APAKAH HUKUM TAURAT MASIH DIPERLUKAN?

Penulis : Pdt Robert R Siahaan | Wed, 4 November 2015 - 09:40 | Dilihat : 1951
1994231411403226979111112062939n.jpg

Kesalahpahaman terhadap keberadaan hukum Taurat tanpa disadari oleh banyak orang Kristen dapat berdampak pada kesalahan dalam memahami prinsip-prinsip kebenaran Alkitab,  termasuk dalam mempraktekkannya dalam kehidupan sehari-hari. Ada sekelompok orang Kristen yang sangat menekankan aspek anugerah Allah sehingga menganggap hukum Taurat tidak berlaku lagi karena hukum Taurat dianggap telah dibatalkan dengan tuntasnya karya kematian Yesus Kristus di kayu salib (Ef 2:15). Mereka beranggapan bahwa yang berlaku sekarang ini adalah hukum kasih, padahal sejatinya hukum kasih tetap berkaitan dengan banyak hukum-hukum Allah yang terkandung dalam hukum Taurat. Karena salah memahami bagian tertentu dalam Alkitab dapat mengakibatkan kesalahan pemahaman yang lebih jauh.

Tuhan Yesus sendiri sudah menegaskan bahwa hukum Taurat tidak pernah digugurkan: "Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya. Karena Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titik pun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi.” (Mat 5:17-18). Untuk itu perlu sekali memahami secara lebih utuh mengenai makna dan keberadaan dari hukum Taurat sebagaimana diajarkan di dalam Alkitab. Gagal memahami makna utuh dari hukum Taurat akan berarti gagal memahami kebenaran Firman Tuhan secara seutuhnya.  

John Calvin dalam bukunya Institutio (II.IV.20.14) menjelaskan bahwa ada tiga fungsi dari seluruh hukum Allah yang disampaikan melalui Musa, yaitu fungsi moral, ceremonial, dan sebagai hukum bagi umat Allah. Hukum moral berkaitan dengan sepuluh perintah Tuhan (10 Hukum Taurat) yang tertulis dalam Keluaran 20:1-17; fungsi seremonial berkaitan dengan tata cara ibadah umat Israel serta syarat-syarat pengorbanan; sedangkan fungsi hukum mengatur hal yang berkaitan dengan relasi antar umat Israel, berhubungan dengan kesehatan, kebersihan, penyakit, kejahatan, prosedur penghakiman, dan lain-lain. Selain itu ada tiga kegunaan dari keberadaan hukum Taurat bagi kehidupan iman orang percaya: pertama, sebagai cermin untuk melihat kesempurnaan kekudusan Allah dan melihat dengan jelas keberdosaan manusia (Roma 3:20, 4:15, 5:13, 7:7-11). Kedua, hukum Taurat berfungsi untuk menjaga umat Tuhan agar tidak melakukan dosa dan kesalahan, dan juga menegaskan bahwa semua kesalahan atau kebaikan yang dilakukan umat Tuhan terdapat ganjaran Allah didalamnya (Ul 13:6-11; Rm 13:3-4; Gal 6:7-8). Ketiga, menuntun dan mengarahkan umat Tuhan untuk mengerjakan kebenaran dan melakukan hal-hal yang menyenangkan hati Allah (Yeh 20:12; Mz 119; 1 Kor 9:20; Yoh 14:15; Ef 2:10). Rasul Paulus juga menegaskan bahwa hukum Taurat menjadi  pengawal dan penuntun sampai orang percaya menerima anugerah Allah melalui iman yang dikaruniakan Yesus Kristus. Hukum Taurat yang menunjukkan bahwa manusia berada di dalam dosa dan membutuhkan juruselamat (Galatia 3:11-24).

Dengan demikian kita tidak dapat meremehkan dan menggugurkan fungsi-fungsi dan kegunaan dari hukum Taurat dalam kehidupan beriman orang percaya. Pemahaman yang salah dari sebagian orang Kristen dan para hamba-hamba Tuhan yang sering berkhotbah bahwa Hukum Taurat tidak berlaku lagi dapat  mengakibatkan suatu asumsi yang merugikan bagi umat Kristen. Jika Hukum Taurat tidak berlaku lagi (cat. hanya dalam konteks tuntutan bagi keselamatan) seolah-olah tuntutan  hidup kudus bagi orang Kristen bukanlah suatu keharusan lagi. Hal ini dapat mengakibatkan lemahnya tingkat keseriusan umat Tuhan dalam mentaati hukum-hukum moral Alkitab. Banyak orang Kristen yang semakin lemah tingkat ketaatannya kepada perintah-perintah Tuhan dan cenderung menawar untuk hidup dalam kebebasan nilai dan membiarkan dirinya menyesuaikan diri dengan norma-norma hidup duniawi. Dengan alasan-alasan bahwa orang Kristen tidak lagi hidup di bawah tuntutan Taurat, kemudian merasa bebas melakukan perbuatan-perbuatan kedagingan karena berpikir sudah menerima anugerah keselamatan kekal dari Allah.

Memang benar semua tuntutan hukum Taurat yang berkaitan dengan keselamatan telah dibatalkan oleh kematian Kristus di kayu salib, namun perlu diperhatikan juga bahwa masih sangat banyak perintah-perintah dalam hukum Taurat yang tidak dibatalkan oleh Allah. Dalam arti akan tetap menjadi prinsip kebenaran Allah yang harus dilakukan oleh orang Kristen di masa sekarang ini hingga kedatangan Tuhan Yesus kedua kali. Mengapa demikian? Karena sifat moral dan kekudusan Allah tidak pernah berubah dari selamanya hingga selamanya (Mal 3:6). Jika hukum Taurat tidak berlaku lagi, bukankah itu berarti sepuluh perintah Allah, maupun tuntutan dan syarat Ibadah umat Allah dan Hukum kehidupan bermasyarakat Israel di Alkitab tidak berlaku lagi?  Apabila sepuluh perintah Allah tidak berlaku lagi (hukum Taurat) apakah itu berarti semua yang dulunya dilarang sekarang menjadi boleh? Perintah untuk hidup mentaati hukum-hukum dan perintah serta mengasihi Allah dengan hidup dalam kebenaran Alkitab tentunya tidak pernah berubah sekalipun seseorang telah menerima anugerah keselamatan kekal dalam kematian Kristus. Misalnya perintah untuk tidak menyembah illah lain atau jangan membuat patung yang dijadikan obyek penyembahan (dijadikan ilah) serta agar tidak menyebut nama Tuhan dengan sembarangan, menghormati hari Sabat, menghormati orangtua, jangan berzinah, jangan mencuri, jangan membunuh, jangan berdusta, jangan mengingini milik sesamamu justru semakin besar tuntutannya bagi orang yang telah menerima Kristus. Semua itu bukan dilakukan lagi sebagai suatu kewajiban untuk menerima perkenanan dan keselamatan dari Allah. Namun menerimanya dan melakukannya dalam kerangka mengasihi Allah dan menghormati kekudusan Allah. Hidup dalam kekudusan yang ketat dan serius tentunya juga bukan dalam rangka supaya diselamatkan dan menerima hidup yang kekal. Namun merupakan suatu respon atas pemahaman akan kasih dan anugerah Allah yang begitu besar dan sebagai dampak dari memahami betapa kudusnya Allah dan betapa seriusnya Allah menuntut umat-Nya hidup dalam kebenaran-Nya (Yoh 3:16; 1 Pet 1:13-19; Kol 3).

Hidup dalam kekudusan sejatinya adalah salah satu bukti bahwa seseorang benar-benar telah hidup di dalam kasih karunia Kristus. Orang Kristen yang telah benar-benar memahami tuntutan Allah bagi kehidupan yang dikehedaki Allah akan benar-benar mengasihi Allah dengan segenap hati, jiwa, akal budi dan kekuatannya: “Maka sekarang, hai orang Israel, apakah yang dimintakan dari padamu oleh TUHAN, Allahmu, selain dari takut akan TUHAN, Allahmu, hidup menurut segala jalan yang ditunjukkan-Nya, mengasihi Dia, beribadah kepada TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu.” (Ulangan 10:12; Yosua 22:5; Ef 2:10; Mat 22:37-40). Justru tuntutan hidup kudus menjadi semakin besar dan semakin mutlak bagi orang Kristen yang telah menerima penebusan dan keselamatan di dalam kematian Kristus (Mat 5:1-18). Tuhan Yesus juga mengajarkan bahwa hukum kasih menjadi hukum utama bagi hidup orang Kristen: “Jawab Yesus kepadanya: "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi." (Matius 22:37-40). Yohanes juga menegaskan: “Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih.” (1 Yoh 4:8). Hanya pengampunan dan penebusan Tuhan Yesus di kayu salib yang memungkinkan hukum kasih ini dikerjakan oleh orang Kristen. Sebelum seseorang dilahirbarukan di dalam kematian Kristus melalui pekerjaan Allah Roh Kudus, tidak ada seorang manusia yang sanggup mengasihi Allah maupun sesamanya sebagaimana yang Allah inginkan (Titus 3:5).
Demikian juga berkaitan dengan hukum Taurat, sesungguhnya tidak ada seorang pun yang sanggup memenuhi tuntutan hukum Taurat secara utuh jika ia masih di dalam status keberdosaannya. Karena tuntutan kekudusan Allah bersifat sempurna sehingga tidak ada manusia yang sanggup menjalankan semua tuntutan hukum Taurat secara sempurna. Dengan demikian manusia dalam keberdosaannya tidak berdaya terhadap hukum Taurat. Andaikata pun ada orang yang sanggup melakukan hukum Taurat, Paulus menegaskan bahwa tidak seorang pun dapat dibenarkan karena ia melakukan hukum Taurat (Rm 3:20; Gal 3:21-22).
Keselamatan seutuhnya adalah anugerah Allah di dalam kematian Kristus di kayu salib (Ef 2:8-9). Bukan berarti hukum Taurat tidak diperlukan dan tidak berlaku lagi saat ini. Tanpa hukum Taurat manusia tidak dapat melihat dengan jelas kesucian Allah, manusia tidak dapat melihat keberdosaannya secara utuh dan jelas,  dan manusia tidak mengetahui akan perlunya pertobatan dan pendamaian oleh darah Yesus Kristus. Hukum Allah dalam hukum Taurat tetap merupakan hukum yang sempurna untuk kehidupan orang Kristen dalam rangka bersaksi bagi Kristus di tengah dunia yang semakin gelap moral. Allah mencari orang-orang Kristen yang mau menunjukkan kualitas iman dan moral yang menggambarkan diri-Nya sudah ditebus dan diampuni dalam kematian Kristus di kayu salib. Hidup dalam kasih karunia Allah bukan berarti bebas hidup untuk berkompromi dengan dosa, karena setiap pelanggaran dosa adalah pelanggaran terhadap hukum Allah (1 Yoh 3:4). Setiap orang yang telah diselamatkan dalam anugerah Allah sejatinya akan mentaati perintah-perintah Tuhan secara serius dan bertanggungjawab dalam rasa hormat dan syukur kepada Allah. Soli Deo Gloria.

(Penulis melayani di Gereja Santapan Rohani Indonesia Kebayoran Baru).

Lihat juga

jQuery Slider

Komentar

Top