Polemik GBI Eben Haezer Pro-Kontra Penahbisan Anak Pendiri GBI

Penulis : * | Mon, 2 November 2015 - 10:30 | Dilihat : 2588

Surat pernyataan atas penolakan terhadap pentahbisan anak mendiang Pdt. DR. H.L Senduk, pendiri Gereja Bethel Indonesia (GBI) mewarnai kisruh internal di GBI. Kisruh tersebut bermula dari keinginan Pdm. Steve Hosea Senduk untuk mengantikan Pdt. George Tapiheru menjadi gembala jemaat di GBI Eben Haezer yang terletak di Jl. Wahid Hasyim No. 67, Jakarta Pusat. Keinginan tersebut menuai protes dari sekelompok jemaat yang mengaku jemaat GBI Eben Haezer yang juga anak rohani dari pendiri GBI, mereka menilai Pdm. Steve Hosea Senduk tidak pantas menjadi gembala jemaat dikarenakan beberapa faktor yang dikawatirkan dapat memecah belah umat yang ada di GBI Eben Haezer.
Dari data yang didapat serta hasil wawancara yang dilakukan Reformata, persoalan internal GBI Eben Haezer ini semakin kacau karena ikut menyeret nama-nama pengurus GBI tidak hanya di tingkat Majelis Pertimbangan yang dihuni oleh gembala-gembala senior namun juga secara khususnya ikut menyeret birokrasi terdekat yaitu Badan Perwakilan Daerah (BPD) GBI Jakarta. BPD GBI Jakarta dianggap bertanggung jawab dalam pentahbisan yang sudah dilakukan pada tanggal 7 Juni 2015. Dalam pernyataan via surat elektronik tertanggal 29 Desember 2014 yang dikirim oleh Pdm. Steve H. Senduk kepada Pdt. George Tapiheru beserta para penatua dijelaskan bahwa dia mempunyai kerinduan untuk membesarkan GBI Eben Haezer dengan menjadi Gembala Jemaat serta mengembalikan Misi dan Visi sesuai dengan yang telah diajarkan oleh ayahnya, dalam surat tersebut juga dikatakan bahwa ia bukanlah orang yang perlu jabatan yang suka tampil di depan umum tapi ia merupakan tipikal yang suka ‘blusukan’ guna mengetahui keinginan jemaatnya, ia merasa bahwa Tuhan memberikan tanggung jawab untuk menjadi Gembala Jemaat, walau dengan kondisi yang sudah tidak lagi fit seperti sedia kala akan tetapi kerinduan untuk menjadi Gembala Jemaat sangatlah didambakan. Pdm. Steve H. Senduk juga mengatakan dalam surat elektronik tersebut bahwa kekurangannya dalam melayani akan dibantu oleh para penatua yang mempunyai dedikasi terhadap GBI Eben Haezer, pada akhir paragraf Pdm. Steve H. Senduk meminta Pdt. George Tapiheru untuk menyerahkan pucuk pimpinan kepada dirinya.
Surat elektronik itu direspon oleh Pdt. George Tapiheru melalui surat yang dikrimkan ke BPD GBI Jakarta untuk mentahbiskan Pdm. Steve H. Senduk sebagai Gembala Jemaat GBI Eben Haezer, namun secara eksplisit dibagian akhir surat tersebut dikatakan bahwa pentahbisan tersebut haruslah sesuai dengan mekanisme yang berlaku di GBI. Mekanisme yang ada tersebut kemudian dipermasalahkan oleh para penentang pentahbisan, mereka menganggap bahwa pentahbisan tidak bisa dilakukan karena melanggar AD/ART GBI yang dibuat para pendiri.  Upaya-upaya yang dilakukan oleh kelompok penentang pentahbisan sudah dilakukan baik lewat surat protes yang dikirim ke institusi terkait maupun mediasi dengan berbagai pihak, namun hal tersebut tidaklah berhasil guna menjegal Pdm. Steve H. Senduk untuk menduduki posisi sebagai Gembala Jemaat di GBI Eben Haezer.

BPD GBI Jakarta Hanya Melantik Setelah Ada Persetujuan Gembala Setempat
Reformata kemudian pada Kamis 2 Juli 2015 mencoba mengkonfirmasi ke BPD GBI Jakarta  terkait persoalan ini. BPD GBI Jakarta yang pada saat itu hadir Ketua pengurus BPD GBI Jakarta, Pdt. Yonathan Sudarjadi,  Badan Pengurus Harian GBI pusat Ketua Bidang Pembinaan Keluarga Pdt. Dr. dr. Dwidjo Saputro serta Biro Hukum dan Advokasi Pdt. Dr. Hanan Suharto, M.Hum, mereka mengatakan bahwa pentahbisan tersebut sudah sesuai prosedur sebagaimana mestinya.
Diakui bahwa protes yang dilakukan oleh kelompok penentang tersebut sudah dipelajari secara komprehensif dan hasil temuan permasalahan masih dalam batas yang sewajarnya, jadi tidak ada masalah dengan hal tersebut, lagipula hal tersebut sudah dibicarakan kepada para ‘sesepuh’ gereja. Terkait dengan kondisi Pdm. Steve H. Senduk yang dikawatirkan tidak dapat menjalankan kewajibanya kelak dalam pelayanan, dijelaskan oleh Pdt. Dr. Hanan Suharto, M.Hum bahwa hal tersebut bisa dilakukan  secara bersama karena ada tim gembala di gereja tersebut. Untuk menjalankannya bisa didelegasikan sedangkan komunikasi bisa lewat surat elektronik, ataupun lewat media lain, katanya.
“Sebenarnya ketika kita (BPD GBI Jakarta) mengambil keputusan untuk dapat mentahbiskan, kita juga sudah mempelajari hal tersebut (kesehatan Pdm. Steve. H. Senduk) yah. Menurut kita di internal GBI, kesehatan itu asal masih bisa bangun yah itu masih bisa (ditahbiskan), begitu pengertian kita. Kecuali kalau sudah tidak bisa bagun seperti struk yah baru gak bisa, yang kita lihat yah masih bisa jadi tidak ada masalah jika ditahbiskan”, jelas Pdt. Yonathan Sudarjadi.
Pandangan lain datang dari Pdt. Dr. dr. Dwidjo Saputro sebagai salah satu ketua di Badan Pengurus Harian GBI. Dikatakan bahwa hal ini harus dilihat dari runutannya, Pdt. George Tapiheru sudah menyetujui untuk dilaksanakannya pentahbisan tersebut melalui surat yang dilayangkannya ke BPD GBI Jakarta. Surat yang dibagian akhirnya dianggap bermakna ganda oleh kelompok penentang pentahbisan dianggap tidak relevan karena surat persetujuan tersebut merupakan legalisasi dari pentahbisan yang dilakukan oleh pihak BPD GBI Jakarta, untuk tafsirannya tersebut dianggap dipolitisasi oleh para penentang pentahbisan, dan gereja tidak boleh berpolitik.
“BPD memutuskan untuk menyetujui permintaan gembala setempat yaitu pak George Tapiheru yang mengajukan pak Steve Senduk untuk ditahbiskan. Pak George menyetujui pak Steve untuk menjadi gembala, itu runutannya, dia (Pdt. George Tapiheru) pembina sudah menyetujui,  jika tidak menyetujui yah gak perlu bikin surat ke BPD, atau jika hal tersebut tidak sesuai dengan tata gereja yah jangan disetujui dong. Tidak perlu ditafsirkan bersayap, walaupun yang membuat surat itu mengatakan itu bersayap, itukan politik, gereja gak ada politik. Kalau gembala pembina sudah menyetujui maka itu sudah sah, jadi jangan dilemparkan ke BPD seharusnya tanya yang menyetujui untuk dilantik. BPD hanya melantik setelah ada persetujuan dari gembala pembina setempat, memang setelah dinilai ada pro dan kontra dari jemaat namun itulah cerminan gereja. Intinya adalah BPD sudah mempertimbangkan hal ini setelah melewati komunikasi dengan banyak pihak dan sudah mempertimbangkan secara rohani juga”, tegas Pdt. Dr. dr. Dwidjo Saputro.
Lebih lanjut Pdt. Dr. dr. Dwidjo Saputro mengatakan bahwa permasalahan pro dan kontra di tengah jemaat GBI Eben Haezer itu bukan berada pada diri pak Steve Senduk namun berada pada kesatuan gereja itu sendiri. Mengenai persoalan lain dari Pdt. Steve H. Senduk yang dikatakan oleh kelompok penentang pentahbisan, dianggap merupakan hal yang pribadi. Pdt. Steve H. Senduk merupakan anak kandung dari pendiri GBI, oleh karena itu persoalan ini menurut Pdt. Dr. dr. Dwidjo Saputro, sebelumnya sudah dibicarakan ke para pendiri GBI yang merupakan ‘orang-orang tua’ yang ada di gereja, mereka sudah setuju untuk dilantik dan hal ini sudah dipelajari secara komprehensif. Penjelasan terakhir yang dikatakan Pdt. Dr. dr. Dwidjo Saputro adalah tidak ada persoalan dengan pentahbisan tersebut, pro dan kontra di tengah jemaat itu merupakan hal yang wajar dan bukan sesuatu yang perlu dibesar-besarkan oleh media.
Berbeda dengan BPD GBI Jakarta yang mengunakan ruang jawab sebagai perimbangan berita, hal yang berbeda ditunjukan ketika Reformata mencoba memberikan ruang jawab dengan mengklarifikasi ke pihak-pihak terkait. Ruang jawab yang sepatutnya dapat memberikan sudut pandang berbeda kepada pembaca tidak dapat terpenuhi, hal itu dikarenakan berbagai alasan bahkan ada yang mengajukan sejumlah syarat untuk dapat diwawancarai.
Pdm. Steve. H. Senduk yang ketika berbalas short message service (SMS) dengan Reformata hanya mau diwawancara dengan syarat Reformata harus memberitahu siapa pihak yang menolak pentahbisan dirinya dan menjelaskan kronologis mengenai hal-hal yang menjadi keberatan terhadap dirinya untuk ditahbisan, syarat ini dipersilakan untuk dikirim lewat surat elektronik miliknya, walau sudah dijelaskan mengenai mekanisme penyebutan sumber anonim namun hal itu tidak dihiraukannya.
Pdt. DR. Amos Hosea yang oleh pihak penentang pentahbisan merupakan aktor intelektual dari suksesnya Pdm. Steve. H. Senduk menjadi gembala di GBI Eben Haezer saat dikonfirmasi lewat sms juga menolak untuk diwawancarai karena tidak dalam kapasitasnya untuk memberikan keterangan, begitu juga dengan Pdt. George Tapiheru yang secara tegas menolak untuk memberikan keterangan terkait polemik yang terjadi.                         ?Nick Irwan

Komentar

Top