
“Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.” (Roma 12:2)
Dalam keseharian kita di dunia kerja, persoalan yang paling sering menyita energi seorang pemimpin Kristen bukanlah soal nilai-nilai rohani, melainkan hal manajerial: bagaimana mengejar target penjualan, efisiensi operasional, dan efektivitas tim. Dunia profesional sangat menekankan hasil nyata. Di tengah tekanan ini, kita sebagai pemimpin Kristen—baik yang memimpin perusahaan sekuler maupun organisasi pelayanan—justru menjadi pihak yang rentan kehilangan arah. Kesibukan mengejar how to sering kali membuat kita lupa berhenti dan bertanya: agenda siapa yang sebenarnya sedang kita jalankan di kantor atau bisnis kita?
Memikirkan strategi bisnis dan metode kerja yang kompetitif tidaklah salah. Manajemen yang profesional adalah bagian dari tanggung jawab kita sebagai pengelola (steward) yang baik. Namun, masalah muncul ketika perhatian kita terlalu terfokus pada cara mencapai sukses materi, sehingga arah kepemimpinan kita perlahan bergeser. Tanpa disadari, peran kita yang semula dimaksudkan untuk mewakili Kristus di dunia kerja berubah menjadi sekadar pengejaran ambisi pribadi, pengamanan posisi, atau pemenuhan target organisasi menurut ukuran dunia semata.
Henry T. Blackaby dan Richard Blackaby merumuskan ini dengan tajam: “Spiritual leadership is moving people on to God’s agenda.” Pernyataan ini menegaskan bahwa perbedaan utama kita bukan terletak pada teknik manajerial yang kita gunakan, melainkan pada ke mana kita mengarahkan orang-orang. Kita tidak dipanggil untuk membawa tim kita mencapai target institusional semata, tetapi untuk memastikan bahwa dalam proses mencapai target tersebut, kehendak Allah dikerjakan.
Agenda Allah di tengah dunia profesional bukanlah konsep abstrak. Ia mewujud nyata melalui prioritas yang melampaui sekadar profit, antara lain, dengan mengembangkan:
- Pengembangan manusia melampaui sumber daya. Dunia sekuler melihat orang sebagai “aset” untuk mencapai profit. Namun, agenda Allah adalah manusianya. Agenda Allah terjadi ketika kita tidak hanya mengejar kinerja tim, tapi juga peduli membimbing mereka agar menjadi pribadi yang lebih jujur, berkarakter dan memiliki integritas melalui tantangan pekerjaan mereka.
- Integritas sistem dan transparansi. Allah peduli pada cara kita memenangkan persaingan bisnis. Menjalankan agenda Allah berarti menerapkan sistem kerja yang adil, menolak praktik suap atau “uang pelicin”, dan menjaga kejujuran laporan keuangan—bahkan ketika kompetitor menggunakan cara-cara yang tidak jujur untuk menang.
- Shalom dalam budaya organisasi. Kita dipanggil membawa kesejahteraan bagi tempat kita bekerja. Ini berarti menciptakan budaya kerja yang sehat (bukan toksik), menghargai martabat bawahan, dan memastikan produk kita benar-benar menjadi berkat bagi konsumen dan masyarakat luas.
- Kepemimpinan yang memberdayakan. Kita beralih dari keinginan untuk “dilayani” oleh bawahan menjadi keinginan untuk “membantu” tim mencapai potensi terbaik mereka. Posisi kita di perusahaan adalah sarana untuk melayani kepentingan orang banyak, bukan membangun kejayaan pribadi.
Roma 12:2 menantang kita untuk tidak menjadi serupa dengan pola dunia yang menghalalkan segala cara demi pencapaian. Tanpa pembaruan budi, kita akan terjebak menganggap manusia hanya sebagai alat. Agenda Tuhan tidak meniadakan profesionalisme, tetapi menundukkannya pada kehendak-Nya. Tuhan tidak menolak kesuksesan organisasi, namun Ia menuntut motif yang benar di baliknya.
Di sinilah ketegangan sering muncul. Agenda Tuhan di dunia bisnis tidak selalu identik dengan solusi tercepat atau paling populer. Ia sering kali menuntut kejujuran dan keadilan yang “mahal” harganya. Namun, sebagai pemimpin yang mewakili Kerajaan Allah di dunia sekuler, kita menyadari bahwa keberhasilan jangka pendek yang dicapai dengan mengorbankan integritas pada akhirnya akan merusak kesaksian iman dan kualitas kepemimpinan kita sendiri.
Yesus Kristus adalah teladan kita. Ia memimpin dengan integritas mutlak, menolak jalan pintas menuju kekuasaan yang menjauhkan-Nya dari kehendak Bapa. Secara praktis, kita dapat menjaga agenda Tuhan tetap utama di kantor dengan pendekatan berikut. Pertama, awali setiap analisis strategi dengan bertanya: nilai kebenaran apa yang harus kita pertahankan di sini? Kedua, mengukur keberhasilan kita tidak hanya dari angka pencapaian, tapi dari seberapa banyak orang yang bertumbuh karakternya. Ketiga, pilih jalan yang benar meskipun akan lebih lambat dalam memberikan keuntungan materi.
Kita dipanggil bukan sekadar menjadi manajer yang andal dalam how to, tetapi menjadi pemimpin yang memastikan bahwa setiap langkah profesional kita tunduk pada agenda Tuhan. Di sanalah kepemimpinan kita di dunia ini menemukan makna dan dampaknya yang sejati. Tuhan Yesus memberkati.
Ev. Harry Puspito
Pendiri dan chairman MRI (Marketing Research Indonesia)