Partogi. J. Samosir. Ph.D, Diplomat Yang Perduli Penanggulangan Narkoba

Mon, 2 November 2015 - 10:21 | Dilihat : 1620
partogi-j-samosir-phd-diplomat.jpg

Bahaya narkoba bagi remaja begitu sangat memprihatinkan. Walau sudah banyak gembong dan pengedar narkotika yang ditangkap hingga dijatuhi hukum mati di negeri ini, tetap saja peredaran narkoba kian marak di Tanah Air. Narkoba bukan saja mengancam penerus bangsa secara keseluruhan, tidak sedikit pula pemuda gereja yang terjerat kedalam bahaya narkoba. Dibutuhkan kerjasama yang serius dan baik dari pemerintah dan masyarakat dalam rangka penanggulangan dan pencegahan bahaya narkoba. Kepedulian akan dampak dari bahaya narkoba menjadi salah satu konsentrasi dari seorang Diplomat Indonesia yang cukup lama tinggal di Amerika. Ia adalah Partogi. J. Samosir. Ph.D yang saat ini menjabat sebagai Head of Policy Analysis on the United Nations Affairs Ministry of Foreign Affairs Republic of Indonesia (Kepala Bidang analisis kebijakan di Perserikatan Bangsa-Bangsa) di Kementerian Luar Negeri Indonesia. Reformata berkesempatan mewawancarai Doctor of Philosophy lulusan Franklin University, Ohio, USA, itu di Kantornya yang terletak di  Jl. Taman Pejambon No. 6, Jakarta Pusat (29/06/2015). Peraih penghargaan Ambassador for Peace yang  akrab disapa dengan nama Togi itu, bercerita bahwa ia mempunyai kerinduan untuk melayani dalam hal penangulangan narkoba. Kerinduan tersebut disampaikan kepada para Pendeta di gereja Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) yang merupakan gereja tempat Togi biasa melakukan ibadah. Praeses HKBP di Jakarta pun menyambut baik hal itu, terbukti beberapa waktu lalu sudah diselenggarakannya acara pelatihan bahaya narkoba bagi pemuda dan memilih duta pemuda anti narkoba untuk ikut serta berperan dalam penanggulangan bahaya narkoba. Kedepan rencananya Togi beserta komunitasnya itu, akan mengajak kerjasama dengan pemerintah dalam hal ini Badan Narkotika Nasional (BNN) untuk berperan aktif menanggulangi narkoba di kalangan masyarakat. Pelayanan seperti ini kerap dilakukan Togi sewaktu bermukim di Amerika di sela-sela kesibukannya sebagai diplomat, Togi masih dapat menyempatkan diri dalam hal melayani sesama. Kepedulian Togi akan narkoba bermula ketika di dalam suatu kesempatan dinas untuk menghadiri sebuah resepsi, ia berkenalan dengan seorang pria yang aktif pada sebuah Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) perduli dengan korban narkoba. Satu hal yang membuat Togi tertarik bercerita dengan pria itu hingga acara resepsi berakhir adalah kepedulian pemerintah Amerika mengenai korban narkoba, cerita pria itu kepada Togi bahwa pemerintah Amerika tidak menyembuhkan korban narkoba, mereka hanya menganti kecanduan korban dari narkoba ke obat dokter. Tiga hari berselang Togi diajak untuk datang melihat langsung pengobatan narkoba di Amerika.
Togi melihat bahwa LSM tersebut menerapkan metode unik dalam penyembuhan korban narkoba, cara komunikasi yang intens dan teknik memijat untuk menangani korban narkoba, membuat Togi makin tertarik untuk mempelajarinya. Penanganan yang benar dan tepat tersebut dapat membuat korban narkoba ini menjadi produktif dan tidak menggunakan narkoba kembali. Metode yang dilakukan LSM bernama Narconon ini dianggap Togi dapat diaplikasikan di Tanah Air.
Togi berkisah sebelumnya ia aktif dalam melakukan pelayanan terhadap para Tuna Wisma di wilayah Washinton D.C, bersama dengan seorang Pendeta asal Korea, Togi ikut membantu para Tuna Wisma tersebut menjadi percaya diri hingga berhasil mendapatkan pekerjaan untuk mencukupi kehidupannya. Menurut Togi, membantu mereka yang berkekurangan dalam hal materi bukan melulu soal uang tapi bagaimana membantu mereka untuk melatih ketrampilan dalam menjalani hidup, bagi Togi dengan melatih ketrampilan seseorang dengan benar membuat orang tersebut berusaha untuk menjalani kehidupannya bukan menyerah pada kekurangan yang akhirnya membuat orang tersebut dimanja dengan kemalasan.
Awal mulanya Togi seorang pengusaha yang kemudian berkecimpung ke dunia International Affairs hingga menjadi seorang Diplomat. Hal itu dilakukannya karena ingin menyenangkan orang tua, ibunya berharap bahwa Togi menjadi seorang Pegawai Negeri Sipil (PNS). Menurut ibunya dengan menjadi seorang PNS itu merupakan kebanggaan bagi orang tua, demi untuk menyenangkan orang tuanya, Togi melamar menjadi Pegawai Negeri Sipil di Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia. Saat ini Togi merupakan seorang pejabat di Kementerian Luar Negeri yang tentunya mendapat beragam fasilitas yang berbeda pula, namun hal itu tidak terlihat pada sososknya, Togi tetap sederhana dengan menumpang bus pegawai dari rumahnya di Jakarta Selatan hingga kantornya di Jakarta Pusat pulang dan pergi setiap hari. Selain seorang pejabat di Kementerian Luar Negeri, Togi juga aktif menjadi dosen lepas diberbagai universitas di Indonesia.
Perjalanan karir Togi hingga saat ini tidak terlepas dari peranan keluarga yang setia mendampinginya, terlebih ketika kesehatannya mulai menurun namun aktifitasnya sebagai abdi negara tetap padat. Pria dengan dua anak ini berharap kedepan bahwa ia masih tetap dapat berbuat sesuatu yang positif untuk pekerjaannya dan pelayanan sosial yang dilakukannya.

Lihat juga

jQuery Slider

Komentar

Top