Santo Agustinus dari Hippo; Mencintai TUHAN di Sisa Hidup

Aurelius Augustinus kemudian dikenal sebagai Santo Agustinus, lahir tepatnya pada 13 November 354 di Tagaste, Algeria, Afrika Utara. Dibesarkan oleh seorang Ibu: Monika yang saleh bersama sang ayah Patrisius, seorang kafir yang kemudian bertobat dan dipermandikan menjelang saat kematiannya.  Sang ayah bercita-cita menjadikan anaknya seorang yang terkenal. Kecerdasan Agustinus sudah terlihat sejak kecil, mengantar dia belajar filsafat dan retorika. Akhirnya berhasil menjadi seorang  guru retorika di Kartago dan kemudian di Roma. Latar belakang hidup ayahnya memengaruhi dirinya. Ia menganut aliran Manikeisme, yaitu aliran yang menolak Allah dan sangat mengagungkan rasionalisme. Dirinya  meragukan semua kebenaran agama-agama.

KEKOSONGAN MENEMUKAN KEBENARAN

Pada usia 30 tahun karier Agustinus semakin bersinar. Ia dikenal sebagai seorang Professor yang sangat disegani di Milano. Namun demikian, Agustinus merasakan ketegangan dalam kehidupan di istana kerajaan. Dirinya menjadi gelisah, karena kekosongan jiwanya. Semua buku-buku ilmu pengetahuan yang dibacanya, tapi ia tidak menemukan kebenaran dan ketentraman jiwa.

“Apa ini yang kita lakukan?” teriaknya kepada Alypius, sahabatnya. “Orang-orang yang tak terpelajar memilih surga dengan berani. Tetapi kita, dengan segala ilmu pengetahuan kita, demikian pengecut sehingga terus hidup bergelimang dosa!” Dengan hati yang sedih, Agustinus pergi ke taman dan berdoa, “Berapa lama lagi, ya Tuhan? Mengapa aku tidak mengakhiri perbuatan dosaku sekarang?”

Suatu hari, Agustinus mendengar suara ajaib seorang anak: “Ambil dan bacalah!” Tanpa banyak berpikir, ia segera menjamah kitab Injil itu, yang selama ini dia abaikan. Kitab Suci dianggapnya terlalu sederhana dan tidak akan menambah pengetahuannya sedikit pun. Nasehat ibunya diabaikan. Namun kini dengan penuh getaran jiwa dibukanya dan membaca: “Marilah kita hidup sopan seperti pada siang hari, jangan dalam pesta pora dan kemabukan, jangan dalam perselisihan dan iri hati. Tetapi kenakanlah Tuhan Yesus Kristus sebagai perlengkapan senjata terang dan janganlah merawat tubuhmu untuk memuaskan keinginannya.” (Rom 13:13-14). Ini dia! teriak professor Agustinus dalam hatinya. Inilah yang ku cari. Sejak saat itu, Agustinus memulai hidup baru.

MENCINTAI TUHAN DI SISA HIDUP

Agustinus yang telah banyak mendalami filsafat itu akhirnya terbuka pikirannya dan melihat kebenaran sejati, yakni wahyu ilahi yang dibawakan Yesus Kristus. Ia kemudian bertobat dan bersama dengan sahabatnya Alipius, ia dipermandikan pada tahun 387 oleh Uskup Ambrosius di Milan. Dalam bukunya ‘Confession’, ia menulis riwayat hidup dan pertobatannya dan dengan terus terang mengakui betapa ia sangat terbelenggu oleh kejahatan dosa dan ajaran Manikeisme. Suara hatinya terus mendorong dia agar memperbaiki cara hidupnya seperti banyak orang lain yang meneladani Santo Antonius dari Mesir.

Pada tahun 388, ia kembali ke Afrika bersama ibunya Monika. Di kota pelabuhan Ostia, ibunya meninggal dunia. Tahun-tahun pertama hidupnya di Afrika, ia bertapa dan banyak berdoa bersama beberapa orang rekannya. Kemudian ia ditabhiskan menjadi imam pada tahun 391, dan bertugas di Hippo sebagai pembantu uskup di kota itu. Sepeninggal uskup itu pada tahun 395, ia dipilih menjadi Uskup Hippo. Selama 35 tahun ia menjadi pusat kehidupan keagamaan di Afrika. Rahmat Tuhan yang besar atas dirinya dimuliakannya di dalam berbagai bentuk kidung dan tulisan. Tulisan-tulisannya meliputi 113 buah buku, 218 buah surat dan 500 buah kotbah. Tak terbilang banyaknya orang berdosa yang bertobat karena membaca tulisan-tulisannya. Tulisan-tulisannya itu hingga kini dianggap oleh para ahli filsafat dan teologi sebagai sumber penting dari pengetahuan rohani. Semua kebenaran iman Kristiani diuraikan secara tepat dan mendalam sehingga mampu menggerakkan hati orang.

Di dinding kamarnya, terdapat kalimat berikut yang ditulis dengan huruf-huruf yang besar : “Di sini kami tidak membicarakan yang buruk tentang siapa pun.” dan “Terlambat aku mencintai-Mu, Tuhan”. Agustinus menghabiskan sisa hidupnya untuk mencintai Tuhan dan membawa orang-orang lain untuk juga mencintai-Nya.

Sebagai seorang uskup, Agustinus sangat menaruh perhatian besar pada umatnya terutama yang miskin dan melarat. Dialah yang mendirikan asrama dan rumah sakit pertama di Afrika Utara demi kepentingan umatnya. Agustinus meninggal dunia pada tanggal 28 Agustus 430 tatkala bangsa Vandal mengepung Hippo. Jenazah Agustinus berhasil diamankan oleh umatnya dan kini dimakamkan di basilik Santo Petrus.

Santo Agustinus, adalah seorang filsuf dan teolog Kristen awal. Seorang penulis yang produktif dan tulisannya memiliki pengaruh besar dalam Kekristenan. Beberapa karyanya yang terkenal adalah “Pengakuan-Pengakuan” (Confessiones), “Kota Allah” (De Civitate Dei), dan “Tritunggal” (De Trinitate). Ia juga merupakan seorang pengkhotbah yang terkenal dan 500 buah khotbahnya masih terlestarikan.

INJIL MENYELAMATKAN

Kisah Ini menjelaskan hidup dalam Injil, menyelamatkan jiwa dan memberi kedamaian. Sungguh itulah anugerah. Tidak semua orang menerima anugerah ini, maka barangsiapa yang mendengarkan Injil yang Adalah Kristus dan kebenaranNya, janganlah mengeraskan hatimu, karena jangan-jangan kesempatan itu hilang selamanya.

Pengenalan akan INJIL, menggairahkan hidup untuk menjadi saksi dan berkat bagi dunia agar mereka menjadi percaya dan bahagia dalam Kristus!

(Kompilasi berbagai sumber)

Recommended For You

About the Author: Lidya Wattimena

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *