menginginkan caleg yang mampu mengangkat hal-hal yang diharapkan oleh rakyat banyak. Rakyat tidak butuh debat yang tiada jelas ujung pangkalnya. Rakyat membutuhkan elusan tangan lembut yang nyata.

Tuhan mengajarkan kita untuk mengasihi Dia dengan segenap akal budi, segenap jiwa dan dengan segenap kemampuan yang ada pada kita. Kita juga dituntut untuk mengasihi sesama manusia sebagaimana kita mengasihi diri kita sendiri. Di dalam hal seperti ini pun dibutuhkan kecerdikan yang amat sangat dari setiap orang Kristen, yakni menyiasati setiap apa yang sedang terjadi. Salah satu cara, sebagai warga minoritas kita tidak boleh menampilkan gaya hidup yang eksklusif (menutup diri), melainkan harus inklusif (berbaur). Sebagai warga masyarakat, orang Kristen jangan bersifat menunggu, tapi justru mendatangi setiap orang, dan bergaul secara aktif. Namun jangan lupa untuk senantiasa meningkatkan kualitas diri, kemampuan berpikir dan menganalisis. Karena itu pendidikan sangat penting bagi anak-anak Tuhan, sebab ini merupakan salah satu unsur penting untuk menjadikan kita berperilaku cerdik dan tulus.

Komentar


Group

Top