Manajemen

Gaya Hidup Melayani

Penulis : Harry Puspito |

 

Harry Puspito----MELAYANI bukan budaya kita atau yang kegiatan yang kita inginkan. Kita lebih ingin dilayani daripada mela-yani. Banyak rumah tangga dilayani

Tapi melayani sebenarnya adalah ‘hidup’ kita karena bekerja adalah melayani, apa pun yang kita laku-kan. Bagaimana penjelasan lengkapnya, simak dalam REFORMATA edisi 86

 

 

Kecuali kita adalah pengang-guran atau pensiunan, memang kita sudah tidak melayani orang lain lagi dalam pekerjaan. Dalam kondisi demikian pun kita masih bisa mela-kukan sesuatu untuk orang lain. Ibu rumah tangga yang tidak be-kerja di kantor atau di tempat lain, tetap melayani, yaitu melayani anak-anak dan suaminya. Ini adalah suatu pelayanan full time yang be-rat jika dijalani dengan tujuan yang jelas dan dengan tanggung-jawab.

Melayani adalah kenyataan yang tidak bisa dihindari oleh siapa pun yang masih bernafas. Melayani ada-lah sesuatu yang penting karena itu adalah hakekat hidup manusia. Manusia hidup untuk melayani.

Tidak heran di klasifikasi industri ada satu yang disebut industri jasa (di Indonesia sekitar 10%) yaitu industri yang menghasilkan jasa atau layanan daripada sekadar pro-duk yang kelihatan. Jumlah layanan yang ditawarkan sangat banyak macamnya. Contohnya adalah jasa konsultasi manajemen, yang bisa dipecah lebih spesifik lagi seperti tentang pemasaran, distribusi, iklan, akuisisi perusahaan, dsb. Jasa yang ditawarkan bisa relatif sederhana seperti membersih-kan rumah, membasmi atau me-ngusir tikus dari rumah, dsb. Bahkan para ahli pemasaran mengatakan bahwa semua bisnis adalah bisnis jasa.

Ketika seseorang ‘memim-pin’, itu pun adalah melayani. Satu citra kepemimpinan Alkitab adalah apa yang dikenal dengan servant leadership. Seorang pengusaha dan pelopor industri motivator Kristen terkenal, Dr. Paul J. Meyer, mengatakan: “The most important attitude is the attitude of a servant.”  

 

Sikap versus Ketrampilan Melayani

Berbicara tentang pelayanan, kita bisa melihat dari dua dimensi, yaitu sikap terhadap melayani dan ketrampilan dalam melayani. Ketika seseorang memiliki keduanya, maka dia adalah seorang pelayan yang sukses

Namun seseorang bisa memiliki sikap melayani yang positif tapi belum memiliki ketrampilan melayani yang execellent. Orang demikian memiliki potensi untuk dikembang-kan. Dengan mudah orang seperti ini berkembang dalam pekerjaan atau pelayanannya.

Ketika seseorang memiliki sikap melayani yang negatif walaupun trampil dalam pekerjaannya, maka orang tersebut termasuk kategori ‘orang pintar tapi sulit’. Orang se-perti ini lebih sulit untuk dikembang-kan. Mengubah sikap seseorang bu-kan suatu pekerjaan yang mudah. Ketrampilan lebih mudah dilatih. Sedang karakter terbentuk melalui proses yang panjang. Banyak orang yang terlalu lambat berubah atau bahkan tidak pernah beru-bah. Lebih berat lagi kalau dia ber-ubah tapi semakin memburuk. Se-makin bertambah umur semakin enggan melayani malah menuntut dilayani. Semakin berhitung dengan apa yang dia dapat dengan mela-kukan sesuatu bagi orang lain.

Bagaimana kalau seseorang tidak memiliki kedua-duanya: sikap melayani dan ketrampilan bekerja. Orang demikian, jelas adalah orang yang tidak poten-si dan gagal dalam hidupnya.

Kebanyakan kita memiliki sikap dan ketrampilan yang be-lum optimal. Karena itu kita jadi orang yang serba tanggung. Namun demikian kita secara positif bisa melihat peluang un-tuk mengembangkan diri kita, baik dari sisi sikap maupun ketrampilan melayani. Alkitab menyatakan dalam semua hal kita harus melakukan yang terbaik seperti untuk Tuhan bukan untuk manusia (Kol 3:17):

Kita mau membangun keduanya, baik sikap kita dalam melayani mau-pun ketrampilan-ketrampilan kita dalam melayani. Ada banyak buku ditulis tentang bagaimana ’mela-yani’, namun Alkitab adalah yang utama. Alkitab dengan jelas menggambarkan bagaimana karak-teristik seorang pelayan seharus-nya. Kita perlu membangun karak-ter pelayan seperti rendah hati, rajin, sabar, patuh, punya komitmen, selalu siaga, menghormati atasan, bahkan bisa mengajar yang lain.

 Kita memerlukan kasih karunia Tuhan agar kita memiliki hati yang melayani dan dilengkapi dengan kemampuan melayani. Roh Kudus memberi kuasa yang memampukan para murid untuk melayani.

Orang percaya seharusnya memi-liki sikap dan gaya hidup melayani bukan sikap dan gaya hidup bos yang menuntut dilayani. Inilah bagian dari panggilan kita seperti Tuhan kita Yesus sendiri datang ke dunia untuk melayani bukan untuk dilayani. Ketika kita hidup melayani maka kita akan menikmati berkat Tuhan di dunia dan pahala Tuhan di surga. Jika seorang pekerja Kris-ten memiliki gaya hidup melayani, bisa dipastikan dia adalah seorang yang sukses.

Benar apa yang diungkapkan pengkhotbah besar - DL – Moody - ”Ukuran seorang manusia bukan-lah berapa banyak pelayan yang dimilikinya, melainkan berapa banyak orang yang dilayaninya”.q

 

*Penulis adalah partner di TRISEWU LEADERSHIP INSTITUTE

 

Komentar


Group

Top