Manajemen

Dark Night Of The Soul

Penulis : Harry Puspito | Tue, 30 July 2013 - 12:16 | Dilihat : 5088

Harry Puspito
(harry.puspito@yahoo.com)*

Dalam perjalanan imannya bisa dipastikan seseorang menjalani tahap di mana dia mengalami kebingungan. Hidup yang selama ini bisa diprediksi dan dinikmati bersama Tuhan seperti menjadi asing. Doa-doa yang selama ini terasa didengar Tuhan dan mendapatkan jawaban yang dia pahami sekarang seperti membentur tembok. Allah seperti tidak mendengar doa lagi. Padahal dia menjalani kehidupan yang seperti biasanya. Tidak terasa dia melakukan dosa besar yang membuat Tuhan harus demikian marah dan membiarkan dia. Terlebih dia masih terus rajin melayani. Hidup menjadi kehilangan kepastian. Tuhan yang tadinya seperti sangat dikenali menjadi terasa asing.
Orang bisa mengalami krisis yang demikian hebat pada tahap kehidupan di mana dia begitu bersemangat dengan Tuhannya. Entah didiagnose sakit berat seperti kanker, kelainan jantung; mengalami kecelakaan yang parah; atau perusahaan tempat dia bekerja mengalami kebangkrutan; atau anak yang tahu-tahu terlibat dalam konsumsi narkoba; pasangan yang meninggalkan atau berselingkuh; anak yang melawan; belum atau tidak mendapatkan anak setelah cukup lama menikah; dan sebagainya terjadi begitu saja. Arah hidup menjadi goyah.
Jika Anda mengalami hal seperti ini, Anda tidak sendiri. Anda sedang mengalami apa yang oleh seorang bapa gereja – Saint John the Cross - sebutkan sebagai ‘the dark night of the soul’ (sisi gelap jiwa) atau oleh Peter Scazzero dalam bukunya yang berjudul “Emotionally Healthy Spirituality” (2006) sebagai“the wall” atau tembok. Contoh kejadian seperti itu di dalam Alkitab adalah pengalaman hidup Ayub, ketika tidak ada angin tidak ada hujan tahu-tahu harus mengalami kehilangan semua ternaknya, semua anaknya, dan kesehatannya.
Ini bukan cobaan ringan yang kita alami sehari-hari, seperti terjebak dalam kemacetan lalu lintas, penerbangan yang ditunda, sakit flu, dikitik seseorang dalam suatu rapat, dan sebagainya. Krisis berat ini menjungkir-balikkan hidup kita, hidup Ayub dan siapapun yang mengalaminya. Kita dibuat bingung. Tapi inilah bagian dari pengalamanan hubungan kita dengan Allah. Alkitab sudah memberikan contoh dalam kehidupan banyak tokoh tapi juga peringatan. 1 Petrus 4:12, misalnya, mengatakan “Saudara-saudara yang kekasih, janganlah kamu heran akan nyala api siksaan yang datang kepadamu sebagai ujian, seolah-olah ada sesuatu yang luar biasa terjadi atas kamu.”
Celakalah kalau kita tidak bisa memahami dan menerima kenyataan ini karena kita akan bertemu dengan tembok kehidupan kita ini sepanjang hidup kita. Karena itu penting kita memahami kata Alkitab tentang hidup kita secara utuh, tidak sepotong-potong di mana di dalamnya ada banyak bagian tentang masalah penderitaan dan tembok kehidupan ini.
St. John menulis mengenai The Dark Night of the Soul dalam kaitannya dengan “perkembangan kerohanian” – pertumbuhan kerohanian roh manusia sepanjang waktu dan cara-cara yang tidak terbatas di mana RK bekerja dalam diri orang tersebut pada waktu-waktu yang berbeda. Tampaknya menjadi metode Allah untuk menggunakan penderitaan dalam rangka membentuk anak-anak-Nya menjadi pribadi-pribadi sesuai dengan rencana Agung-Nya. Dalam proses ini paling tidak ada “7 dosa maut” yang Tuhan mau bersihkan dari para hamba-Nya, yaitu kesombongan, serakah, kenyamanan, amarah, rakus, iri hati dan kemalasan rohani. Bagi Saint John dosa-dosa ini sangat bernuansa rohani. Misalnya, yang dimaksud kesombongan dalam kelompok dosa ini adalah kesombontan rohani, yaitu merasa puas dan bangga dengan pelayanannya, dengan kerohanian sendiri yang tersembunyi. Percaya bahwa pelayanannya menjadikan kerohaniannya berbeda. Mungkin kita menyebut mencuri kemuliaan Allah, merasa menjadi Allah sendiri daripada hamba Allah. Dia ingin para hamba-Nya tetap rendah hati, walaupun secara rohani sudah menjadi dewasa – kerendahan hati menjadi tanda kedewasaan, dan Dia memakai dia dengan luar biasa – mempengaruhi hidup orang lain.
Untuk membangun kerohanian umat-Nya, Roh Kudus secara rahasia mengerjakan suatu pekerjaan dalam roh manusia – suatu pekerjaan yang mendalam tapi terasa demikian asing bagi pengalaman orang Kristen sehingga sering diartikan sebagai ketidak-hadiran Allah. Sebenarnya di sana terjadi misteri di mana kemauan kita bertemu dengan kemauan Allah, muka dengan muka. Allah menangani kita secara pribadi. Dia mengirimkan “the dark night of loving fire” untuk membebaskan kita dari ikatan-ikatan yang membelenggu kita dan pengerasan-pengerasan dosa atau duniawi yang terbentuk dalam diri kita. Allah sedang mentransformasi dan mengembalikan arah hidup kita sesuai dengan kehendak-Nya. Dia menanamkan kasih ke dalam jiwa kita dan mengubah kita menjadi seperti Kristus yang seutuhnya.
Menghadapi tembok iman kita itu, kita perlu mengenali dan menghadapi realitas dan fakta-fakta tembok ini. Kita perlu terus memelihara iman dan membuat keputusan-keputusan yang bijaksana dan berani. Mungkin kita perlu pindah tempat bekerja; mungkin kita perlu memutuskan untuk memberikan perhatian kepada keluarga; atau kembali memberi waktu saat teduh yang cukup dan berkualitas. Kita perlu menerima rencana Allah bagi hidup kita. Kita harus berani menerima ketidak-nyamanan yang terjadi karena Allah yang tidak bisa kita kurung dalam “kotak iman” kita dan mengijinkan Dia melakukan kehendak-Nya. Kita perlu berserah, mencari pengampunan kalau ada dosa yang disadari, mencari pemulihan hubungan, mencairan kekerasan-kekerasan di dalam diri kita. Kita perlu sering menyendiri dan merefleksikan hidup kita di tengah kesibukan hidup itu sendiri. Penting untuk menjaga relasi yang intim dengan Sang Pencipta, agar kita lebih mudah memahami Dia dan apa yang sedang Dia lakukan di dalam hidup kita.
Tuhan memberkati!

Lihat juga

jQuery Slider

Komentar


Group

Top