Manajemen

Ciri-Ciri Pengikut yang Efektif

Penulis : Harry Puspito | Sun, 25 May 2008 - 17:48 | Dilihat : 2628
SEORANG karyawan adalah ‘follower’, yang di-lead oleh atasannya. Untuk menjadi karyawan Kristen yang baik, dia harus memiliki karakteristik follower yang efektif, antara lain, integritas atau dalam bahasa sehari-hari sering disebut kejujuran.
Seperti orang lain, pekerja Kristen ketika bekerja ternyata banyak yang sering datang terlambat; memakai fasilitas kantor untuk pribadi; pelayanan, berbohong, menyogok, membeli DVD bajakan, memakai program komputer bajakan, mempromosi secara tidak benar, pilih-pilih aturan, dan lain-lain. Kita melakukannya dengan lihai sehingga tidak diketahui orang lain. Sementara kita beribadah pada hari Minggu, memberi persembahan, memberi sedekah, memberi nasihat, dan bahkan berkhotbah. Dalam diri kita ada dua spirit yang bertentangan membuahkan perilaku yang tidak konsisten. Di satu sisi kita tahu yang baik dan mau melakukan yang baik. Di sisi yang lain ada kekuatan yang membuat kita melakukan yang lain. Kita menghadapi masalah ’integrity’ yang dalam kamus didefinisikan sebagai ’the state of being complete, unified’. Kesatuan antara kata-kata dan perbuatan, antara yang kita tampilkan dengan yang di dalam hati kita; antara satu bagian dengan bagian hidup kita. Harus dibedakan antara ’memiliki’ dan ’menjadi’. Dengan dua-duanya kita bisa menampilkan diri kita di publik seperti apa yang kita inginkan tapi hanya dengan ’menjadi’ kita bisa konsisten di mana pun dan kapan pun. Integritas berbicara tentang menjadi atau karakter. Dengan memiliki integritas, kita menjadi orang yang ’otentik’. Sehingga kita tidak membedakan penampilan kita dengan hati kita; antara kehidupan pribadi dengan kehidupan publik. Integritas adalah bagian dari komitmen, yaitu sesuatu yang mau dan akan lakukan sepanjang hidup kita. Integritas dituntut oleh semua dari semua. Kita mencari pemimpin yang berintegritas, dan kita juga mencari pengikut yang demikian. Kenapa? Karena hubungan pemimpin dan pengikut dari kedua sisi dijalin melalui ‘trust’, kepercayaan. Sedangkan dasar dari kepercayaan adalah integritas. Karena itu kalau kita ingin menjadi pengikut yang efektif, kita harus membangun karakter yang berintegritas. Di samping membangun trust, seseorang yang memiliki integritas memberikan banyak nilai tambah lain. Karena dipercaya, maka dia akan memiliki pengaruh yang besar di lingkungannya. Perkataannya didengar, perbuatannya dicontoh. Dia akan berdampak pada pencapaian standar kualitas yang tinggi. Dia tidak akan membiarkan cacat dalam output pekerjaan, walaupun itu tidak terlihat oleh rekan kerja atau klien. Dengan integritas akan dihasilkan reputasi yang solid, tidak sekadar image yang rapuh, yang perlu terus dijaga. Sudah tepat banyak perusahaan mencantumkan ‘integritas’ namun pertanyaannya apa itu sungguh-sungguh komitmen manajemen sehingga manajemen rela membayar harga. Dengan integritas akan membangun hubungan yang intim. Hubungan memerlukan kepercayaan, apalagi hubungan yang intim. Ini berlaku pada level pribadi maupun corporate. Long terms partnership hanya bisa kalau ada trust, dan trust terjadi ketika kedua pihak bisa dipercaya atau berintegritas. Dan sebagai orang percaya, hanya dengan integritas kita bisa memiliki kesaksian hidup di tengah lingkungan kita. Penampilan dan image tidak akan tahan dalam tekanan situasi, godaan, dan kelemahan daging. Dengan komitmen kepada integritas kita menampilkan sebagai pribadi yang diselamatkan dan berubah, yang menarik bagi orang lain. Bagaimana kita menjadi pribadi yang berintegritas? Ini adalah usaha seumur hidup. Komitmen kita terhadap integritas harus seumur hidup. Kita harus menyadari terlalu banyak tantangan dan godaan untuk lepas dari komitmen ini, kadang kita pikir ’kali ini saja’. Kalau kita menyerah, kita kehilangan apa yang sudah coba kita bangun. Karena itu kita perlu memiliki strategi agar mampu memiliki komitmen integritas ini seumur hidup. Kalau integritas belum menjadi bagian sistem nilai kita, kita harus segera menjadikan nilai ini menjadi salah satu nilai yang kita yakini dan anut. Kalau kita mau efektif, nilai-nilai yang kita anut seharusnya ditulis dan kita baca secara teratur, misalnya seminggu sekali, ’selama-lamanya’. Kita harus menerapkan disiplin yang keras agar tidak melanggar nilai integritas itu. Artinya, jangan melakukan suatu perbuatan yang tidak sesuai (mencuri, berselingkuh, dsb.) untuk pertama kalinya. Dan, tidak melakukan perbuatan-perbuatan ini dalam kadar yang sekecil apa pun. Dengan disiplin yang ketat akan menjadikan perilaku integritas menjadi bagian dari kebiasaan hidup. Dan kita tahu kebiasaan yang efektif akan membawa kita pada kesuksesan. Secara periodik kita perlu mengevaluasi diri atau minta orang lain yang kenal baik menilai kita. Di mana kita telah konsisten tapi juga di mana kita belum konsisten– (misalnya, kita melarang anak kita merokok tapi kita sendiri merokok). Kita perlu membuat sasaran dan rencana perbaikan. Jika kita terus berusaha, dan dengan anugerah Tuhan, niscaya kita akan menjadi pribadi dengan integritas. Dan, kita akan menjadi anggota tim atau bahkan pemimpin yang efektif. Tuhan memberkati. Penulis adalah seorang partner di Trisewu Leadership Institute

Komentar


Group

Top