Fiksasi Rohani 2

“Ketika aku kanak-kanak, aku berkata-kata seperti kanak-kanak, aku merasa seperti kanak-kanak, aku berpikir seperti kanak-kanak. Sekarang sesudah aku menjadi dewasa, aku meninggalkan sifat kanak-kanak itu.” 1 Korintus 13:11

 Harry Puspito
(harry.puspito@yahoo.com)*

Kita sedang membicarakan tentang perjalanan iman menuju kedewasaan hidup dengan suatu kemungkinan pola dari kesadaran akan Allah yang mengubah hidup, pembelajaran, pelayanan, perjalanan ‘ke dalam’, perjalanan ‘keluar’, dan transformasi ke dalam kasih. Dan kita sudah membahas dalam tulisan sebelumnya bahwa dalam berbagai tahap pertumbuhan rohani itu, seseorang bisa mengalami ‘fiksasi’ atau kemandegan rohani, yaitu terjebak dalam suatu tahap dan tidak bergerak ke tahap berikut, sehingga dia memperlihatkan sikap dan perilaku fiksasi tahap tertentu, yang tidak wajar untuk seseorang untuk tahap pertumbuhan yang diharapkan terjadi.
 Ilustrasi Paulus dalam 1 Korintus 13:11 menggambarkan fenomena itu.  Anak-anak yang sehat adalah yang merasa, berpikir dan berperilaku seperti anak-anak. Menjadi tidak sehat ketika seorang yang secara umur sudah dewasa tapi masih berperilaku seperti anak-anak. Sudah barang tentu tahapan pertumbuhan manusia lebih berjenjang dari lahir hingga tua, yang di mata awam melalui masa-masa bayi, anak-anak, remaja, dewasa, dan usia lanjut. Demikian juga dalam perkembangan kerohanian, seseorang yang bertumbuh secara sehat akan mengalami perubahan-perubahan yang sesuai dengan tahap pertumbuhannya. 
 Kalau pada tulisan yang lalu kita sudah mengamati fiksasi orang percaya pada tahap awal, yaitu pada masa “pertobatan” atau kesadarannya akan Allah yang mengubahkan dia, kita sekarang mencoba melihat gejala fiksasi ini pada tahap yang lebih lanjut. Ketika seseorang “dilahir-barukan” secara sehat di tengah lingkungan yang kondusif, maka dia akan masuk dalam tahap “pembelajaran” atau kita sering gunakan jargon “pemuridan”.  Menjadi murid adalah bertindak, biasa bergabung dengan suatu kelas atau kelompok pemuridan; di samping belajar secara pribadi. Belajar banyak dijalani melalui pemimpin yang dihormati.
 Pada tahap ini dia seolah-olah mendapatkan jawaban atas semua pertanyaan-pertanyaan hidupnya. Apa tujuan hidup saya? Bagaimana saya harus menjalani kehidupan ini? Apa yang tidak boleh saya lakukan, apa yang harus saya lakukan sebagai orang percaya ? Kapan saya harus berdoa? Mengapa saya harus beribadah di gereja, tidak cukup berdoa di rumah atau mengikuti ibadah melalui televisi? Dan seterusnya. 
Dia mendapatkan teladan dari pada pembina dan senior tentang bagaimana seharusnya menjalani kehidupan ini. Dia banyak mengubah gaya hidupnya dan meninggalkan berbagai hal yang dulu dia lakukan karena kebiasaan lama. Dia menjadi kritis dengan apa yang dia lakukan. Kemudian dia merasa telah melakukan yang benar. Sering dia merasa lebih benar daripada orang-orang percaya lain, atau daripada mereka dari gereja atau denominasi lain apalagi dibandingkan dengan mereka yang belum mengenal Tuhan. Dia merasa menjadi suatu bagian dari komunitas barunya, apakah itu gereja atau persekutuan tertentu dimana dia terlibat di dalamnya. Titik tertentu dia merasa aman dan pasti di dalam iman yang dia yakini dan pelajari itu.
Tahap belajar juga memiliki potensi menghentikan pertumbuhan rohani seseorang. Ketika seseorang belajar Firman terpola sekedar mengisi pikirannya tanpa melakukan apa yang dipelajari maka imannya tidak hidup dan karenanya terhalang untuk bertumbuh lebih lanjut. Ketika seseorang belajar terlalu banyak dan tidak mengelolah kesempatan untuk menerapkan kebenaran yang dia pelajari, dia sedang menghambat pertumbuhan imannya. Sistim pembelajaran di gereja-gereja yang lebih mengisi kepala seseorang, dan tidak mendorong orang mempraktekkan potensi menghambat pertumbuhan rohani jemaat.
Orang yang yang macet dalam tahap belajar ini akan tampak fasih berbicara tentang kebenaran tapi orang tidak melihat dia menjalani.  Dia bisa kelihatan kaku dalam kebenaran. Mengeritik  orang lain, para pemimpin, bahkan pendeta setempat; menuntut orang lain melakukan Firman, walau dirinya sendiri belum tentu. Orang demikian bisa memiliki sikap “kita melawan mereka” karena menganggap kelompoknya yang paling benar. Dia atau kelompoknya sendiri yang paling benar, sedangkan kelompok lain dipandang kurang benar, tidak memahami Alkitab dengan benar. Dia sering menutup pintu kepada orang lain yang tidak dari tempatnya. Kemungkinan lain, orang yang mandeg dalam tahap belajar ada kecenderungan berpindah-pindah gereja atau persekutuan untuk mengejar “kebenaran” dan seringkali mereka mengejar pembicara-pembicara tertentu yang dia kagumi. Dia terus mencari dan terus tidak merasa cukup belajar untuk melakukan sesuatu.
Jika kita sedang dalam tahap pembelajaran ini, sebenarnya bagaimana kita bisa masuk ke tahap pertumbuhan berikutnya – yaitu tahap melayani. Kita seyogyanya berdoa meminta keberanian dari Allah untuk melangkah dan mengambil resiko. Kita harus segera berani menerima orang lain dan melayani orang lain sesuai dengan talenta dan karunia rohani serta kesempatan yang ada, yaitu yang Tuhan bukakan. Pelayanan harus segera menjadi gaya hidup kita.
 Karena itu tanda-tanda kita sudah masuk dalam tahap ini adalah dimulai dari pengenalan terhadap keunikan diri yang menunjukkan di mana tempat kita di dalam tubuh Kristus (Baca: jemaat, gereja atau persekutuan) dan di masyarakat. Kita semakin mengenali talenta-talenta dan karunia rohani yang Tuhan percayakan kepada kita untuk ambil bagian dalam pembangunan tubuh Kristus. Orang demikian akan melihat dirinya sebagai seseorang yang memiliki kontribusi. Dia mencari tanggung-jawab dan ambil bagian dalam pelayanan. Tuhan memberkati!
 

Recommended For You

About the Author: Harry Puspito

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *