Melayani Tuhan di Luar Kemampuan

Pak Pendeta, saya sering merenungkan serius kisah dalam kitab Injil tentang seorang janda miskin yang memberikan seluruh uangnya untuk dipersembahkan kepada Tuhan. Dia memberikan seluruh uangnya sehingga mungkin dia sampai tidak makan hari itu. Dalam konteks lain, pada masa sekarang kita juga sering melihat orang yang bekerja di ladang Tuhan bahkan sampai di luar batas kemampuannya, bahkan meskipun kondisi kesehatannya sedang tidak memungkinkan. 

Beberapa waktu lalu saya prihatin dengan seorang hamba Tuhan yang sedang terganggu kesehatan, namun tetap berkhotbah di KKR akbar meski sambil menghapus hidung berkali-kali karena sedang pilek. Menurut ukuran kita sebagai manusia, tindakan janda miskin dan hamba Tuhan di atas mungkin suatu kebodohan. Pertanyaan saya, apakah Tuhan “suka” dengan cara-cara orang melayani seperti di atas? Terimakasih atas jawaban Pak Pendeta.

Lilies Soeratminto

Surabaya

 

Lilies yang dikasihi Tuhan,
       pertanyaan kamu tampaknya
       sederhana, namun sarat da-lam pemaknaan akan pelayanan, dalam konteks melayani Tuhan. Mengenai kisah janda miskin (Markus 12: 41-44), itu bukanlah kisah satu-satunya tentang pela-yanan yang luar biasa. Kita juga menemukan hal yang sama pada jemaat Makedonia (Kisah 8: 1-7), bagaimana mereka dengan gigih dan penuh suka cita ikut ambil bagian dalam pelayanan, justru di tengah kesulitan dan pelbagai penderitaan. Mereka tetap mela-yani sekalipun para rasul membe-rikan kelonggaran pada mereka karena situasi yang dihadapi. 

Baik janda miskin, maupun je-maat Makedonia, mereka sama-sama ambil bagian dalam pelayanan di tengah kesulitan. Mereka tidak berkeluh kesah tentang kekura-ngan, melainkan menghimpun apa yang ada untuk melayani Tuhan. Ini justru sikap iman yang sangat terpuji dan sudah seharusnya dimiliki setiap orang percaya. Sikap ini mencerminkan dengan jelas kepercayaan pada pemeliharaan Tuhan yang melintasi ruang dan waktu. Tuhan akan memelihara umat-Nya, khususnya para pelayan yang melayani Dia dalam kebena-ran, kesetiaan dan kesungguhan.

Kisah ini telah menjadi contoh teladan bahwa mereka tidak men-jadi “habis” hanya karena membe-rikan apa yang masih ada pada mereka, dan sesudah itu tak punya persediaan. Betapa hebat-nya iman mereka. Sebuah sikap iman yang semakin langka di masa kita sekarang ini, yaitu masa yang penuh dengan hitungan angka. Angka yang dijadikan ukuran se-bagai diberkati Allah. Angka yang sama juga dijadikan ukuran kema-juan gereja. Dan, lagi-lagi, juga angka kompensasi yang akan dite-rima jika terlibat melayani, bahkan juga “rate” jika diundang berkhotbah.

Lilies yang dikasihi Tuhan, di te-ngah perspektif pelayanan yang berorientasi pada angka seperti ini, maka apa yang dilakukan oleh janda miskin dan jemaat Makedonia, me-mang menjadi sulit dimengerti, atau bahkan dianggap sebagai tin-dakan yang bodoh dan emosional. Secara teologis kita sadar sesadar-sadarnya, bahwa Tuhan Allah yang kita percaya bukanlah Tuhan yang tidak punya apa-apa sehingga perlu pemberian kita. Sebaliknya, semua yang kita miliki: diri, waktu, tenaga, hingga harta, atau apa saja, adalah pemberian Tuhan. Maka jika memberi, tentu saja ha-rus disadari, kita hanyalah mengem-balikan apa yang berasal dari Tuhan, untuk kemuliaan Tuhan, dan dipakai untuk pelayanan gereja Tuhan.

Jadi, dalam sikap yang benar seperti ini, janda miskin, dan je-maat Makedonia, tidak merasa itu beban yang memberatkan, dan juga tidak akan berhitung soal kembali berapa kali lipat. Sikap yang mengharap persembahan yang diberikan akan kembali bebe-rapa kali lipat, tidak lebih seperti mantera dalam kebiasaan orang memberi sesajen, agar mendapat kemurahan dewa. Umat harus sa-dar dia hanya mengembalikan milik Tuhan, dan percaya, bahwa Tu-han selalu memelihara umat-Nya dengan sejuta cara. Jadi, ini bukan sikap “show rohani” (yang ini me-mang tidak boleh). Dalam kisah ini, tindakan janda miskin sangat dipuji oleh Tuhan Yesus, semen-tara tindakan jemaat Makedonia diapresiasi tinggi oleh Rasul Paulus. Artinya, pelayanan mereka bukan pemaksaan diri, atau gambaran suatu kebodohan, melainkan dorongan Roh Kudus yang luar biasa. Justru inilah pelayanan yang benar, melakukan apa yang Tuhan suka, bukan melakukan apa yang kita suka.

Sementara soal fisik sakit, dapat kita lihat pada Paulus yang men-dapat duri yang sangat meng-ganggunya (2 Korintus 12: 7-10), namun Paulus tetap setia dalam melayani. Bahkan dalam 2 Ko-rintus 4: 8-9, Paulus berkata bah-wa dalam pelayanannya seringkali dia mengalami penindasan namun tidak terjepit, habis akal namun tidak putus asa, dianiaya namun tidak ditinggal, dihempaskan na-mun tidak binasa. Mengapa masih tetap setia? Apakah Paulus bo-doh, sehingga menerima se-muanya begitu saja? Jelas Paulus tidak bodoh, dia seorang yang sa-ngat cerdas, sekaligus seorang yang sangat mengerti arti melayani Tuhan. “Bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan”, ungkap Paulus dalam Filipi 1: 21.

Penderitaan karena pelayanan adalah anugerah, itu sebuah peng-hormatan sebagai pengikut Kristus (Filipi 1: 29). Lalu, Timotius yang dalam masa pelayanannya sering terganggu pencernaannya, se-hingga Paulus memintanya untuk juga meminum sari anggur. Apakah Tuhan suka atas apa yang mereka lakukan? Jelas sekali, dan itu meru-pakan prinsip pelayanan dari para rasul, yang memang rata-rata mati syahid dalam pelayanan mereka.

Hamba Tuhan yang kamu cerita-kan pasti punya alasan sendiri da-lam mengambil keputusan tetap melayani sekalipun dia sedang flu berat. Tidak ada yang salah, kecuali itu adalah sebuah pemaksaan diri, jelas tidak bijak. Tapi jika itu sebuah panggilan Tuhan, dan dia merasa sejahtera melakukannya, bukankah itu sebuah kehormatan? Saya pri-badi tidak sekali-dua kali diperha-dapkan pada situasi seperti itu. Saya bergumul dalam doa, ada perasaan ingin membatalkan pela-yanan karena kondisi fisik yang ku-rang memungkinkan, tapi doro-ngan untuk meneruskan sangat kuat, dan saya tidak bisa me-nolaknya. Lewat pergumulan doa, saya merasa yakin penuh bahwa ini merupakan kehen-dak Tuhan, maka saya jalani.

Tentang hal ini, banyak orang tidak bisa mengerti, bahkan salah paham, dan me-ngatakan saya terlalu memak-sakan diri (saya juga bisa me-ngerti atas kesalahpahaman itu). Ingat, hal ini harus mele-wati pergumulan doa dan pe-ngujian hati. Alkitab berkata “Cinta akan rumah Tuhan menghaguskan diri” (Yohanes 2: 17, Mazmur 69:10), yang artinya, kecintaan melayani Tuhan membuat kita bisa melakukan apa saja untuk kemuliaan Tuhan, tanpa kita kehabisan daya, bahkan sangat bahagia, sekalipun ada aniaya. Sebuah realita paradoks yang tidak sederhana, tapi itulah melayani Tuhan. Seka-rang banyak orang kehilangan nilai sejati dalam melayani, sehingga hanya berorientasi pada materi atau kepuasan diri, sehingga tidak suka melayani seperti para rasul melayani.

Baiklah Lilies di Surabaya, se-moga penjelasan ini memberi pen-cerahan dalam memaknai pelaya-nan yang seharusnya. Tuhan mem-berkati, dan selamat melayani de-ngan kobaran api yang dahsyat oleh Roh Tuhan.

Recommended For You

About the Author: Pdt Bigman Sirait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *