Manajemen

Setelah Tembok

Penulis : Harry Puspito | Thu, 5 September 2013 - 12:24 | Dilihat : 2804

Harry Puspito
(harry.puspito@yahoo.com)*

Perjalanan iman orang percaya akan membawa kepada suatu tahap yang oleh John The Cross, seorang bapa gereja, sebagai Dark Night of the Soul atau oleh Peter Scazzero, gembala Gereja ‘New Life’ di New York, sebagai ‘the wall’ atau kita terjemahkan ‘tembok’ atau ‘dinding’. Topik ini sudah kita bicarakan pada tulisan sebelumnya, dan secara ringkas menggambarkan suatu proses anugerah Tuhan untuk membentuk anak-anak-Nya, secara khusus yang terlibat dalam pelayanan, dengan membersihkan karakter dan motivasi hidup dan pelayanan dan menanamkan kasih dalam jiwa mereka. Pengalaman-pengalaman sejumlah tokoh Alkitab mengilustrasikan proses ini, seperti ketika Ayub kehilangan semua harta, anak-anak dan kesehatannya; Musa yang harus lari dari Mesir dan menjadi gembala di padang selama 40 tahun; Daud yang harus lari dari Saul setelah berjasa membunuh Goliat dan mengembara selama 13 tahun. Pada akhirnya Allah, pada waktunya, akan memindahkan kita dari ‘tembok’ itu.
Bagaimana dampak benturan dengan tembok itu terhadap orang percaya yang telah melampauinya? Menurut Peter, pertama, kita akan memiliki hati yang lebih ‘hancur’ di hadapan Allah. Yesus menyebutnya sebagai ‘miskin di hadapan Allah’ (Matius 5:3) dan orang demikian dikatakan berbahagia atau diberkati karena mereka yang memiliki kerajaan Allah. Mereka kehilangan kesombongan karena sadar akan ketidak-berdayaannya. Proses ‘dark night of fire’ ini antara lain memang membersihkan orang dari ‘dosa maut’ kesombongan – kecenderungan manusia berdosa ketika dia bisa melakukan sesuatu termasuk melakukan sesuatu untuk Tuhan atau melayani Tuhan.
Hati yang hancur menjauhkan orang dari sikap dan perilaku menghakimi orang lain. Orang dengan kesombongan memang melihat orang lain dengan mata menghakimi karena melihat dirinya lebih dari mereka. Ketika hati hancur tertabrak ‘tembok’, tidak bisa lagi dia melihat dirinya layak menjadi ‘seorang hakim’.
Hati yang hancur juga membuat orang tidak mudah tersinggung. Orang dengan kesombongan saja yang mudah tersinggung, karena memandang dirinya adalah seseorang yang memiliki sesuatu yang tidak dimiliki orang lain. Karena itu dia memiliki harga diri yang tinggi. Ketika orang tidak memandang dirinya, maka dia akan merasa tersinggung.
Hal kedua yang terjadi paska seseorang membentur tembok Tuhan adalah kemampuan mengapresiasi yang lebih lebih besar terhadap hal-hal yang bersifat misteri atau tersembunyi. Dia lebih bisa menerima suatu kehidupan yang banyak tidak terpahami oleh nalar. Allah kita memang memperkenalkan diri melalui Alkitab dan melalui Yesus, namun Dia tetap adalah Allah yang tidak terpahami oleh pikiran manusia ciptaan yang terbatas. Kita sering mendengar ungkapan bahwa Allah kita imanen tapi sekaligus Dia adalah Alah yang transenden. Allah yang dekat tapi sekaligus jauh. Allah bisa kita kenal karena memang memperkenalkan diri-Nya dan membuka diri untuk berelasi dengan umat yang dikasihi-Nya, namun Dia tetap adalah Allah yang tidak dapat kita kenali. Allah menjanjikan tinggal dengan kita (Yohanes 15:4) tetapi Dia adalah Allah yang sama sekali berbeda dengan kita manusia yang berdosa. Satu buah dari ‘tembok’ itu adalah seperti anak-anak yang menyukai misteri. Sikap ini adalah cerminan hidup dengan iman kepada kebaikan Tuhan, yang karena itu kita tidak perlu tahu semua gerak-gerik dan pikiran-Nya untuk percaya dan menikmati hidup bersama Dia.
Sejalan dengan kemampuan hidup dalam misteri Tuhan, seseorang yang ‘lulus’ dari benturan tembok-tembok hidupnya akan memiliki kemampuan menunggu Allah bertindak yang lebih. Alkitab menyatakan bahwa satu aspek dari buah Roh yang Dia kerjakan dalam diri orang percaya adalah ‘kesabaran’ (Galatia 5:22). Arti umum sabar adalah mampu menghadapi kesulitan-kesulitan dan cobaan-cobaan dengan tenang atau tanpa mengeluh. Hidup Musa adalah suatu contoh. Dia mengalami tembok ditolak oleh bangsanya sendiri dan karena membunuh orang Mesir dia harus lari dari kemewahaan hidupnya di Mesir dan tinggal di padang selama 40 tahun. Di sana Allah mengubah Musa menjadi seorang pemimpin dengan hati yang paling lembut di muka bumi (Bilangan 12:3). Tuhan memiliki waktu sendiri dan kita perlu menyesuaikan diri dengan waktu Tuhan itu, bukan sebaliknya. Mazmur 27:14 mengatakan: “Nantikanlah TUHAN! Kuatkanlah dan teguhkanlah hatimu! Ya, nantikanlah TUHAN!”
Hal lain yang terbentuk dalam orang yang berhasil melampaui ‘Dark Night of the Soul’-nya adalah kemerdekaan rohani yang lebih besar. Sebagai manusia kita terikat dengan banyak hal yang menjauhkan kita dari Tuhan, misalnya dengan harta tertentu, orang-orang tertentu, keluarga, suatu hobi, pekerjaan, kebiasaan-kebiasaan, dsb. Kita takut kehilangan hal-hal tertentu ini dan hal-hal tertentu ini bisa menjadi ‘berhala’ karena kita lebih berikan prioritas daripada Tuhan sendiri. Tembok-tembok kehidupan kita, apakah itu penyakit yang terminal, kehilangan-kehilangan, penolakan oleh orang-orang dekat, dsb mengingatkan bahwa kita di dunia ini sebenarnya hanyalah seorang ‘musafir’, pengembara dalam perjalanan menuju kekekalan. Keterikatan-keterikatan itu akan membuat kita berat dalam perjalanan menuju tujuan akhir hidup kita. Sebenarnya keterpisahaan itu adalah rahasia hidup dengan damai karena kita tidak bergantung kepada yang lain kecuali Tuhan. Tuhan memberkati!!!

Lihat juga

jQuery Slider

Komentar


Group

Top