Menjadi Diri Yang Autentik

 Harry Puspito
(harry.puspito@yahoo.com)*

Menurut Maslow salah satu motivasi yang menggerakkan manusia dalam beraktivitas adalah kebutuhan untuk dihormati oleh orang lain. Dalam batas-batas yang normal, pemenuhan kebutuhan ini menciptakan perilaku-perilaku yang baik, sopan, santun, disiplin, kerja-keras, mengejar prestasi, dan sebagainya  sehingga perilaku orang tersebut ada dalam koridor yang sehat. Namun masa kecil, tekanan lingkungan dan kebutuhan akan respek yang berlebihan menyebabkan orang tidak bisa lagi berperilaku apa adanya, tapi banyak orang yang berusaha menyesuaikan dengan harapan-harapan orang-orang lain agar dia diterima dan dihargai.
Orang membeli barang-barang bermerek yang mahal, sering bukan karena kebutuhan akan fungsi barang-barang tersebut, tapi karena orang-orang di lingkungannya menggunakan. Orang berganti telepon genggam ‘cerdas’, banyak bukan karena membutuhkan fitur-fiturnya tapi karena lingkungan mendesak dia menggunakan telepon cerdas itu walau untuk sekedar fitur-fitur yang sederhana. Orang menekan perasaan marah agar tampil sebagai orang baik. Ada orang yang sangat perhatian dengan penampilan di depan publik – pakaian, dananan, rambut, kosmetik – untuk tampil percaya diri. Orang tertentu terus melucu untuk menutupi  sesuatu yang dia merasa tidak nyaman untuk diketahui orang lain atau agar disukai lingkungan.
Ini adalah gejala-gejala pribadi yang di dalam pertumbuhannya tidak mengalami apa yang dalam istilah psikologi dikenal sebagai  ‘differentiation of self’, yang kita bisa terjemahkan sebagai diferensiasi diri, sebagai bagian dari kedewasaan seseorang. Seseorang dengan diferensiasi diri yang baik mampu menyeimbangkan otonomi diri dengan kedekatan dengan orang-orang lain, khususnya dengan keluarga. Diferensiasi diri yang kuat memampukan orang mengambil posisi sendiri  tapi pada saat yang sama tetap menghargai kedekatan dan hubungan dengan orang-orang lain. Sebaliknya mereka dengan diferensiasi yang buruk cenderung reaktif secara emosi, dan sulit untuk tetap tenang menghadapi emosi orang lain. Mereka cenderung menyatu atau memisahkan diri dari orang lain ketika mengalami stres atau kekhawatiran yang besar.
Daud menunjukkan diri  sebagai seseorang dengan diferensiasi diri yang kuat sejak muda. Ketika Raja Saul mengenakan baju perang, ketopong tembaga dan baju zirah, dan pedangnya yang wah itu kepada Daud yang akan melawan manusia raksasa Filistin – Goliat yang menakutkan tentara Israel itu, dia menolak. Daud memilih menggunakan tongkat dan batu yang licin yang dia ambil dari dasar sungai (Lihat 1 Samuel 17: 38-40). Dia tidak memaksa diri mengikuti kemauan sang Raja, walau itu untuk kebaikannya, tapi dia punya pendapat sendiri tentang apa yang cocok untuk kebutuhannya. Bisa dibayangkan apa yang terjadi kalau dia memaksa diri menggunakan peralatan perang Saul, yang membuat dia sulit bergerak karena beratnya.
Pribadi dengan diferensiasi diri yang sempurna sudah barang tentu adalah manusia Yesus. Dia adalah pribadi yang digerakkan bukan oleh tekanan luar tapi dari dalam. Pada masa pelayanan-Nya, yaitu sekitar usia 30 tahunan, kita melihat Yesus sebagai seorang dewasa yang sangat mandiri. Ketika Dia hidup setia terhadap jati diriNya,  Dia membingungkan dan mengecewakan banyak orang yang berharap banyak dari kehebatan-Nya, termasuk keluarga-Nyasendiri. Banyak orang, bahkan keluarga, sampai melihat Yesus sudah tidak waras lagi (Markus 3:21). Siapakah yang dapat mempertanyakan saudara dan ibu-Nya  di depan orang banyak, kalau bukan Yesus (Matius 12:48) sementara di sisi lain, Dia mengajarkan agar kita mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri.
Hidup dengan diferensiasi diri adalah hidup yang setia dengan jatidiri. Menurut Peter Scazzero pribadi yang demikian mampu berpegang kepada siapa dirinya. Dia mampu meninggalkan keluarga asal-usul-nya dan menjadi seorang dewasa yang mandiri, digerakkan oleh batinnya. Dia berpegang kepada prinsip dan berorientasi kepada tujuan. Dia yakin dengan kepercayaan-kepercayaannya tapi tidak bersikap dogmatis kepada orang lain atau berpikiran tertutup. Dia tetap bisa mendengarkan dan mengevaluasi keyakinan-keyakinan orang lain, kalau perlu membuang keyakinan-keyakinan lama karena keyakinan yang baru. Dia dapat mendengar tanpa bereaksi dan berkomunikasi tanpa memusuhi orang lain. Dia dapat menghormati orang lain tanpa harus mengubah orang itu. Dia sadar akan ketergantungannya kepada orang lain dan tanggung-jawabnya bagi orang lain. Dia bebas menikmati hidup dan bermain. Dia bisa menjaga kehadiran yang bebas kecemasan di tengah stres dan tekanan. Dia mampu mengambil tanggung-jawab untuk arah dan hidupnya.
Untuk mengembangkan pribadi yang autentik, Peter menyarankan beberapa hal. Pertama, agar pengenalan diri berkembang, dia perlu memperhatikan kedalaman dirinya melalui berdiam diri dan menyendiri. Kita perlu memiliki orang-orang yang bisa dapat dipercaya, yang bisa menolong kita dengan memberikan umpan balik tentang diri kita dan bagaimana kita telah berperilaku. Untuk menjadi pribadi yang  autentik jelas kita  harus berani keluar dari zona nyaman yang mengikat. Ini tentu tidak mudah, karena itu kita harus banyak berdoa agar Tuhan memberikan keberanian untuk berubah, bersikap dan melakukan hal-hal yang berbeda. Tuhan memberkati!!!

Recommended For You

About the Author: Harry Puspito

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *