NATAL DAN KEKUASAAN

Penulis : Bigman Sirait | Mon, 3 February 2014 - 12:56 | Dilihat : 1848
Tags : Artikel Natal

Pdt. Bigman Sirait

Follow Twitter @bigmansirait

Kekuasaan sangat memabukkan, membuat orang rela membayar berapapun harganya. Bukan saja materi, bahkan persahabatan juga bisa jadi korbannya. Segala cara jadi halal, demi kelanggengan kekuasaan. Amat sangat langka menemukan orang yang dengan rela, dalam kesadaran sendiri melepaskan kekuasaan, ketika waktunya tiba. Semua orang selalu merasa masih mampu menjalankan kekuasaan, tapi sejatinya, terlalu cinta, terikat dan sulit melepaskannya. Kekuasaan telah banyak “memakan korban” para pencintanya. Mereka menjadi lupa diri, lupa persahabatan, bahkan lupa ber-Tuhan. Kekuasaan sangat nikmat duniawi. Sekali duduk di singgasana kekuasaan, orang lupa berdiri, itu sindiran yang sangat pas menggambarkan daya magis kekuasaan.
Kekuasaan itu pula yang mewarnai natal sehingga berdarah-darah. Adalah Herodes Agung, raja orang Yahudi, raja boneka Roma, pelaku utamanya. Kepiawaian bertempur dan pengabdian Herodes membuat dia menerima gelar dari Roma, yaitu raja orang Yahudi. Selama 33 tahun kekuasaannya, Herodes tercatat sebagai raja boneka yang setia kepada Roma dengan prestasi tinggi. Namun sebagai pribadi, Herodes terkenal paranoid, pencuriga parah. Dan, karena kecurigaannya, dia tak segan-segan menyingkirkan anggota keluarganya, bahkan istrinya sendiri, yakni Mariamne. Keluarga besar Hasmonae, yaitu keluarga istrinya Mariamne, dibasmi habis oleh Herodes. Tak berhenti sampai di situ, sikap pencuriga Herodes membuat anak kandungnya sendiri, Aleksander dan Aristobulus, dihukum mati, atas laporan saudara tiri sendiri. Namun, tak lama kemudian Antipater yang memfitnah saudara tirinya, juga dihukum mati oleh Herodes, juga karena balik dicurigai. Raja paranoid ini memang tergolong sadis menghabisi orang yang dicurigainya mengganggu kekuasaannya. Kecintaan pada kekuasaan, dan sikap paranoidnya yang menggila, telah membuat tahtanya penuh noda darah. Kekuasaan membuat orang mabuk, dan melintas batas manusiawi. Tak ada yang rela turun, tapi bersemangat menurunkan.
Berbanding terbalik dengan peristiwa natal. Ya, natal adalah peristiwa besar dimana Yesus Kristus, Raja Diraja, Penguasa surga, rela turun ke dunia. Meninggalkan tahta-Nya, melepas kekuasaan-Nya.  Sangat mencengangkan, tapi ironisnya, tak ada yang mengapresiasinya. Tindakan yang sama sekali tak popular, tak disukai, bahkan dianggap sebagai sebuah kebodohan, itulah pandangan manusia di sepanjang masa. Dalam Filipi 2:6-8, rasul Paulus mengungkapkan betapa Yesus Kristus yang dalam rupa Allah, setara dengan Allah, namun tidak mempertahankannya, bahkan sebaliknya, dengan rela Dia mengosongkan diri-Nya, menjadi sama dengan manusia. Dia menyangkali ke Illahian-Nya, melepas kekuasaan-Nya, menjadi sama dengan ciptaan-Nya yang terbatas dan terkurung dalam ruang dan waktu. Inilah semangat natal yang sejati. Rela melepas kekuasaan demi sebuah damai bagi orang yang diperkenan-Nya. Betapa luhurnya sifat natal. Andai saja semua orang yang menyebut dirinya Kristen memiliki sifat natal, betapa indahnya kehidupan bumi. Natal menunjukkan betapa kekuasaan bukanlah segala-galanya. Natal mengajar kita untuk memenangkan kehidupan justru dengan melepas kekuasaan. Keunggulan iman Kristen yang harus dipahami dengan tepat, dan tidak terjebak dalam kekonyolan sikap melepas karena tak mampu. Awas, jangan tergelincir memaknainya, sehingga membiarkan kejahatan tak dihukum.
Sisi lain kisah natal juga dihadirkan di hadapan kita, betapa Herodes yang gila kekuasaan, tak mampu mendengar berita tentang adanya Raja Yahudi  yang baru lahir. Apalagi dibawa oleh orang majus dari timur yang dikenal bijaksana, ke istananya (Matius 2:1-12). Istana adalah tempat yang tepat untuk menanyakan berita kelahiran seorang raja. Roh Kudus melalui bintang telah memimpin perjalanan mereka, dan membawa mereka ke istana yang kelak menjadi makna tersendiri dalam peristiwa natal. Herodes amat sangat terkejut atas pertanyaan para Majus. Dan, yang paling pasti amat sangat merasa terancam. Bukankah dirinya adalah satu-satunya orang yang bergelar raja Yahudi, yang dianugerahkan oleh kekaisaran Roma! Gelar yang didapatnya dengan susah payah, kini ada yang memilikinya? Jelas keterkejutan besar. Para imam dan ahli taurat dikumpulkan untuk mencari tahu di mana lahirnya Sang Raja? Imam dan ahli taurat, memang piawai dalam keilmuannya, tak sulit bagi mereka menterjemahkan pesan nabi Mikha. Betlehem itulah tempatnya. Ini sangat berbeda dengan Yerusalem sebagai pusat kekuasaan, sementara Betlehem hanyalah sebuah kota kecil, jauh dari gambaran daerah kekuasaan. Tapi di sanalah Raja Yahudi, Yesus Kristus lahir.     
Mirisnya, setelah memberitahukan tempat Mesias, Raja Yahudi  lahir, para imam dan ahli taurat tak bergegas menuju Betlehem. Mereka menetap di istana, di Yerusalem, tempat pusat kekuasaan. Tampaknya para imam, ahli taurat, cinta mati pada kekuasaan, seperti pelayan masa kini yang cinta mati pada materi. Ah, betapa rohaninya jabatan mereka, tapi tidak hatinya. Kekuasaan telah membuat hati nurani mati, dan mereka terikat kuat pada bujukan nikmatnya kekuasaan. Jadi, jika imam dan ahli taurat cinta pada kekuasaan, maka tentu saja tak mengherankan jika raja Herodes yang bukan rohaniawan berpegang erat pada kekuasaan dengan segala cara. Natal telah menunjukkan kepada kita betapa buruknya wajah umat beragama. Penuh dengan ucap ayat suci, tapi hidup dalam kegelapan duniawi.
Sementara Herodes tak tinggal diam mendengar berita. Siasat diatur dengan keji, dan ketika tak berhasil maka pasukan pembunuh turun dengan perintah biadab:  Habisi anak-anak sekitar Betlehem yang berusia 2 tahun kebawah! Betlehem menjadi korban kekuasaan. Yerusalem telah menjadi pusat kekuasaan yang jauh dari Tuhan, sebaliknya hanya menjadi hamba setan. Jerit pekik para ibu meratapi anaknya tak mengurangi semangat pasukan membunuh para bayi tak bedaya. Banyaknya korban jatuh tak membuat Herodes menyesali keputusannya, bahkan bertambah murka ketika tak bisa memastikan apakah Raja Yahudi yang dicari sudah dihabisi. Dan imam, ahli taurat, tetap menjalankan ritualnya, berdoa, memuji dengan kepekatan hitamnya hati mereka. Ah, jahatnya orang yang dirasuk kekuasaan. Mereka menghalalkan segala cara, bahkan mampu berbicara seakan orang suci. Gambaran kemunafikan yang dengan mudah Anda temukan di mana saja. Terlebih dalam diri para pemimpin yang rajin membangun citra baik,padahal tak pernah bertindak nyata. Menyatakan kesedihan tapi selalu asyik dengan kesenangannya. Ah, kegilaan pada kekuasaan ternyata membangun kreativitas untuk menipu. Dan, membuat penggila kekuasaan bahkan sangat “sempurna dalam berbuat dosa”.    
Natal dan kekuasaan, adalah fakta sejarah yang tak terbantah. Menjadi pertanyaan penting, sekaligus menjadi perenungan mendalam akan sikap kita terhadap kekuasaan. Kekuasaan bukanlah barang haram yang harus dihindari, tapi harus bisa dikuasai untuk menjadi alat kebaikan. Jika kekuasaan tak terkendali, bahkan menjadi penguasa kehidupan, maka ia akan merusak seluruh sendi kehidupan. Orang percaya harus berkuasa dengan semangat natal, untuk mengabdi dan mendamaikan. Namun juga untuk menghancurkan kepalsuan, kebebalan, dan kejahatan “berjubah agama”.
Semoga semangat natal ada pada kita. Selamat hari natal.
 

 

Lihat juga

jQuery Slider

Komentar

Top