Tahi Bonar Simatupang, Pahlawan Nasional sekaligus Teolog Kristen Indonesia.

 

Tahi Bonar Simatupang atau lebih dikenal dengan TB Simatupang, adalah sosok yang cerdas dan berdedikasi tinggi dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Beliau, seorang pahlawan nasional yang pernah menjabat Kepala Staf Angkatan Perang Republik Indonesia (KSAP) atau Panglima TNI saat ini.  Terbentuk dari keluarga yang sederhana dan ditinggalkan sang ayah, Simon Mangaraja Soaduan Simatupang sejak kecil. Namun, anak kedua dari tujuh bersaudara ini tetap berjuang untuk sekolah dan menjadi putra bangsa yang membanggakan.

Simatupang menikah dengan Sumiarti Budiardjo, adik Ali Budiardjo yang pernah menjabat Menteri Penerangan, pada tanggal 12 Desember 1948 dan dikaruniai empat orang anak. yaitu: Tigor, Toga, Siadji, dan Ida Apulia. Salah seorang di antaranya meninggal. Ia dikarunia empat cucu, yaitu: Satria Mula Habonaran, Larasati Dameria, dan Kezia Sekarsari, serta Hizkia Tuah Badia.

TB Simatupang setelah  pensiun dari dinas kemiliteran pada tahun 1959 dan meraih gelar doktor kehormatan (honoris causa) dari Universitas Tulsa, AS, pada tahun 1969. Dia mengisi hari-harinya dengan kegiatan gerejawi dan memberikan cukup banyak sumbangsi dalam pengembangan landasan-landasan etik teologi bagi umat Kristen, untuk bertanggung jawab kepada masyarakat dan bangsa Indonesia.

Simatupang menjalani kehidupannya sebagai seorang Kristen, menggabungkan iman Kristen dengan pelayanan sosial dan politik. Ia menjabat sebagai Ketua Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) dan aktif dalam berbagai organisasi gereja dan kemasyarakatan. Simatupang juga dikenal karena pemikirannya tentang relevansi teologi dengan konteks Indonesia. Ia menggabungkan pengalaman hidupnya sebagai seorang militer dengan pemahaman teologisnya.

Keterlibatan Simatupang di lembaga dan organisasi gereja tidak terjadi secara kebetulan. Hal ini tidak dilakukan sebagai bentuk pelarian dari jabatannya sebagai anggota militer, namun merupakan suatu panggilan khusus baginya. Semuanya dilatari karena dibesarkan dari keluarga Kristen yang saleh, yang sangat memegang tradisi Gereja Lutheran dan adat Batak.

Bagi Pak Sim, sering disapa, menyatakan bahwa; ada tiga Karl yang memengaruhi hidup dan pikirannya, yaitu Carl von Clausewitz, seorang ahli strategi kemiliteran, Karl Marx, dan Karl Barth, teolog Protestan terkemuka abad ke-20. Seluruh kehidupan T.B. Simatupang mencerminkan peranan ketiga pemikir besar itu. Setelah melepaskan tugas-tugas aktifnya sebagai militer, T.B. Simatupang terjun ke pelayanan Gereja dan aktif menyumbangkan pemikiran-pemikirannya tentang peranan Gereja di dalam masyarakat.

Dalam aktivitas gerejawinya itu, ia pernah menjabat sebagai Ketua Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia, Ketua Majelis Pertimbangan PGI, Ketua Dewan Gereja-gereja Asia, serta Ketua Dewan Gereja-gereja se-Dunia, dll.

Sejak kecil Simatupang memang sangat gemar membaca dan menulis, tak heran jika terbentuk menjadi penulis. Dia cukup banyak menulis buku, terlebih setelah memasuki masa pensiun. Beberapa buku yang ditulisnya adalah “Soal-Soal Politik Militer di Indonesia” (1956), “Pengantar Ilmu Perang di Indonesia” (1969), “Laporan dari Banaran” — penuturan Simatupang tentang serangan mendadak Belanda atas Yogyakarta pada tanggal 18 Desember 1948 (diterbitkan Sinar Harapan, 1980), “Pelopor dalam Perang Pelopor dalam Damai”, “Sinar Harapan” (1981), serta berbagai buku tentang kekristenan,diantaranya; “Iman Kristen dan Pancasila” (BPK Gunung Mulia, 1984),dll.

Melihat kesungguhannya di setiap bidang yang digelutinya, Th. Sumartana, muda dari kalangan Kristen, menyebut Simatupang sebagai “Teoretikus oikumenis pertama yang lahir dari lingkungan gereja-gereja di Indonesia setelah kemerdekaan”.

Simatupang juga termasuk salah satu tokoh yang banyak memberikan sumbangan bagi pengabaran Injil di tanah Batak, khususnya pada era Dr. Ingwer Ludwig Nommensen, seorang misionaris Jerman, yang kemudian dijuluki dengan Rasul bangsa Batak. Karena sumbangsihnya, selain di bidang keagamaan, orang-orang Batak juga mengalami kemajuan di bidang pendidikan dan kesehatan.

Di lingkungan kemasyarakatan, T.B. Simatupang menjabat sebagai Ketua Yayasan Universitas Kristen Indonesia dan Ketua Yayasan Institut Pendidikan dan Pembinaan Manajemen (IPPM). Ia bahkan merupakan salah satu pencetus lembaga pendidikan ini, ketika di Indonesia belum banyak orang yang memikirkannya. T.B. Simatupang percaya bahwa Indonesia membutuhkan pemimpin-pemimpin yang menguasai ilmu manajemen di dalam perusahaan maupun di tengah masyarakat.

Jasa Simatupang dalam membangun masa depan, sangat dihargai oleh bangsa dan negara Indonesia. Sebagai bentuk penghargaan, Simatupang diberi anugerah Bintang Mahaputera Adipradana (diberikan pada tanggal 9 November 1995). Penghargaan ini juga diabadikan dalam bentuk pendirian Perhimpunan Institut T.B. Simatupang. Kehadiran Perhimpunan Institut T.B. Simatupang telah membuka wacana baru tentang perlunya penggalian para tokoh besar yang pernah dilahirkan bangsa Indonesia, di luar dua nama besar Sang Proklamator, Bung Karno dan Bung Hatta.

(Rangkuman berbagai sumber)

Recommended For You

About the Author: Lidya Wattimena

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *