Khotbah Populer

Perspektif Baru Memandang Kematian

Penulis : Pdt Bigman Sirait | Tue, 4 November 2014 - 14:41 | Dilihat : 2065

Sulit, bahkan mustahil ada orang yang mengatakan, kalau kematian itu menyenangkan.    Membincangkannya saja sudah cukup membuat orang bergidik membayangkan, betapa mati adalah hal yang mengerikan lagi menyedihkan. Belum lagi jika menilik kecenderungan orang di masa kini.  Maka tak heran jika tingkat pemahaman orang di kekinian belum mampu mencapai tingkat kesadaran, bahwa kematian adalah sesuatu yang bisa dinikmati. Masyarakat modern saat ini hidup sangat individualis dan terlalu cinta diri.  Orang yang terlalu cinta diri, orang yang narsis seperti ini umumnya juga terlalu mencintai hidup.  Jangankan untuk merasai “nikmatnya” mati, sedikit sakit pun mereka enggan.  Cinta kehidupan di sini bukan berarti menghargai kehidupan, tetapi tak lebih dari bentuk ketidakrelaan untuk mati saja.  Berbeda sama sekali dengan orang yang berjiwa filosofis. Kaum filosof umumnya lebih mampu melihat kematian dari persektif berbeda, sehingga dapat menemukan hasil dari kematian pun berbeda.  Bahwa dalam kematian ada bahagia. Penulis pengkhotbah adalah salah satunya.  

Kitab Pengkhotbah, tepatnya Pengkhotbah 4:1-3 menggambarkan kematian dan kehidupan dengan cara yang tak biasa.  Kehidupan dilihat Pengkhotbah justru penuh dengan penderitaan dan sangat tidak menyenangkan.  Dalam bukunya penulis Pengkhotbah seperti berkata, masih ada sesuatu yang membahagiakan di luar kehidupan. Apakah itu? Ya, di kematianlah kebahagiaan ada.  Kesimpulan pengkhotbah tentang makna kehidupan tidaklah salah. Sebab, apakah hidup atau kehidupan bisa dikatakan membahagiakan, bisa dikatakan menyenangkan, jika didalamnya kerap diwarnai pertikaian, kesakitan, penindasan, dan masih banyak lagi lainnya? Dalam konteks seperti demikian, kematian menjadi sesuatu yang kuat terkesan sangat menyenangkan.  Dalihnya pun sederhana saja sebetulnya, dengan mati, berarti orang terlepas dari perjalanan yang sangat melelahkan, berliku, dan mengerikan.

Kesulitan hidup seringkali menjadi latar para pemikir dan kaum filosof untuk masuk di perenungan menilik dan mengkritisi hidup.  Pilihan laku komunitas pemikir ini sama sekali berbeda dengan apa yang banyak orang lain lakukan.  Kesulitan di kehidupan seringkali dianggap remeh oleh mereka yang enggan berpikir sedikit lebih mendalam tentang kesejatian hidup.  Dianggap sepele oleh mereka yang kesukaannya pesta pora, hura-hura, dan mabuk-mabukan. Mirisnya, bahkan sampai maut datang menjemput, orang-orang seperti ini tidak sadar, malah mungkin sedang tertawa dan beria-ria bersama. Tetapi bagi mereka yang mampu mengususkan diri untuk memikirkan perjalanan hidup, maka mati menjadi suatu hal yang sangat menyenangkan, karena ia lepas dari perjalanan yang melelahkan ini. Mati menjadi menyenangkan karena orang lepas dari putaran hidup yang sepertinya tanpa ujung itu. Kematian membuat orang lepas dari tekanan, lepas dari masalah hidup, dan tidak akan lagi pernah melihat derai air mata. Di kematian tidak ada kesulitan.

Dalam perspektif kita manusia biasa yang terbatas, kematian juga bisa melepaskan diri dari stres dan tekanan hidup. Misalnya, ada orang yang menderita suatu penyakit dalam waktu yang sangat lama. Penyakit itu menyiksanya bertahun-tahun, yang mengkibatkan keluarnya banyak biaya.  Sehingga anggota keluarga yang lain pun  dibuat susah karenanya. Lalu, ketika orang itu meninggal, maka orang berkata, “...dia terlepas dari penderitaannya…”.  Ya kematian mampu melepaskan orang dari stress.  Tapi jangan juga melihat ini secara keliru, lalu seperti menjadi alasan legalisasi bunuh diri.  Sebab mati bunuh diri ada pada ranah yang berbeda.  Bunuh diri berarti melewati kodrat sebagai manusia, yang seharusnya tunduk pada ketetapan-ketetapan Allah. Bunuh diri artinya menerobos ketetapan itu, dan orang yang bersangkutan harus berurusan dengan Tuhan di penghadilan akhirat nanti.

Dalam persfektif Kristiani, mati dilihat sebagai sesuatu yang menyenangkan. Sebab, mati berarti meninggalkan kesementaraan yang serba tidak pasti, lalu memasuki hidup yang kekal (pasti). Bukankah ini suatu yang menyenangkan? Jika orang-orang secara umum saja bisa melihat kematian itu di dalam persfektif mereka sebagai sesuatu yang menyenangkan, mestinya orang yang sudah mengenal Kristus dan mengaku sebagai orang percaya yang beribadah di gereja, bisa lebih mampu melihat itu. Karena itu kematian tak perlu mendatangkan ketakutan.  Sebaliknya kematian menjadi sebuah pengharapan untuk bertemu dengan Tuhan. Bukankah mati itu indah? Kematian juga berarti bersatu dengan Kristus di dalam kekekalan. Kematian membuat persekutuan umat dengan Tuhan menjadi sempurna. Keberadaan kita yang tidak lagi berupa fisik, masuk  ke dalam surga dengan tubuh kekekalan.

Di sinilah pentingnya memahami kembali atau merekonstruksi kembali alam pikir kita dalam memandang kematian.  Penting untuk mengoreksi diri, betapa rendahnya kualitas hidup kita. Inilah yang sebenarnya menggerogoti kebahagiaan orang Kristen dalam menghadapi dan menjalani kehidupan, sehingga ketika maut atau kematian itu datang, terjadilah kegelisahan yang luar biasa. Padahal sebagai orang beriman, kita tidak perlu gentar menghadapi kematian. Karena mati justru merupakan ujung jalan dalam menyongsong mahkota sorgawi yang Tuhan sediakan bagi orang-orang yang percaya kepada-Nya.

(Disarikan dari Khotbah Populer oleh Slawi)

Lihat juga

Komentar


Group

Top