Manajemen

Bagaimana Kita Meninggalkan Comfort Zone?

Penulis : Harry Puspito | Sun, 14 March 2021 - 14:02 | Dilihat : 363

Kata-Nya kepada mereka semua: "Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku. Lukas 9:23

Dalam beberapa tulisan terakhir kita sudah membahas berbagai hal mengenai comfort zone atau zona nyaman. Ini adalah zona-zona dalam kehidupan yang kita merasa nyaman tinggal di dalamnya. Jika kita tidak berani dan terlatih meninggalkan zona nyaman kita itu untuk memasuki tantangan-tantangan yang baru, kita akan mandeg dalam perjalanan iman kita. Sehingga hidup kita tidak mengalami kepuasan, sukacita dan damai sejahtera yang Tuhan sebenarnya sediakan bagi kita.

Sebagai orang percaya, semua keputusan dan tindakan kita harus didasarkan pada iman kita kepada Yesus Kristus. Tanpa iman kita tidak bisa berkenan kepada Dia (Ibrani 11:6) dan apa yang kita kerjakan tanpa dasar iman menjadi dosa (Roma 14:23). Ketika kita hidup dengan iman, maka kita melakukan rencana-rencana Allah bagi hidup kita.

Tuhan mempunya rencana pekerjaan-pekerjaan baik yang telah disiapkan bagi orang-orang yang Dia selamatkan yang Dia mau kita hidup di dalamnya (Lihat Efesus 2:10). Rencana-rencana yang Tuhan tampilkan kepada masing-masing pribadi dalam bentuk peluang-peluang secara bertahap, sesuai dengan hikmat-Nya dan kesiapan kita, terus menarik kita ke dalam situasi-situasi yang baru. Ini sering membuat kita tidak merasa nyaman dan karenanya sering kita coba hindarkan untuk masuk di dalamnya.

Tuhan Yesus telah menunjukkan contoh bagaimana Dia meninggalkan Comfort Zone-Nya - surga yang mulia dan kebersamaan dengan Allah Bapa dan Roh Kudus, masuk ke dunia yang dikuasai Iblis dan dosa. Di dunia Dia harus mengalami segala tantangan, hujatan dan penderitaan demi untuk mengerjakan satu misi besar, menyelamatkan manusia dan mempersiapkan suatu Kerajaan Sorga yang baru. Tantangan yang dihadapi-Nya bahkan hingga membawa kematian fisik.

Dalam misi-Nya itu, Yesus menawarkan kepada kita semua untuk menjadi bagian Kerajaan-Nya itu. Dia mengundang kita untuk menjadi pengikut atau murid-Nya. Jika kita menerima panggilan-Nya itu, maka ini akan menjadi pengalaman meninggalkan Comfort Zone kita yang terbesar, dilihat dari situasi diri yang kita tinggalkan dan situasi baru yang kita masuki. Kita dipanggil untuk hidup bersama Dia dalam Kerajaan-Nya, yang kita sering sebut dalam keselamatan-Nya; tapi juga sekaligus untuk memenuhi panggilan berikut, yaitu untuk melakukan perbuatan-perbuatan baik yang sudah Allah persiapkan itu (Efesus 2:10).

Sebagai orang yang sudah lama terjebak dalam zona nyaman 'ego', hidup tanpa Tuhan dalam menjalan kehidupannya, kepada zona baru yang menuntut ketaatan kepada Kristus, tentu menjadi tantangan besar bagi orang percaya. Namun Tuhan menyediakan segala yang kita perlukan untuk hidup dalam rencana mulia-Nya itu - pimpinan-Nya melalui firman dan kehadiran-Nya yang sekaligus memberikan kekuatan untuk menjalani kehidupan baru kita.

Bukankan satu perintah Yesus yang tegas mensyaratkan kita untuk menyangkal diri dan memikul salib-Nya sebelum mengikut Dia (Lukas 9:23). Untuk memenuhi panggilan-panggilan-Nya, modal pertama dan utama kita adalah 'menyangkal diri,' artinya kita harus siap mengosongkan pusat kendali hidup kita, hati kita, dari penguasaan oleh ego atau diri sendiri. Sebaliknya, kita menyerahkan hati kita kepada Allah. Sehingga ketika kita menghadapi segala tantangan memasuki dan dalam situasi yang baru, bukan ego kita yang menghadapi tapi Allah yang pegang kendali. Dengan kata lain, kita keluar dari kehidupan oleh 'ego' kecil (expel God out) dan masuk ke hidup yang dipimpin oleh EGO besar (Exalt God Only).

Selanjutnya kita harus siap 'memikul salib.' Secara mental kita perlu siap menderita bagi Kristus, bukan karena melakukan dosa atau kebodohan sendiri. Seperti para murid pada jaman-Nya, kita harus siap mengikut Dia secara total, bahkan kalau perlu hingga mati. Dikatakan juga, kita perlu siap memikul salib itu setiap hari, artinya tidak sewaktu-waktu, selama kita hidup di dunia.

Setelah kita bersedia menyangkal diri dan memikul salib, baru kita 'mengikut Dia,' yaitu kita mampu untuk menaati perintah-perintah dan memenuhi panggilan-panggilan-Nya. Hanya dengan mengikuti perintah dan petunjuk-Nya itu kita siap terus menerus meninggalkan zona nyaman kita dan berani melangkah memasuki zona-zona kehidupan baru kita. Bagaimana dengan kita? Dengan memahami Firman-Nya, kita memahami kehidupan yang Tuhan kehendaki. Dalam persekutuan yang intim dengan Kristus, kita diberikan keberanian dan hikmat-Nya untuk melangkah keluar dari comfort zone kita memasuki tantangan-tantangan baru, yang Tuhan siapkan bagi kita. Tuhan Yesus memberkati!

*****

Lihat juga

Komentar


Group

Top