
Gereja dan komunitas iman menanggapi budaya digital sebagai konteks baru. Isu ini mencakup bagaimana komunitas iman terbentuk di ruang virtual, keterhubungan (connecting) daripada sekadar berkumpul (gathering), dan etika pastoral di era teknologi.
Pertanyaannya:
1.Apa tantangan utama dalam mengembangkan Teologi Digital dan Hybrid di era modern ini?
2.Apa dampaknya terhadap pertumbuhan rohani orang percaya serta hubungan yang dalam antar sesama orang percaya?
Redward, Lippo Karawaci
Jawaban
Secara klasik pemahaman ekklesiologi kita bahwa Gereja adalah komunitas orang yang dipanggil keluar dari gelap kepada terang yang ajaib sebagai Tubuh Kristus konteksnya adalah on-site bukan on-line. Setiap anggotanya hadir [secara fisik] beribadah untuk bersekutu dan berbagi demi pembangunan Tubuh Kristus, yang pada gilirannya menjadi saksi Injil bagi dunia untuk menjadikan semua bangsa murid Kristus.
Sementara pemahaman ekklesiologi dengan budaya digital yang ukurannya dengan berapa banyak likes, viewers dan followers sebenarnya tidak beda sekedar sebuah siaran yang mengusung informasi ketimbang transformasi. Gereja hybrid sekedar sebuah penampilan pertunjukan dan bukan persekutuan yang setiap anggotanya berhimpun dan terhubung untuk bertumbuh dan memiliki karakter Kristus sebagai murid-Nya!
Belum lagi peran gereja melalui persekutuan [koinonia], pelayanan [diakonia] dan marturia [kesaksian] serta ibadah [latreia] untuk membentuk murid Kristus melalui sebuah proses waktu, disiplin, kesetiaan, ketekunan bahkan penderitaan menjadi sulit mengukurnya karena budaya digital lebih sekedar sebuah pertunjukan yang menghibur, segalanya begitu cepat, singkat dan praktis. Pembentukan karakter dengan spiritualitas yang mendalam akan sulit terjadi dengan munculnya bentuk gereja-gereja baru melalui Youtubers, tik-tokers, atau potongan khotbah mereka yang hanya sekedar menyentuh emosi ketimbang logika.
Tanpa sadar pemimpin gereja yang mengusung teologi dan budaya digital sebagai tujuan dan bukan alat yang mempercepat mencapai tujuan hanya akan membentuk anggotanya dengan komitmen yang rendah untuk menjadi murid Kristus. Mereka hanya akan terbius dengan tokoh-tokoh viral karena followersnya yang jutaan. Padahal yang diutamakan adalah terjadinya kebangunan rohani yang berpusat pada Kristus untuk sebuah komunitas yang transformatif.
Jadi jangan heran jika ada anggota gereja yang bisa mengikuti sekian banyak kanal youtube atau live streaming yang disediakan gereja-gereja demi memuaskan “hasrat rohani” yang sudah barang tentu akan menyulitkan mengurus hal-hal pastoral untuk membentuk komitmen dan tanggungjawab sebagai Tubuh Kristus karena tidak memiliki “sense of belonging” dan ikatan.
Kalau para pemimpin gereja ingin menggunakan teknologi dengan mengadopsi teologi dan budaya digital, perlu ada revisi cara penyampaian dan bukan revisi isi agar setiap anggota mengalami pertumbuhan iman yang menghasilkan pertobatan otentik dan menghasilkan buah Roh sebagai pengikut yang setia dan berkarakter Kristus. Juga perlu diwaspadai yang sering terjadi dengan teknologi AI [artificial intelligence] muncunya identitas palsu yang ajarannya membingungkan karena memang Iblispun bermain didalamnya dengan menyelinap untuk menciptakan gosip yang menimbulkan debat yang menciptakan perpecahan.
Sekaranglah waktunya para pemimpin gereja duduk bersama untuk memiliki panduan pastoral agar sakramen dapat dilaksanakan dengan hikmat & benar. Begitu juga dengan pemuridan serta penggembalaan sebagaimana gereja wajib melakukannya agar pertumbuhan rohani para anggotanya berlangsung. Dan pada gilirannya mereka adalah murid yang berkarakter Kristus yang siap diutus untuk menjadikan semua bangsa murid Kristus!
Jika anda membutuhkan konsultasi teologi,
silakan mengirim pertanyaan ke sekretariat yapama WA: 0811-8888-804