Ketika Buku Siswa Menjadi Kurikulum

Dalam praktik pendidikan Indonesia, kurikulum yang sungguh bekerja di ruang kelas bukanlah dokumen resmi yang disusun negara – baik Capaian Pembelajaran, Tujuan Pembelajaran, maupun Alur Tujuan Pembelajaran. Kurikulum yang nyata dan operasional adalah buku pelajaran. Apa yang tertulis di buku itulah yang diajarkan, dinilai, dan akhirnya dilaporkan dalam rapor.

lnilah persoalan struktural yang jarang dibicarakan secara jujur. Negara berbicara tentang kurikulum, pelatihan guru, dan transformasi pembelajaran, tetapi alat utama pembelajaranbuku pelajaransering luput dari pengawasan substantif.

Akibatnya, terbentang jurang antara apa yang direncanakan dalam dokumen kebijakan dan apa yang sungguh terjadi di ruang kelas.

Secara prinsip, buku pelajaran seharusnya menjadi terjemahan pedagogis dari kurikulum. la membantu guru menghidupkan tujuan pembelajaran, memfasilitasi proses berpikir, dan menyediakan konteks belajar yang bermakna. Namun dalam praktik, banyak buku pelajaran justru menunjukkan karakteristik yang berlawanan.

Dampaknya bagi Pembelajaran

Tidak sedikit buku pelajaran yang tidak selaras dengan kurikulum yang berlaku, baik pada tingkat capaian pembelajaran maupun arah pedagogisnya. Buku-buku tersebut cenderung mempertahankan paradigma pembelajaran lama, yang berpusat pada transmisi informasi, bukan pada pembentukan nalar.

Lebih jauh, isi buku sering menekankan hafalan dan prosedur mekanis, alih-alih pemahaman konseptual dan proses berpikir. Pembelajaran direduksi menjadi serangkaian latihan rutin yang kering dari pemecahan masalah nyata, sehingga terlepas dari kehidupan sehari-hari peserta didik. Tidak mengherankan jika buku-buku tersebut juga miskin konteks, refleksi, dan penalaran, yang seharusnya menjadi jantung pendidikan modern. Bahkan pada ranah afektif, banyak buku kurang melibatkan pembentukan karakter unggul, seperti kejujuran intelektual, tanggung jawab, ketekunan, dan empati.

Persoalan ini menjadi semakin serius karena buku-buku tersebut sering ditetapkan secara struktural oleh sekolah atau dinas pendidikan. Guru tidak terlibat secara bermakna dalam penilaian substansi, melainkan menerima keputusan yang telah final.

Dengan demikian, bukan kurikulum yang melahirkan buku, tetapi buku yang membajak kurikulum. Apa yang seharusnya menjadi sarana berubah menjadi penentu.

Kesalahan Tatanan

Kekeliruan semacam ini dapat dibaca sebagai kesalahan tatanan (ordo). Ketika sarana mengambil alih tujuan, seluruh sistem kehilangan arah. Buku, yang seharusnya melayani pembelajaran, justru menguasai pembelajaran. Guru tidak lagi berdaulat atas proses mengajarnya, dan murid belajar bukan berdasarkan kebutuhan perkembangan nalar, melainkan berdasarkan halaman yang harus dituntaskan.

Kondisi ini menjelaskan mengapa berbagai pelatihan guru sering tidak berdampak nyata. Guru dilatih tentang pembelajaran berbasis inkuiri, penguatan nalar, dan asesmen autentik, tetapi

kembali ke kelas dengan buku yang tidak menyediakan ruang bagi semua itu. lnovasi berhenti di kepala guru, karena buku pelajaran tidak memberi jalan.

Akibatnya adalah pembekuan pembelajaran. Kelas bergerak, tetapi tidak berkembang. Aktivitas ada, tetapi transformasi minim. Pendidikan berjalan dalam rutinitas yang aman secara administratif, namun miskin secara pedagogis.

Dalam kerangka ini, pendidikan tidak pernah netral. la selalu membawa visi tentang manusia dan pengetahuan. Buku pelajaran yang reduktif tidak hanya gagal mendidik secara akademik, tetapi juga mereduksi manusia menjadi penghafal informasi. Hal ini bertentangan dengan panggilan pendidikan sebagai upaya memanusiakan manusia di hadapan Allah dan sesama.

Tidak mengherankan jika hasil asesmen eksternal-baik nasional maupun internasional-terus menunjukkan stagnasi. Ketika pembelajaran sehari-hari tidak melatih penalaran, pemecahan masalah, dan refleksi, maka hasil belajar tidak mungkin melampaui batas buku yang digunakan. Output tidak pernah melebihi kualitas input.

Penutup

Persoalan ini bukan terutama persoalan guru, apalagi murid. lni adalah persoalan desain sistem. Selama buku pelajaran tidak ditata ulang secara seriussecara epistemologis, pedagogis, dan etisperubahan kurikulum akan terus berhenti di dokumen, bukan di kelas.

Reformasi pendidikan tidak dapat dimulai dari slogan. la harus dimulai dari alat yang paling menentukan praktik belajar. Dan alat itu, suka atau tidak, adalah buku pelajaran.

Kiranya refleksi ini mendorong kita menimbang kembali alat-alat pendidikan yang selama ini kita terima tanpa cukup pertanyaan.

Referensi

Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. Capaian Pembelajaran Kurikulum Merdeka.

OECD. PISA Results (2018, 2022): Reading, Mathematics, and Science Literacy.

Black, P. & Wiliam, D. (1998). Assessment and Classroom Learning.

Biesta, G. (2013). The Beautiful Risk of Education.

Fullan, M. (2016). The New Meaning of Educational Change.

 

Dr. Drs. Yohanes Moeljadi Pranata, M.Pd

Praktisi dan Dosen Keguruan/Kependidikan

Pengembang Kurikulum, Pembelajaran, Asesmen, dan Bahan Ajar

 

 

 

 

Recommended For You

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *