Manajemen

The Pursuit Of Happiness

Penulis : Harry Puspito | Mon, 2 June 2014 - 17:23 | Dilihat : 1200

 Harry Puspito
(harry.puspito@yahoo.com)*

Sadar tidak sadar pada akhirnya manusia mengejar kebahagiaan dalam hidup mereka. Dalam deklarasi kemerdekaan AS yang disampaikan oleh Thomas Jefferson, pengejaran kebahagiaan adalah salah satu hak warga negara AS yang sejajar dengan hak untuk hidup dan kemerdekaan.
Di beberapa negara, dipelopori oleh suatu negara kecil di Asia – Butan, pemerintah mengukur indeks kebahagiaan warganya disamping ukuran kemakmuran seperti Gross National Product (GNP) dalam indeks Gross Happiness Index (GHI). Perancis, Inggris, dll melai mengukur indeks serupa.
Tidak heran banyak tulisan dan resep yang menawarkan bagaimana hidup bahagia. Usaha-usaha manusia secara langsung atau tidak langsung berusaha menjadikan manusia bahagia. Industri-industri seperti pariwisata, entertainment, games, makanan, minuman, alcohol, dsb mengusahakan kepuasan manusia dari berbagai aspek. Pada sisi yang ekstrim manusia menciptakan produk-produk ‘jahat’ seperti rokok, alcohol, narkoba, pelacuran, judi, dsb untuk kenikmatan manusia.
Apakah manusia bahagia? Ya dan tidak. Kadang bahagia kadang tidak. Begitu hasil temuan berbagai riset. Banyak faktor mempengaruhi kebagiaan manusia. Salah satu faktor adalah umur. Hasil riset di negara maju menunjukkan kebahagiaan manusia berhubungan dengan umur mereka dalam bentuk grafik ‘U’, artinya, manusia bahagia pada usia dini, menurun sehingga titik terendah pada usia matang dengan rata-rata 46 yang sering dikaitkan dengan tahap yang disebut ‘mid life crisis’, dan naik lagi pada usia menua.
Namun secara umum manusia tidak merasa bahagia. Di AS hanya minoritas saja yang berani mengklaim bahwa mereka merasa hidupnya bahagia. Kebanyakan merasa tidak bahagia. Pengejaran kebahagiaan di luar Sang Pencipta, menurut Alkitab, akan menghasilkan kekecewaan. Sehingga tidak heran kalau kebanyakan manusia tidak dapat masuk dalam kategori bahagia.
Enam minggu sebelum meninggal, seorang reporter mewawancarai penyanyi legendaris Elvis Presley: “Elvis, ketika Anda pertama kali memulai memainkan musik, Anda mengatakan Anda ingin menjadi kaya, terkenal dan bahagia. Apakah Anda bahagia (sekarang)? Dia menjawab: “Saya kesepian seperti (di) neraka.”
Seorang Christine Onasis yang diperkirakan mampu membelanjakan USD 1 juta dolar per hari akhirnya melakukan perbuatan bunuh diri yang tragis.
Siapakah orang-orang yang paling berbahagia? Hasil berbagai survei menunjukkan ternyata orang-orang yang paling berbahagia adalah orang-orang beragama yang hidup saleh – yang digambarkan oleh media sebagai orang-orang yang menyedihkan. Orang-orang yang berbahagia ini adalah mereka yang banyak membantu orang lain melalui berbagai kegiatan.
Ketika suatu fenomena seperti pengejaran kebahagiaan itu demikian universal, bisa dipastikan itu adalah suatu bentuk, bentuk yang seringkali sudah dirusak oleh dosa, dari apa yang sebenarnya Sang Pencipta sediakan bagi ciptaan. Kalau kita meneliti Alkitab kita segera menyadari masalah kebahagiaan manusia ini jelas berkorelasi dengan kehidupan berbahagia, yang dalam Alkitab sering sebutkan dengan istilah ‘bersukacita.’ Yohanes 15:11, misalnya, mengatakan:
“Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya sukacita-Ku ada di dalam kamu dan sukacitamu menjadi penuh.”
Allah adalah Allah yang bersukacita. Oleh karena itu sudah pasti manusia yang diciptakan sesuai dengan gambar-Nya itu adalah mahluk yang seharusnya bersukacita. Manusia mula-mula, Adam dan Hawa, digambarkan hidup di suatu taman dengan segala keindahan dan kecukupan untuk kehidupan mereka berdua; memiliki pekerjaan yang dari Tuhan sendiri dan hidup dalam persekutuan dengan Dia yang mengasihi mereka. Tidak ada yang lebih membahagiakan. Sampai dosa hadir dalam hidup mereka, mereka kehilangan persekutuan dengan Allah mereka dan sukacita yang menyertai.
Dosa telah merusak sukacita manusia. Tidak bersukacita itu sendiri adalah suatu dosa karena tidak sesuai dengan natur dan kehendak Allah (Lihat 1 Tesalonika 5:16 – 18). Oleh karena itu bersukacita adalah masalah ketaatan kepada kehendak-kehendak Allah.
Teladan ketaatan semacam ini dapat kita lihat dalam diri Paulus yang menuliskan satu ayat yang banyak dikutip tentang hidup bersukacita - Filipi 4:4 – “Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah!” Dimana Paulus menulis surat yang berisi ayat ini? Ternyata bukan di suatu tempat yang nyaman seperti di hotel atau di rumah sendiri tapi di suatu penjara Romawi yang terkenal buruk, ketika dia sudah menginjak usia tua, dan dia dipenjara karena memberitakan Yesus.
Sukacita yang dialami orang percaya seperti Paulus jelas berbeda dengan kebahagiaan yang dikejar banyak orang. Sukacita ini datang dari dalam diri orang percaya sebagai hasil pekerjaan Roh Kudus yang dikenal sebagai bagian dari ‘buah roh’ (Galatia 5:22). Sedangkan kebahagiaan dirangsang oleh kejadian-kejadian dari luar. Oleh karena itu kunci hidup bersukacita adalah memiliki dan memelihara hubungan dengan Tuhan. Tuhan memberkati!!!
 (BERSAMBUNG)

 

Lihat juga

jQuery Slider

Komentar


Group

Top