Konsultasi Theologi

Dosa Yang Tidak Terampuni

Penulis : Pdt Bigman Sirait | Mon, 4 November 2013 - 12:44 | Dilihat : 6117
Tags : Doktrin Dosa Doktrin Roh Kudus

Terkait


Pdt. Bigman Sirait

Follow  @bigmansirait

Syalom Pak Pendeta!
Saya mau bertanya:
1. Di dalam Markus 3: 28-29 dan Lukas 12:10 ada tertulis ketika melawan Anak Manusia, ia akan diampuni; tetapi menghujat Roh Kudus, ia tidak akan diampuni? Mengapa demikian? Bukankah Yesus dan Roh Kudus, adalah satu? Lalu mengapa bisa berbeda dalam hal ini?
2. Apakah ada dosa yang tidak diampuni? Bukankah Allah Maha pengampun dan pengasih?
Terimakasih, Pak Pendeta!

Louis, PondokGede

Louis yang dikasihi Tuhan, ini pertanyaan yang penting, karena  juga menimbulkan banyak kebingungan. Disini kita perlu memperhatikan konteks pembicaraannya agar tidak terjebak pada kesalahpahaman. Dengan meneliti kita akan bisa memahaminya lebih tepat sesuai pesan Alkitab.
Markus 3:20-30, jelas merupakan perikop yang menceritakan perdebatan Yesus dengan para ahli taurat, yang menuduh Yesus memakai kuasa Beelzebul dalam mengusir setan. Begitu sengitnya penolakan ahli taurat kepada Tuhan Yesus, sehingga menyampaikan tudingan yang sangat menyakitkan. Yesus menjawab dengan lugas: Bagaimana iblis mengusir Iblis? Artinya, Yesus menegaskan diri-Nya bukanlah pengikut iblis (Beelzebul), bahkan sebaliknya, Dia adalah musuh besar iblis. Ahli taurat yang memutar balik fakta itulah yang anak iblis, karena memang itulah kebiasaan iblis, bapa pendusta (band.Yohanes 8:44). Tuduhan sengit ini menunjukkan ketidakpercayaan ahli taurat kepada Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat yang hidup.
Berangkat dari diskusi ini, dimana ahli taurat mengambil posisi melawan Yesus sebagai wujud ketidakpercayaan, lahirlah ucapan ini: Sesungguhnya semua dosa dan hujat anak-anak manusia akan diampuni, ya semua hujat yang mereka ucapkan. Tetapi apabila seorang menghujat Roh Kudus, ia tidak mendapat ampun selama-lamanya, melainkan bersalah karena berbuat dosa kekal. (Markus 3:28-29). Lalu dijelaskan, Yesus berkata demikian karena mereka katakan bahwa Ia kerasukan setan. Alasan ucapan Yesus jelas tertulis. Ahli taurat tidak percaya, dan menyebut Yesus sebagai pengikut setan. Jelas sekali salah! Namun ketidakpercayaan kepada Yesus ini terjadi sebelum kematian dan kebangkitan Yesus Kristus. Jadi, jelas sekali menunjuk pada waktu sebelum penggenapan penebusan di atas kayu salib. Injil Lukas memasukkan ayat ini sebagai ajaran yang khusus.
Penolakan ahli taurat kepada Yesus, bahkan tuduhan pengikut setan, masih ada waktu untuk menyadari dan mengakuinya. Karena itu dikatakan, diampuni, masih ada waktu meminta pengampunan. Yesus masih ada di dunia, belum disalibkan, pengampunan masih terbuka bagi mereka. Dalam peristiwa penyaliban Yesus Kristus ada dua orang yang mengaku percaya, yaitu satu penyamun di samping Yesus Kristus (Lukas 23:42) dan kepala pasukan (Matius 27:54). Mereka juga tak percaya pada Yesus Kristus, namun pada akhirnya, di peristiwa salib mereka menyadari dan mengakui-Nya. Begitu juga bagi para ahli taurat, jika mereka menyadari dan mengakuinya. Sayangnya, memang tak tercatat para ahli taurat menyadari dan berbalik kepada Kristus, kecuali Nikodemus.
Nah, soal menghujat Roh Kudus, dosanya tidak terampuni, itu menunjuk kepada penolakan yang terus-menerus. Artinya, ketika Yesus Kristus mati, bangkit, dan naik ke surga, namun mereka tetap tidak percaya. Ingat Petrus, dia pernah menyangkal Yesus, namun menyadari dan kembali kepada iman kepada Yesus Kristus dan terus setia melayani. Yohanes 16:8-11, dengan jelas mengatakan bahwa Roh Kudus akan menginsafkan manusia akan dosa karena tidak percaya kepada Yesus Kristus. Artinya mereka yang tadi tidak percaya, menghujat Yesus kristus, masih ada kesempatan pengampunan. Roh Kudus menginsafkan mereka. Namun jika mereka tetap mengeraskan hati, tidak mau percaya, bahkan menolak terus-menerus suara Roh Kudus, maka dengan sendirinya matilah hati nurani mereka. Mereka tetap tidak percaya, maka jelas dosanya tidak akan terampuni (kekal). Kesempatan yang diberikan oleh Roh Kudus adalah terakhir (final), sekaligus menjadi pembuktian betapa bebal, dan keras hatinya mereka yang tetap tidak percaya, sekalipun Yesus Kristus telah mati, bangkit, dan naik ke surga.
Louis yang dikasihi Tuhan! Itulah yang dimaksud menghujat Kristus masih ada pengampunan, namun jika Roh Kudus menyadarkan bahwa menolak Kristus adalah salah, namun mereka tetap keras hati, maka dosa mereka tidak terampuni. Ini sekaligus menjelaskan bahwa tidak ada perbedaan antara Yesus Kristus dan Roh Kudus. Ini sama sekali tidak menggambarkan bahwa menghujat Roh Kudus lebih berat dari menghujat Yesus Kristus. Jangan lupa, Alkitab dengan jelas berkata:Tidak ada keselamatan di luar Yesus Kristus (Yohanes 3:16, 14:6, Kisah 4:11-12). Dan juga, tidak ada orang yang bisa percaya kepada Yesus, selain oleh karena Roh Kudus (Yohanes 16:8, 1 Korintus 12:30). Jadi, ini hanya masalah urutan proses percaya saja, namun ada dalam satu kesatuan keselamatan.
Sementara pertanyaan apakah ada dosa yang tidak bisa diampuni, padahal Allah maha pengampun dan pengasih? Jika kita membaca Alkitab dengan teliti, jelas dikatakan, sekalipun dosamu merah seperti kirmizi akan menjadi putih seperti salju (Yesaya 1:18). Artinya, pengampunan Allah itu maha. Yesus Kristus mati di atas kayu salib karena dosa-dosa kita, adalah wujud kasih-Nya yang maha. Jadi jelas sekali, tidak ada dosa yang tidak bisa diampuni-Nya. Dari PL hingga PB, kasih Allah itu nyata, bergerak jelas menuju penggenapan nubuat dalam Yesus Kristus Tuhan. Jika pertanyaan ini dikaitkan dengan isu dosa tidak terampuni, hati-hati memahaminya.
Mari kita perhatikan kembali. Dosa tidak terampuni, bukan karena Allah tidak mengampuni, ini harus jelas dulu. Tetapi, ini karena manusia yang mengeraskan hati terhadap suara Roh Kudus, sehingga terus-menerus menolak pengampunan, dan akibatnya dosanya tidak terampuni. Ingat, bukan karena Allah tidak mengampuni, tetapi manusia berdosa yang bebal, yang tidak mau menerima kesempatan pengampunan. Jadi isunya amat sangat jelas, bukan Allah yang tidak maha pengampun. Tetapi benar bahwa manusia berdosa maha bebal.
Keselamatan adalah kedaulatan Allah, Dia akan mengerjakan dalam kuasa-Nya. Kebebalan manusia adalah wujud keberdosaan yang mematikan, sementara orang percaya akan dapat dilihat pada buah hidupnya. Allah maha kuasa, itu pasti. Tapi jangan lupa, Allah juga maha suci, dan menuntut manusia hidup suci dihadapan-Nya. Dia Allah yang murka pada dosa, tapi mengasihi manusia pilihan-Nya. Tampaklah nyata mana manusia pilihan dan bukan. Kita ada dimana? Semoga senantiasa mawas diri, dan kerjakanlah keselamatanmu.
Akhirnya Louis yang dikasihi Tuhan, kiranya jawaban ini boleh menjadi berkat bagi kita, dan banyak orang. Tuhan memberkati.

Lihat juga

Komentar


Group

Top