Khotbah Populer

Bapa, Ampunilah Mereka

Sun, 15 June 2014 - 14:58 | Dilihat : 2738
Tags : Artikel Jumat Agung

Terkait


Pdt. Bigman Sirait
Follow Twitter: @bigmansirait

Setiap perayaan hari Jumat Agung, ingatan kita pasti tertuju ke Bukit Golgota, di mana Yesus disalibkan. Di kayu salib, meski sudah menderita demikian hebat, Dia masih berseru-seru kepada Allah, meminta supaya orang-orang yang telah menyalibkanNya itu diampuni. “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.” (Lukas 23: 34).

Ucapan Yesus yang meminta Bapa-Nya mengampuni orang-orang yang telah menyebabkan penderitaan-Nya memang menarik untuk kita renungkan. Timbul pertanyaan: apakah orang yang menyalibkan Dia itu memang tidak tahu tentang apa yang mereka lakukan? Apakah mereka layak lolos dari tanggung jawab karena ketidaktahuan itu?

            Mereka pasti tahu apa yang mereka lakukan, karena secara sadar menuduh Yesus melakukan kesalahan. Dengan sadar pula Pontius Pilatus mengadili sekaligus mengesahkan hukuman-Nya sekalipun  kesalahan-Nya tidak ditemukan. Fakta sejarah mengatakan bahwa mereka tahu apa yang mereka lakukan, bahkan Yesus telah menjadi target. Tetapi, mengapa Yesus justru mengatakan kalau mereka tidak mengerti apa yang mereka lalukan, sehingga meminta kepada Bapa Surgawi supaya mengampuni mereka?

Dalam perspektif teologis kita bisa melihat bahwa orang-orang berdosa adalah orang-orang bodoh. Mereka disebut bodoh bukan karena tidak bisa menghitung uang. Tetapi mereka bodoh tentang kebenaran, karena dosa telah menghitamkan, meluluhlantakkan seluruh kehidupannya  sehingga tidak mampu untuk membaca, mengamati dan memahami kebenaran. Maka dapat dikatakan bahwa orang-orang yang menyalibkan Yesus itu adalah orang-orang bodoh, sebab tidak tahu siapa Yesus. Mereka bodoh karena tidak mengenal bahwa Dia adalah Tuhan. Bahkan yang lebih bodoh lagi, mereka menyalibkan juruselamat itu. Mereka sombong karena mengira telah berhasil membunuh-Nya di kayu salib.

Ahli-ahli Taurat selaku institusi resmi keagamaan tersenyum karena beranggapan mereka telah menggapai kemenangan dengan membungkam mulut Yesus yang selalu mengemukakan kebenaran – sesuatu hal yang tidak nyaman di hati dan telinga para ahli Taurat yang munafik itu. Kebenaran yang dikemukakan Yesus itu memang menggugat perilaku kehidupan mereka. Mereka memang tidak tahu apa yang mereka lakukan karena sebetulnya mereka tidak tahu siapa diri mereka. Mereka tidak tahu siapa anak Allah itu sehingga memperlakukan Dia dengan sangat hina. Orang-orang yang menyiksa Yesus itu memang terlalu bodoh untuk mengenal bahwa Dia adalah Tuhan yang hidup. Mereka tidak mengenal Yesus karena matanya telah dibutakan oleh dosa.  Jadi orang-orang yang menyalibkan Yesus itu pantas untuk dikasihani, dan itulah yang dilakukan Yesus.

Secara naluri kemanusiaan, kita tidak bisa menerima ini. Karena Dia-lah yang mestinya menghukum orang-orang berdosa. Tetapi rasa belas kasihan-Nya telah menciptakan terobosan untuk memahami posisi orang-orang yang menyalibkan itu. Rasul Paulus berkata, bahwa perang yang kita hadapi ini bukan daging dan darah, tetapi roh-roh di udara yang bisa membutakan mata manusia dalam memahami kebenaran. Dan inilah yang terjadi di Bukit Golgota.

Kita seringkali merasa diri benar, merasa diri hebat, karena dilumuri dosa yang melimpah sehingga tidak mampu memahami kebenaran. Kita yang tidak mampu mengenali kebenaran itu justru semakin jatuh ke dalam dosa yang mencekam dan menjepit kehidupan. Dosa membuat kita gelap mata sehingga tidak lagi mampu memahami eksistensi diri kita. Kita tidak mampu lagi mengenali siapa kita dan bagaimana seharusnya kita hidup.

Orang-orang berdosa merasa bangga ketika menghasilkan karya dalam keberdosaannya dan beranggapan bahwa mereka sudah menyelesaikan persoalan hidup. Mereka beranggapan kalau sudah menjadi pendeta maka bereslah semuanya. Kalau sudah menjadi anggota majelis gereja, bereslah semua. Kalau sudah menjadi seorang Kristen beres pulalah semua. Tetapi jangan lupa, peristiwa Jumat Agung di Bukit Golgota itu adalah buah karya para pemimpin agama, buah karya orang-orang yang menyebut diri mengenal Tuhan, bangsa pilihan.

Karena itu, kita pun mestinya sadar, Bukit Golgota bukan sekadar sebuah bukit memori yang kita kenang setiap merayakan Paskah, lalu menangis. Tetapi lebih daripada itu, banyak hal yang harus kita lakukan dalam kehidupan ini, yaitu bagaimana menyenangkan hati Tuhan, melakukan kehendakNya. Banyak hal yang mestinya bisa kita lakukan supaya nama-Nya dimuliakan. Tetapi, kita tidak melakukannya. Kenapa? Karena dosa telah menutup selaput mata kita sehingga tidak dapat melihat kebenaran. Tetapi kita beruntung, sebab Dia berkata, “Ampuni mereka, karena mereka tidak mengerti apa yang mereka perbuat.”

Orang yang tidak mengerti tentang apa yang mereka perbuat itu, melihat Yesus sebagai momok (hantu) yang meresahkan, musuh yang menggelisahkan, karena ucapan-ucapan-Nya yang serba terus terang menusuk ulu hati. Dia membawa kebenaran yang tidak dikemas dalam baju-baju bagus berasesoris menarik. Setiap kalimat yang meluncur dari mulut-Nya serasa menghujam jantung orang-orang munafik serta membuat marah orang yang gemar berbuat dosa, termasuk para ahli agama dan imam pada masa itu. Memang, banyak orang yang tidak senang dengan kebenaran yang sejati. Oleh karena itulah, bagi mereka, Yesus merupakan suatu masalah yang perlu segera diselesaikan.

Bagi Yesus sendiri, kematian itu bukan masalah, sebab memang untuk itulah Dia datang ke dunia ini. Dia berkata, “Memang harus ada penyesat, tetapi celakalah mereka yang menjadi penyesat itu.” Yesus harus mati, tetapi celakalah mereka yang menjadi penyebab kematian-Nya itu. Sebab dengan membunuh Yesus, mereka justru membunuh masa depannya sendiri, mereka membunuh kebenaran yang mereka kumandangkan. Sungguh suatu tragedi.

Pada hari Jumat Agung, Dia disalibkan karena kita dengan sadar berkata, “Salibkan Dia!” Dia disalibkan karena kita dengan sadar berkata bahwa Dia bukan siapa-siapa. Dia disalibkan karena dengan sadar kita berkata bahwa kitalah kebenaran itu.  Karena merasa sebagai kebenaran, kita terus-menerus menyuarakan suara Tuhan, tetapi tidak pernah melakukannya dalam kehidupan. Kita terus melakukan aktivitas agamawi secara luar biasa, tetapi jauh dari kuasa Allah. Karena itulah Yesus berkata, “Bapa, ampunilah mereka karena mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.”*

Lihat juga

Komentar


Group

Top