Sudut Pandang (SUP)

Jangan Nato Ah...

Penulis : Pdt Bigman Sirait |
NATO, sebenarnya singkatan dari nama suatu organisasi sejumlah negara yang berada di kawasan Atlantik Utara. Singkatan ini kemudian dipelesetkan menjadi No Action Talk Only. Jika status NATO ini dilekatkan kepada seorang pemimpin, maka dia hanya seorang pemimpin yang pintar berbicara namun "tidak berdaya" jika diminta atau dituntut menerapkannya di dalam perbuatan nyata. Pemimpin semacam ini biasanya akan banyak muncul terutama menjelang bergulirnya pesta rakyat lima tahunan yang biasa disebut dengan pemilihan umum (pemilu). Pemimpin seperti ini, bisanya hanya mengumbar janji tetapi tidak pernah sanggup merealisasikannya dalam kehidupan nyata.

Sangat banyak memang gugatan ditujukan kepada para pemimpin cap NATO yang biasanya hanya mau dan mampu meraup keuntungan materi dengan memanfaatkan jabatannya. Tetapi, meski dikritik di sana sini, dihujat dari segala penjuru, mereka kelihatannya tetap melangkah dengan santai, bahkan mungkin dalam hati berkata, "Emangnya gue pikirin?" Anjing menggonggong, kafilah berlalu.

Memprihatinkan, sebab dalam situasi dan kondisi negara yang sangat mengkhawatirkan ini, dibutuhkan pemimpin-pemimpin rakyat yang benar-benar mau mengangkat kehidupan masyarakat yang selama ini tersisihkan. Tetapi dalam waktu yang bersamaan betapa susahnya menemukan pemimpin yang benar-benar dapat menyuarakan suara rakyat yang sejati. Dan bukan hanya bangsa dan negara ini yang kesulitan mencari pemimpin yang berwawasan nasional. Gereja sendiri pun dewasa ini amat sulit menemukan pemimpin yang ideal. Kalaupun gereja memiliki pemimpin, mereka-mereka itu hanya layak disebut sebagai "jago mimbar" yang hanya pandai berkhotbah. Mereka-mereka ini termasuk contoh dari sekian banyak pemimpin yang berpredikat NATO tadi.

Sifat seorang pemimpin yang hanya pintar berbicara, namun tidak mampu merealisasikannya dalam tindakan nyata, baru-baru ini telah diperlihatkan oleh seorang pemimpin daerah di Kabupaten Kampar Riau sana. Bupati yang bernama Jefri Noer ini mengancam akan memberhentikan atau mengganti sekitar 7.000 (tujuh ribu) orang guru yang selama ini bertugas di daerah Kabupaten Kampar. Ancaman sang kepala daerah ini dipicu aksi para pahlawan tanpa tanda jasa yang melakukan aksi mogok mengajar karena merasa dilecehkan dengan pengusiran sang bupati terhadap salah seorang kepala sekolah. Aksi mogok para guru ini didukung oleh seluruh murid, orangtua murid, bahkan para pemuka masyarakat ataupun ketua adat setempat. Bukan hanya guru-guru se Kabupaten Kampar yang berdiri di belakang ke-7000 guru itu, bahkan rekan-rekan mereka sesama pengajar se Provinsi Riau pun memberi dukungan. Mereka semua sehati dan sepikir untuk menuntut kepala daerah mereka, Bupati Jefri Noer yang dinilai arogan itu untuk secepatnya mengundurkan diri dari jabatannya. Dan perjuangan para guru ini akhirnya menuai "sukses" karena DPRD Kampar telah memberhentikan bupati yang arogan itu.

Sampai di sini jelaslah bahwa sang Bupati Kampar telah membuktikan dirinya sebagai pemimpin bermental NATO, yang hanya mampu mengucapkan kata-kata berupa ancaman pemberhentian terhadap para guru. Dia, sebagai seorang pemimpin masyarakat, sama sekali tidak mau atau bahkan tidak mampu untuk menyejahterakan masyarakatnya. Sang Bupati Kampar ini bukan saja gagal dalam menjalankan tugas utamanya untuk menyejahterakan masyarakat di wilayah kekuasaannya, dia justru menjadi titik permasalahan yang hendak menghalangi kesejahteraan bagi warganya sendiri, dalam hal ini para guru yang sebenarnya sedang berjuang untuk memperoleh hak-haknya.

Di luar konteks itu, ada seorang teman yang menceritakan pengalaman barunya terjun ke lingkungan para (calon) pemimpin. Para pemimpin itu suatu hari mengadakan pertemuan yang sangat "serius" guna membahas masa depan rakyat miskin, serta rakyat tertindas yang selama ini terpinggirkan. Mereka juga sibuk memikirkan tentang pemimpin bangsa yang benar-benar sesuai dambaan masyarakat.

Setelah acara diskusi yang topiknya benar-benar memikirkan kehidupan rakyat tertindas itu selesai, mereka - para pemimpin itu - melanjutkan acara mereka di sebuah night club. Betapa kagetnya sang rekan ini, sebab di tempat hiburan malam itu bukan hanya minuman keras yang mereka nikmati tetapi juga wanita-wanita penghibur. Ketika rekan ini mempertanyakan itu semua, salah seorang dari pemimpin itu menjawab dengan enteng, "Ah, jangan pikirkan lagi itu, nikmati saja yang ada ini." Teman kita sangat bingung, dia tidak tahu harus bersikap bagaimana. Namun, ketika kepadanya disodorkan amplop (baca: uang), dia langsung terdiam seribu bahasa. Di sini amplop berhasil membuktikan dirinya sebagai benda yang memiliki kekuatan dahsyat, yang bukan saja mampu membungkam mulut seseorang, tetapi juga membunuh hati nurani manusia. Begitu drastis memang perubahan yang terjadi. Beberapa waktu lalu mereka berkutat tentang kerakyatan, sekarang mereka berasyik-masyuk dengan kebejatan.

Lahirnya pemimpin yang ber-kaliber NATO, tentu tidak lepas dari peranan amplop ini. Sebab bukan cerita baru lagi jika dalam sebuah acara pemilihan pemimpin daerah, lagu yang terdengar menggema adalah tentang money politics. Para wakil rakyat yang mendapat kepercayaan memilih pemimpin, seakan kompak mendendangkan lagu "wajib" berjudul Maju Tak Gentar Membela yang Bayar.

Namun sebenarnya, di luar pemimpin produk NATO tadi, ada juga pemimpin yang benar-benar sesuai dambaan rakyat. Tetapi sayang, pemimpin-pemimpin seperti ini tidak mengeluarkan suara yang keras seperti para pemimpin berlabel NATO tadi. Meski demikian, kepada Anda, para pemimpin yang bukan NATO, tidak usah takut untuk bersuara lantang menyuarakan kebenaran. Percayalah, rakyat banyak yang selama ini sudah lama tertindas selalu siap sedia men-support Anda.

Majulah terus, jangan gentar terhadap siapa saja. Tetapi - sekali lagi - Anda harus memastikan bahwa Anda bukanlah pemimpin yang NATO.

Komentar


Group

Top