
Pertanyaan:
Selamat siang bu Greta,
Perjalanan rumah tanggaku memasuki belasan tahun. Kehidupan kami baik-baik saja, hingga saya mengalami sakit yang cukup menakutkan di Indonesia. Kelemahan tubuhku dan keterbatasanku ternyata melemahkan istriku untuk selingkuh dengan atasannya. Sejak perubahan sikapnya, membuatku menjadi curiga dan akhirnya ketahuan. Sejak saat itu, tidak ada lagi rasa cinta untuknya. Kami serumah namun terpisah ranjang. Segala sesuatu dijalankan sendiri-sendiri, bahkan saya memutuskan untuk mengurus perceraian dan telah menyatakan, jika saya meninggal jangan sekali-sekali dia menyentuh mayatku. Melihat pergumulanku, bagaimana menurut ibu? Di dalam kekalutanku, takut akan Tuhan namun jujur tak bisa bertahan dengan perempuan yang telah mengkhianatiku.
Rlf, Jakbar
Jawaban:
Pak Rlf, ketika menikah pada umumnya seseorang mengharapkan pernikahannya langgeng, namun seiring dengan berjalannya waktu dapat terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, diantaranya: perselingkuhan seperti yang bapak alami saat ini. Menghadapi kondisi rumah tangga yang sudah dijalani selama belasan tahun tidaklah mudah, ketika Bapak merasa dikhianati dan membuat luka di hati. Hal ini membuat Bapak tidak tahu harus berbuat apa, merasa putus asa dan menyerah, sehingga berniat untuk bercerai.
Perlu diketahui bahwa pernikahan adalah bersatunya dua individu yang memiliki latar belakang yang berbeda. Ketika terjadi perselingkuhan bukan karena kesalahan satu pihak, tetapi karena ada andil dari keduanya, suami maupun isteri. Ada proses yang terjadi sebelum terjadinya perselingkuhan. Perselingkuhan dalam pernikahan terjadi disebabkan oleh beberapa hal, antara lain: karena masalah ekonomi, fisik, relasi, komunikasi, orang tua, anak dan lain-lain. Oleh sebab itu, harus dicari lebih dahulu penyebab utama terjadinya perselingkuhan, biasanya karena ada sesuatu yang “hilang” dalam pernikahan, yang terjadi karena ada yang tidak sesuai dengan ekspektasi yang diharapkan ketika menikah. Hal tersebut kadang tidak disadari, karena yang selingkuh merasa punya alasan untuk selingkuh, dan yang tersakiti merasa tidak dapat mengampuni.
Perlu diingat bahwa tujuan dari pernikahan bukanlah mencari kebahagiaan, tetapi menjadi sarana untuk pembentukan dari pasangan untuk hidup bersama dan berjanji tetap setia sampai kematian memisahkan. Ketika ada permasalahan seharusnya bisa menjadi sarana untuk makin mendekat dengan pasangan. Karena cinta dalam pernikahan bukan hanya ditentukan oleh fisik yang sehat saja, tetapi juga diperlukan keintiman emosi, relasi dan komitmen untuk tetap setia. Jika ada kelemahan fisik, seharusnya tidak menyebabkan fungsi suami hilang dalam rumah tangga, tetapi sebagai kepala rumah tangga, kiranya bapak masih dapat memberikan cinta kasih kepada pasangan dan keluarga.
Perlu dipikirkan, apakah Perceraian akan menjadi solusi yang terbaik atau alih-alih akan mengakibatkan kehancuran yang semakin dalam?
Bapak dan isteri dapat melakukan pemulihan dalam pernikahan, untuk itu perlu dilakukan langkah-langkah sebagai berikut: pertama, Lakukan komunikasi dari hati ke hati dengan pasangan untuk mengetahui penyebab utamanya; kedua, perbaiki relasi yang sudah rusak; Ketiga, bangun kembali cinta yang baru (reborn love) dan kepercayaan yang sudah hancur. Ingat masa-masa indah ketika anda berdua berjanji untuk tetap setia; Yang terakhir dan terpenting, berdoa dan percaya akan kuasa doa.
Jika bapak memerlukan bantuan, silakan menghubungi konselor pernikahan atau orang yang dapat dipercaya dalam permasalahan pernikahan.
Selamat menemukan kembali cinta yang baru dengan pasangan.
Jika anda membutuhkan konsultasi teologi,
silakan mengirim pertanyaan ke sekretariat yapama WA: 0811-8888-804