Lembaga Survey IRC Mengaku Dibiayai MNC Group

Penulis : Slawi | Mon, 14 July 2014 - 10:54 | Dilihat : 2852

Reformata.com - Lembaga survei Indonesia Research Centre (IRC) mengaku di danai oleh media yang tergabung dalam MNC group.  Bertempat di Warung Daun, Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (12/7/2014), sejumlah lembaga survei buka-bukaan soal jumlah dana yang dibelanjakan dalam hitung cepat (quick count) Pemilu Presiden 9 Juli lalu. Dalam pertemuan tersebut, seperti dirilis Metrotv, IRC Mengaku jika lembaga mereka dibiayai oleh MNC group. 

"Dana kami Rp2,5 miliar, dibiayai RCTI, MNC TV dan Global TV," kata Kepala Riset IRC Yunita Mandolang dalam diskusi bertajuk 'Republik Quick Count' tersebut.  Dana itu diakui digunakan untuk membiayai 1.800 relawan di tempat pemungutan suara (TPS).

Angka tersebut dua kali lebih besar jika dibandingkan dengan besaran dana yang dibutuhkan Lingkaran Survei Indonesia (LSI). Dengan separuh biaya yang dikeluarkan, sekitar Rp 1,2 miliar hingga Rp 1,5 miliar dari dana sendiri, menurut peneliti LSI Adjie Al-Faraby, lembaganya justru memiliki sampel lebih banyak, yakni 2.000 TPS.

Saya lupa, tapi kira-kira segitu. Kami menggunakan dana sendiri," kata peneliti LSI Adjie Al-Faraby.
 
Meskipun Indonesia Research Centre (IRC) berkantor di MNC Tower, Yunita, Kepala Riset IRC, membantah jika lembaga survei yang dikepalainya itu disebut milik Hary Tanoe, seperti dikabarakan MetroTV (12/07) lalu. 

Sebelumnya Ahli Komunikasi Politik dari Universitas Indonesia (UI) Ade Armando, kepada Suara Pembaharuan (08/07), lalu,  juga menyebut lembaga yang berkantor di MNC Tower lantai 26 Jl.Kebon Sirih No.17, Jakarta Pusat ini adalah milik Harry Tanoesudibyo. 

Meskipun didanai oleh media yang tergabung dalam MNC Group, perusahaan milik Hary Tanoesoedibjo, menurut Yunita, kepala riset di  lembaga survei yang dalam hasil hitung cepatnya mengunggulkan pasangan nomor urut satu Prabowo-Hatta dari pasangan nomor urut dua Joko Widodo-Jusuf Kalla dengan 51.11 % berbanding 48.89 % suara ini, hal tersebut tidak serta merta membuat lembaganya tidak kredibel. "Kami tetap netral, bisa dijamin. Silakan diaudit," kata Yunita.

Slawi/ dbs          

Lihat juga

jQuery Slider

Komentar

Top