Manajemen

Ketidak-Puasan Ilahi

Penulis : Harry Puspito | Mon, 5 May 2014 - 13:18 | Dilihat : 1585

A divine dissatisfaction is essential for spiritual progress. Warren Wiersbe

 Harry Puspito
(harry.puspito@yahoo.com)*

Alkitab mengajar kita untuk hidup puas dengan apa yang kita terima. 1 Timotius 6:6, misalnyamengatakan: “Memang ibadah itu kalau di sertai rasa cukup, member ke untungan besar”. Dan kita diperintahkan untuk ‘mengucap syukur dalam segala hal (1 Tes 5:18). Kita tahu Tuhan bekerja dalam segala hal untuk kebaikan kita orang percaya (Roma 8:28), baik situasi yang baik maupun buruk. Karena itu, dalam keadaan apa pun kita bisa bersukacita.
Sebaliknya Alkitab mengajarkan bahwa kita tidak boleh puas dengan satu hal, yaitu dengan partumbuhan rohani kita. Mungkin seseorang mengatakan saya sudah percaya, dibaptis, setiap minggu ke gereja, belajar Firman Tuhan dari pembicara-pembicara hebat, member persembahan dan rajin melayani. Kurang apalagi? Kondisi puas diri ini tercermin dalam jemaat Laodikia, yang bahkan merasa dirinya kaya. Jemaat Laodikia merasa kaya dan merasa tidak kekurangan apa-apa (Wahyu 3:17). Ketika orang percaya puas dengan dirinya, maka dia menjadi ‘suam-suam kuku’, tidak dingin tidak panas. Allah menegur keras jemaat Laodikia atas kepuasan rohani tapi tidak ilahi mereka.
Bandingkan dengan Paulus. Dia telah melakukan audit atas hidupnya dan mendapatkan paling tidak ada tujuh hal yang dia bisa banggakan: …disunatpadahari ke-8, daribangsa Israel, darisuku Benyamin, orang Ibraniasli, tentangpendirianterhadaphukumTaurataku orang Farisi, tentangkegiatanakupenganiayajemaat, tentang kebenaran dalam menaati hukum Taurataku tidak bercacat (Filipi 3:5 – 7).
Tapi semua itu diaanggap kerugian karena pengenalan kepada Kristus. Sebaliknya Paulus menginginkan ‘mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya dan persekutuan dalam penderitaan-Nya, dimana dia menjadi serupa dengan Kristus dalam kematian-Nya, supaya dia akhirnya beroleh kebangkitan dari antara orang mati.” Namun kemudian dia mengatakan: “Bukan seolah-olah aku telah memperoleh hal ini atau telah sempurna, melainkan aku mengejarnya, kalau-kalau aku dapat juga menangkapnya, …” (Filipi 3:12).
Dalam pertumbuhan rohani Paulus tidakmembandingkan dengan orang lain atau dengan dirinya pada masa sebelumnya. Dia ‘melupakan apa yang di belakangku dan mengarahkan kepadaapa yang di hadapanku.’ Dia tidak puas dengan pengenalannya kepada Kristus karena Tuhan mengehendaki tingkat pertumbuhan yang ‘sempurna’ (Matius 5:48).Inilah yang Warren Wiersbe sebutdengan ‘divine dissatisfaction’ atau ketidakpuasan ilahi.
Kita perlu terus menerus melakukan evaluasi terhadap kerohanian pribadi. Apakah kita merasa puas dengan pertumbuhan iman kita sejauh ini? Jika demikian kita perlu berdoa memohon kasih karunia Tuhan agar dianugerahkan ketidakpuasan ilahi itu. Kepuasan diri itu sungguh berbahaya karena Tuhan tidak berkenan. Dia memasang target sempurna, oleh karenanya ketika Roh Kudus bekerja di dalam hidup kita, dan kita mengikuti proses-Nya, maka kita semestinya mengalami ‘ketidakpuasanilahi’ itu.
Apa yang Paulus lakukan dengan kedahagaan rohanin yaitu? Hal pertama yang dia lakukan adalah ‘melupakanapa yang di belakangku dan mengarahkan apa yang di hadapanku’ (Filipi 4:13). Mengingat kegagalan-kegagalan di masa lalu akan melemahkan semangat, merampas sukacita dan mencuri kemenangan. Sebaliknya mengingat-ngingat keberhasilan masa lalu akan menyebabkan puas diridan mengendorkan semangat untuk terus maju ke depan, membuat malas dan bahkan potensi membuat jatuh dalam berbagai dosa lain.
Berikut, Paulus mefokuskan kepada Kristus (Filipi 3:14). Paulus menggambarkan orang percaya sebagai pelari maraton. Ini adalah perlombaan yang berat, menempuh jarak yang jauh dan bersaing dengan banyak peserta lain. Dia perlu berlatih fisik dan teknis. Dalam perlombaan peserta maraton yang baik tidak memperhatikan pelari lain atau penonton tapi kepada ‘garis akhir’. Kita perlu memfokuskan perhatian kepada Kristus jika kita ingin memenangkan pertandingan kehidupan ini dan mencapai garis akhir.
Terakhir Paulus setia kepada tujuan hidup yang dari Allah itu dengan terus berlari-lari kepadanya.Tujuan hidupnya adalah mengenal Kristus dan kuasa kebangkitan-Nya dan persekutuan dalam penderitaan Kristus sehingga dia menjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya. Kata-kata yang digunakan dalam bahasa Yunani menggambarkan bagaimana anjing pemburu mengejar rubah mangsanya. Dia tidak akan berhenti sebelum berhasil menerkam sang rubah. Jangan lah kita meninggalkan fokus kita sebelum kita bertemu muka dengan Yesus. Dengan meneladani Paulus – melupakan yang sudah di belakang, menfokuskan perhatian kepada Kristus, dan setia pada pengejaran tujuan sorgawi itu – maka kita akan terus mengalami pertumbuhan rohani. Tuhan memberkati!!!

Lihat juga

jQuery Slider

Komentar


Group

Top