Manajemen

Worldview

Penulis : Harry Puspito | Mon, 12 January 2015 - 11:32 | Dilihat : 2284
Ilustrasi, Sumber Foto: Barbwire.com

 Harry Puspito
(harry.puspito@yahoo.com)*

Ada berbagai alasan keluarga menyekolahkan anak mereka ke luar negeri tapi salah satu yang yang kadang kita dengar adalah agar ‘worldview’ anak itu berubah. Alasan yang sama sering kita dengar ketika suatu organisasi mengirim staf mereka mengikuti pendidikan di negara lain, negara yang lebih maju. Kita bisa menangkap maksud mereka, orang tua atau pemimpin organisasi itu, yang menginginkan agar anak atau staf mereka mengalami perubahan yang signifikan dalam perilaku mereka melalui perubahan cara mereka berpikir – belajar dari masyarakat di suatu negara yang negeri lebih modern. Dengan demikian anak atau orang tersebut akan mengalami perubahan yang signifikan, menjadi lebih bertanggung-jawab, lebih mandiri, memiliki pandangan yang lebih luas, mampu berpikir dewasa, lebih kreatif dan akhirnya menampilkan kinerja yang lebih baik.
Oleh karena manusia adalah mahluk yang berpikir dan berperilaku, maka kita bisa mengatakan bahwa setiap orang memiliki ‘worldview’ atau ‘wawasan dunia’ atau ‘cara pandang dunia’. Cara pandang ini mempengaruhi bagaimana seseorang melihat dunia dan realitas serta kejadian-kejadian di dunia dan di sekitarnya. Orang dengan sudut pandang yang berbeda akan mengartikan sukses dan bagaimana bisa sukses secara berbeda. Ada yang melihat sukses dari sisi materi tapi orang lain mungkin berpikir terkait dengan Sang Pencipta. Oleh karena itu cara bagaimana orang menjadi sukses ada yang melihat sekedar melalui kerja keras pribadi; tapi di pihak lain ada yang meyakini keterlibatan Tuhan dalam menggapainya.
Oleh karena itu, cara pandang sering digambarkan sebagai lensa dari kaca mata seseorang. Jenis kaca lensa bisa membuat orang memandang suatu fenomena dengan jelas tapi juga bisa membuatnya kabur sehingga sampai pada situasi salah memahami suatu obyek yang mereka lihat. Sedangkan pada tingkat yang ringan, kaca mata bisa memberi warna atau penekanan yang berbeda terhadap suatu kenyataan bagi orang yang berbeda cara pandangnya.  Secara lebih teknis, worldview bisa didefinsikan sebagai sejumlah asumsi-asumi mendasar yang ada dalam diri seseorang mengenai isu-isu yang penting dalam kehidupan ini. Worldview menjadi suatu kerangka bagi orang untuk memahami dunia. Setiap orang membangun cara pandang ini dari pengalaman hidup, pilihan maupun keputusan-keputusan yang dibuat sepanjang perjalanan hidupnya. Dari wawasan dunia itu, maka akan membangkitkan nilai-nilai atau prinsip-prinsip yang seseorang pegang. Selanjutnya nilai-nilai utama orang itu akan mempengaruhi keyakinan-keyakinan dan sikap-sikap mereka, perilaku-perilaku dan penampilan orang tersebut di tengah masyarakat.
AS adalah negara yang mayoritas masyarakatnya (lebih dari 70%) mengklaim sebagai orang Kristen bahkan menurut survey yang dilakukan oleh George Barna pada tahun 2003, mayoritas berpikir AS adalah sebuah negara Kristen. Namun yang mengejutkan, dengan pengukuran sederhana menggunakan 6 pertanyaan tentang keyakinan-keyakinan tentang kekristenan yang paling mendasar, ternyata hanya 4% dari orang AS yang bisa dikategorikan memiliki Christian worldview atau wawasan dunia Kristen. Hasil-hasil lain yang mengejutkan bahkan mereka yang mengklaim sebagai orang Kristen ‘lahir baru’ hanya 9% yang memiliki wawasan dunia Kristiani dan cukup aneh bahwa di antara kelompok pendeta pun ternyata hanya separuh (51%) yang berwawasan dunia Kristen. Jika para pemimpin kekristenan sendiri tidak memiliki wawasan dunia Kristen, ditambah lagi dengan pendekatan-pendekatan pemuridan yang tidak efektif, tidak heran kalau akhirnya dengan pengujian yang sederhana itu didapatkan hasil yang sangat mengecewakan.
Bagaimana dengan masyarakat Kristen di Indonesia? Penulis yakin belum ada survey serupa yang cukup luas untuk menarik kesimpulan yang sahih. Namun jika kita mengamati gejala-gejala perilaku orang Kristen di negeri ini, penulis takut situasi di Indonesia tidak lebih baik. Dengan cara ‘induktif’ yaitu dari mengamati gejala-gejala yang terjadi dan menarik ke cara pandang kemungkinan ini sangat mungkin terjadi. Misalnya, begitu banyak orang Kristen yang terlibat dalam korupsi baik dalam skala kecil mau pun besar. Banyak jemaat Kristen yang hadir di kebaktian-kebaktian seperti menonton bioskop, pulang begitu kebaktian selesai dan tidak saling mengenal satu dengan yang lain. Dalam ibadah-ibadah kita bisa melihat banyak jemaat yang sibuk dengan gadgetnya, bukan untuk membaca Firman Tuhan atau mencatat kotbah tapi membuka media sosial atau mengirimkan pesan seolah-olah tidak ada kehadiran Tuhan di tengah-tengah ibadah itu. Jika di ibadah-ibadah orang percaya tidak melihat kehadiran Tuhan dan bersikap gentar dapat dipastikan di tengah tempat kerjanya, mereka juga tidak berpikir kalau Tuhan itu berkuasa dan memerintah.
Kita hidup di jaman yang serba instan, dimana orang mau cepat menjadi ‘berhasil’ tapi malas belajar serius. Kita cenderung mencari informasi secukupnya dan yang mudah-mudah. Internet menolong kita untuk mendapatkan pengetahuan-pengetahuan yang kita butuhkan. Akhirnya kita tidak pernah belajar secara serius melalui buku-buku atau artikel-artikel yang serius. Akibatnya pengetahuan kita menjadi dangkal dan tidak utuh. Dalam pemberitaan Firman, jarang jemaat yang mencatat kotbah apalagi mempelajari lebih lanjut dan berpikir mengaplikasikannya secara sistematis. Program pemahaman Alkitab tidak mendapatkan perhatian jemaat. Akibatnya, orang percaya juga menjadi tidak memiliki pengetahuan yang memadai mengenai Firman Tuhan. Jika demikian bagaimana dia bisa memiliki wawasan dunia Kristen yang solid? Bagaimana dengan saudara dan saya – seberapa semangat kita menekuni Firman Tuhan? Keseriusan kita belajar Firman akan mempengaruhi pembentukan wawasan dunia kita yang pada akhirnya menolong kita melihat dunia kita.


BERSAMBUNG....

 

Lihat juga

jQuery Slider

Komentar


Group

Top