Manajemen

Unhappiness

Penulis : Harry Puspito | Mon, 7 July 2014 - 12:16 | Dilihat : 1086

 Harry Puspito
(harry.puspito@yahoo.com)*

Dalam kehidupan sehari-hari kita bertemu dengan pribadi-pribadi dengan tingkat kebahagiaan yang berbeda-beda, dari yang sangat tidak berbahagia sampai yang terlihat selalu bahagia. Ada orang yang selalu komplain mengenai segala hal, tempat kerja, lingkungan, orang-orang lain, gereja, keluarga, dsb. Sebaliknya ada orang lain, walau sedikit, yang tampil positif, bersemangat dan melihat segala hal secara optimis. Apakah Anda sadar termasuk yang mana? Kesadaran akan diri ini penting jika orang memiliki kemauan untuk terus berubah. Jika tidak dia tidak tahu perjalananannya dari mana dan akan kemana. Bagaimana ciri-ciri orang yang tidak berbahagia? Berikut adalah beberapa karakteristik mereka.

Bagi orang percaya pengenalan akan Kristus adalah kunci untuk mengalami kehidupan dengan kebahagiaan yang sejati. Yohanes 10:10 b mengatakan: “…..Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan.” Di bagian lain Paulus mengatkan: “Bersukacitalah senantiasa. ….. sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu.” (1 Tes 5:16, 18b).        

Namun kita juga mengamati di antara orang percaya juga banyak yang menampilkan kehidupan yang tidak bahagia. Kalau Allah menghendaki anak-anak-Nya bahagia kenapa kebanyakan orang percaya tidak bahagia hidupnya? Tampaknya masih ada kunci-kunci lain yang diperlukan orang percaya untuk menjangkau kehidupan yang Tuhan sediakan bagi mereka. Dengan kata lain, orang percaya tidak menikmati kehidupan yang berbahagia disebabkan mereka tidak memahami prinsip-prinsip Alkitab tentang kehidupan seharusnya dan menjalani kehidupan mereka berdasarkan prinsip-prinsip tersebut.

Salah satu penyebab kita tidak happy dan sering gelisah karena kita tidak hidup beriman dan melatih iman untuk mempercayakan kehidupan kita kepada Tuhan sementara Alkitab mengatakan: “Orang yang benar akan hidup oleh iman.” (Galatia 3:11b). Ketika sakit penyakit datang, orang percaya tidak datang kepada Tuhan tapi memikirkan akan ke dokter mana yang bisa menyembuhkan mereka. Ketika dokter sudah angkat tangan baru dia ingat Tuhannya. Banyak orang percaya yang terus saja kuatir dengan masa depannya, apakah akan bisa terus hidup cukup, apa usahanya akan terus berjalan dan berkembang, bagaimana dengan kehidupan anak-anaknya ke depan, bagaimana kalau nanti saya sudah pensiun, dsb. ….dsb. ….dsb.

Ketika seseorang tidak hidup dengan iman, maka hidup dalam dosa. Hidup dalam pertentangan dengan Allah jelas menggelisahkan dan membuat orang tidak bahagia. Di samping contoh di atas, ada banyak orang percaya, sadar atau tidak, hidup menentang prinsip-prinsip Allah. Misalnya, pebisnis Kristen yang menggunakan ‘sogok’ untuk mendapatkan proyek atau penjualan, membuat pembukuan ganda untuk mengurangi pajak, tidak membayarkan hak karyawan, dsb – jelas dia tidak bisa berbahagia dalam kehidupan bisnisnya. Mungkin dia merasa bahagia ketika sedang di gereja, sesaat melupakan praktek-praktek dosanya di pekerjaan dan menikmati persekutuan dan suasana gereja yang berbeda. Namun ini bukanlah bahagia sejati yang Alkitab katakan, tapi merupakan kebahagiaan palsu atau ‘pseudo happiness’ karena tidak datang dari dalam diri orang tapi karena rangsangan situasi luar, sekalipun itu adalah suasana gereja atau ibadah.

Celakanya ketika seseorang hidup melanggar suatu prinsip, maka dia potensi melanggar prinsip lain, sehingga mengalami konsekuensi negatif yang berlipat. Sementara setiap perbuatan orang mau tidak mau akan mendapatkan konsekuensi dari perbuatan-perbuatannya yang terkait dengan prinsip (lihat Amsal 13:13). Seorang aktivis yang terjebak dalam pornografi atau bahkan hidup seks di luar nikah; seperti sang pengusaha itu, hidup dalam dosa lain, yaitu kemunafikan – satu dosa yang sangat dicela Yesus (Lihat Matius 23:27, 28). Kebutuhan manusiawi untuk dihargai, mendorong orang tidak menyelesaikan masalah prinsipnya, yaitu dosa apapun yang dia lakukan, tapi menampilkan diri dengan dua muka itu.

Masalah lain, yang baik menurut ‘pengetahuan’ maupun Firman Tuhan, yang potensi merampok kebahagiaan orang adalah kecenderungan berdosa orang tidak menyelesaikan masalah dengan pihak lain dan memelihara ‘dendam’; melupakan sesaat, tapi dengan mudah membangkitkan kemarahannya karena urusan yang tidak selesai itu. Jelas ini terus menerus membangkitkan ketidak-bahagiaan dalam diri orang tersebut. Sikap-sikap negatif lain yang orang suka orang pertahankan dan mengganggu sukacita mereka adalah iri hati, kesombongan, cemburu dan kepahitan.

Orang yang berjalan di luar rencana Tuhan bagi orang tersebut (Filipi 2:10) jelas tidak akan bahagia. Ketika Yunus melawan perintah Allah untuk melayani di Niniweh tapi lari ke kota Tarsis maka dia hidup dalam pergumulan melawan Allah. Ketika seseorang direncanakan Allah memiliki tugas di dunia pelayanan tapi dia lari ke pekerjaan sekular, dia tidak akan menikmati kehidupannya – dan sebaliknya. Sampai seseorang menemukan panggilannya, maka dia hidup dalam sukacita yang lebih.

Hidup di dunia orang percaya belum mencapai kesempurnaan. Oleh karena itu dengan kondisi apapun, orang percaya perlu terus belajar prinsip-prinsip kehidupan dari Tuhan, merefleksikan kehidupan pribadinya dan menyesuaikan dirinya dengan prinsip-prinsip yang dia temukan itu. Ketika dia memperbaiki langkah-langkahnya maka dia menambahkan sukacita hidupnya. Perjalanan ini adalah seumur hidup dan seyogyanya dengan semakin dewasanya orang percaya semakin bersukacitalah hidupnya. Tuhan memberkati!!! (BERSAMBUNG)

Lihat juga

jQuery Slider

Komentar


Group

Top