Manajemen

Bagaimana Berbahagia?

Penulis : Harry Puspito | Wed, 1 October 2014 - 16:51 | Dilihat : 1266
Tags : Bahagia

 Harry Puspito
(harry.puspito@yahoo.com)*

There is a God shaped vacuum in the heart of every man which cannot be filled
by any created thing, but only by God, the Creator, made known through Jesus.
Blaise Pascal

Kita sudah membicarakan masalah kebahagiaan yang dikejar oleh manusia dalam beberapa tulisan terakhir. Betapa dunia dipenuhi ketidak-bahagiaan dan manusia mengejar kebahagiaan dengan berbagai cara, dari yang wajar hingga tidak wajar; dari yang legal hingga ilegal; dari cara-cara sekuler hingga cara-cara ‘rohani’. Sebagai orang percaya kita tahu bahwa orang dunia akan terus ‘mencari’ hingga hatinya yang kosong itu diisi oleh Yesus Kristus seperti pesan Alkitab yang disimpulkan dengan tajam oleh Blaise Pascal, seorang filsuf Perancis yang hidup pada tahun 1623 – 1662. Dan hidup di dunia yang masih dipenuhi oleh dosa, yang sudah merusak seluruh tatanan kosmos ini, tidak memungkinkan orang percaya sekalipun mengalami kebahagiaan secara sempurna seperti yang kita imani akan dialami orang percaya di surga nanti. Namun ketika kita hidup dalam pimpinan-Nya maka kita bisa mengalami sukacita dari ‘datangnya kerajaan Allah’ (Matius 6:10) dari waktu ke waktu. Tidak heran Alkitab juga memerintahkan kepada orang percaya agar hidup dengan sukacita, seperti misalnya dalam Filipi 4:4 “Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan ! Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah!”
Seperti sebuah ilustrasi yang mengisahkan sebuah telor burung rajawali yang dierami oleh induk ayam dan sejak kecil anak rajawali itu dibesarkan dengan mengorek-ngorek makanan di sampah, berjalan dengan kakinya dan tidak pernah terbang tinggi dengan gagah seperti burung rajawali layaknya; dibesarkan di dunia yang penuh dosa ini, maka hidup kita telah sangat dipengaruhi dan dibentuk dunia di sekitar kita. Tidak heran orang percaya juga mencari hal-hal yang dicari oleh orang dunia untuk pengejaran kebahagiaannya, seperti harta, nama, prestasi, posisi, kekuasaan, kenikmatan-kenikmatan, dsb. Dan ekses-ekses pengejaran mereka dalam bentuk seperti perilaku korupsi dengan segala bentuknya, perselingkuhan, konsumsi narkoba, dsb juga banyak terjadi di antara orang-orang percaya. Untuk menghadirkan kerajaan Allah di dunia ini, jelas rajawali-rajawali ‘ayam’ ini perlu mengalami perubahan-perubahan hingga bisa hidup sebagai rajawali-rajawali sejati. Darimana kita memulainya?
Adalah ironis bahwa seorang Jokowi yang notabene bukan orang percaya dan tidak mendalami Firman Tuhan, mempromosikan satu kata kunci untuk konsep-konsepnya dalam membangun negeri ini, yaitu ‘revolusi mental’ yang mengandung kebenaran Alkitab. Apapun artinya, namun Jokowi mendapatkan satu kunci perubahan manusia yang penting dan alkitabiah, yaitu bahwa perubahan dimulai dari pikiran manusia. Kata revolusi mengindikasikan perubahan yang mendasar dan terjadi dalam waktu cepat. Walaupun ini tidak sepenuhnya sesuai dengan apa yang terjadi dalam diri orang percaya, tapi paling tidak dari dimensi-dimensi manusia, kalau kita coba pisah-pisahkan berdasarkan fungsinya, maka tepatlah bahwa perubahan harus dimulai dari pikiran. Lihat, misalnya, Roma 12:2, yang menyatakan: “Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.” Pada bagian lain, Alkitab memerintahkan: “Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.” (Matius 66:33). Kita bisa menyimpulkan, kalau kita memahami kehendak Allah dan melakukannya, maka Tuhan yang menyediakan sukacita itu. Ini adalah jalan bagi orang percaya menuju kehidupan yang penuh kebahagiaan yang Dia janjikan itu (Yohanes 10:10b).
Berbeda dengan ‘revolusi’ yang selesai dalam satu periode waktu tertentu yang cepat, perubahan orang percaya terjadi sepanjang hidupnya dan menjadi bagian dari pekerjaan Roh Kudus dalam diri mereka melalui proses yang disebut ‘sanctification’ atau ‘pengudusan’ dan akan akan menjadi sempurna ketika orang percaya bertemu muka dengan muka dengan Sang Penebus, Yesus Kristus. Sebagai respon iman kita memerlukan baik strategi maupun disiplin mental sehingga kita bisa memusatkan pikiran kepada kebenaran-kebenaran Allah dan mengerjakannya. Dengan strategi, kita mengatur hidup agar terus dalam persekutuan dan pergumulan dengan Tuhan. Melalui disiplin rohani kita melatih kerohanian kita agar pikiran kita mampu fokous kepada kebenaran-kebenaran-Nya dari waktu ke waktu.
Filipi 4:8, misalnya, mengajak orang-orang percaya melakukan hal ini: Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu. Kita diajak terus menerus berpikir hal-hal yang positif. Tanpa usaha dan disiplin yang diusahakan maka pikiran kita mudah masuk kepada pikiran-pikiran dan sikap-sikap yang negatif seperti kekawatiran, kecemasan, ketakutan, iri hati, sakit hati, kemarahan, ketidak-puasan, dsb yang merampok sukacita kita.  Kita tidak diminta melakukan ini sekali-sekali atau dalam masa-masa tertentu, misalnya pada masa muda kita, tapi terus menerus, seumur hidup kita. Maka ini akan menolong kita untuk hidup dalam sukacita. Tuhan memberkati! BERSAMBUNG...

Lihat juga

jQuery Slider

Komentar


Group

Top