Manajemen

Sukacita Buah Roh Yang Sulit Dipalsukan

Penulis : Harry Puspito | Tue, 5 August 2014 - 12:02 | Dilihat : 3833

 Harry Puspito
(harry.puspito@yahoo.com)*

Dalam beberapa tulisan kita membicarakan mengenai ‘kebahagiaan’ yang dikejar manusia, termasuk orang percaya, tapi Tuhan menyediakan yang lebih baik, yaitu sukacita bagi orang percaya sebagai wujud buah Roh. Dalam Galatian 5:22-23a dikatakan ‘Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri.’ Paling tidak ada sembilan wujud buah yang Roh kerjakan dalam diri orang percaya, salah satu adalah ‘sukacita’.

Apa yang dimaksud dengan ‘sukacita’ (atau ‘joy’ dalam bahasa Inggris)? Sukacita dalam bahasa Ibrani chedvah, artinya kegembiraan, kesenangan hati, keriaan. Sedang dalam bahasa Yunani adalah chara yang berarti kegembiraan, yaitu sukaria yang tenang. Satu unsur yang sama dalam sukacita dan ‘happiness’ (bahagia) adalah pengalaman emosi positif, yaitu kesenangan. Orang yang bersukacita terlihat dalam emosinya yang positif, banyak tertawa atau tersenyum.

Orang yang dipenuhi sukacita tidak mudah tersinggung atau marah. Sikapnya akan konsisten positif dan optimis. Namun berbeda dengan ‘happy’, orang yang sukacita mengalami ‘happy’ secara konsisten karena sukacita bukan pengalaman sesaat tapi buah atau karakter yang terbangun dalam pribadi orang percaya.
Berbeda dengan buah Roh yang lain, sukacita sulit dipalsukan, karena melibatkan emosi kegembiraan. Orang bisa memperlihatkan kasih, misalnya dengan tersenyum, memberi, berkata-kata positif padahal hatinya geram. Ketika berhadapan dengan orang yang memusuhi, seseorang bisa tidak membalas, sepertinya memelihara damai, namun sesungguhnya dia menunggu waktu yang tepat untuk membalas.

Orang bisa memberi banyak atau banyak berbuat baik, sepertinya murah hati, tetapi bisa saja dia lakukan hal itu karena mengharapkan balasan atau untuk pencitraan.  Jemaat bisa memperlihatkan kesetiaan kepada gerejanya, namun bisa saja kesetiaannya karena dia tidak mau banyak berpikir tentang masa depan gereja. Orang Kristen sering tampak lemah lembut atau menguasai diri, tapi itu terjadi ketika mereka di lingkungan gereja. Bagaimana perilaku mereka di rumah atau di tempat kerja?

Bagaimana ketika menghadapi kesulitan, ketidakadilan, ancaman, dsb?
Tapi bagaimana orang yang sedang depresi bisa memperlihatkan penampilan orang yang mengalami kegembiraan? Ini bisa terjadi kalau depresi yang dialami sudah terlalu parah, sehingga dia terus tertawa dalam keadaan apapun. Namun orang lain akan melihat ini bukan sukacita tapi orang stress. Orang yang masuk kategori normal, ketika tidak bersukacita, akan segera terlihat oleh orang lain. Sekalipun dia berpura-pura bergembira, kebanyakan orang yang cukup peka akan menyadari kepura-puraannya.

Orang yang memiliki sukacita sejati, ketika menghadapi masalah, mereka tetap bersukacita – bergembira, seperti ditunjukkan oleh sikap para rasul yang menghadapi ancaman-ancaman orang Yahudi atau non Yahudi ketika memberitakan Injil pada jaman mereka. Paulus dan Silas ketika dipenjara, kaki mereka dipasung, mereka berdoa dan menyanyi puji-pujian kepada Allah sehingga orang-orang lain mendengar mereka (KPR 16:25). Petrus menegaskan agar orang percaya bersukacita dalam bagian penderitaan mereka dalam Kristus agar kita juga boleh bergembira dan bersukacita pada waktu Dia menyatakan kemuliaan-Nya (1 Petrus 4:13).
Sementara tidak ada manusia yang bahagia secara konsisten apalagi ketika menghadapi penderitaan atau di tengah aniaya. Kalau kita tidak dapat memalsukan sukacita dalam diri kita mengapa kita tidak mau menerima sukacita asli dari Tuhan Pemilik sukacita itu? Sukacita yang dibentuk di dalam diri kita, yang tidak terpengaruh oleh situasi di luar kita? Dan kunci mendapatkan hidup sukacita adalah mengijinkan Roh Kudus bekerja dalam diri kita seleluasa mungkin. Alkitab memerintahkan kepada orang percaya: “…hendaklah kamu penuh dengan Roh.” (Efesus 5:18b).

Satu pekerjaan Roh Kudus adalah menyadarkan dosa-dosa yang kita lakukan dan mendorong kita menyelesaikan dosa-dosa itu. Ketika kita lakukan, maka Allah itu setia dan adil sehingga Ia akan mengampuni segalah dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan kita (1 Yohanes 1:9). Oleh karena itu kalau kita mau memelihara dan mengembangkan sukacita dalam hidup kita, maka kita harus terus menerus menyelesaikan dosa-dosa yang diingatkan oleh Roh Kudus dengan mengakuinya dan bertobat.

Pekerjaan Roh Kudus lain adalah memimpin orang percaya kepada pengenalan akan Firman. Pengenalan akan kebenaran adalah untuk dilakukan. Ketika kita mengerjakan kebenaran maka kita akan menikmati berkatnya (Amsal 13:13). Kita akan mengalami sukacita dari Sang Pemberi Firman. Oleh karena itu bagian kita adalah membangun sikap tunduk kepada Tuhan dan kebenaran-Nya.
Tuhan memberkati!!!

Lihat juga

jQuery Slider

Komentar


Group

Top