
Pak Pendeta yang terkasih,
Saya bergumul dengan hal persepuluhan, karena ada masa, sekali saya tidak dapat memberikan persepuluhan atas sebab-sebab tertentu dan nasihat yang diberikan kepada saya bahwa tidak memberi persepuluhan berarti tidak mengasihi Tuhan sepenuhnya. Adakah sebenarnya persepuluhan itu diwajibkan bagi semua orang percaya? Dan, apakah berdosa bila tidak memberi persepuluhan?
Lawrence Jim_Jakarta
Persepuluhan selalu menjadi menarik untuk didiskusikan, walaupun sering juga memunculkan banyak pertanyaan. Di kalangan gereja masa kini, hal ini sering kali menjadi perdebatan yang tidak berujung, semua berbicara atas dasar Alkitab, tetapi masing-masing dengan tafsiran dan kesimpulannya yang berbeda. Kalau demikian, siapa yang benar?
Sebelum munculnya Israel, persepuluhan sudah dilakukan. Alkitab menuliskan: “Melkisedek, raja Salem, membawa roti dan anggur; ia seorang imam Allah Yang Mahatinggi. Lalu ia memberkati Abram, katanya: ”Diberkatilah kiranya Abram oleh Allah Yang Mahatinggi, Pencipta langit dan bumi, dan terpujilah Allah Yang Mahatinggi, yang telah menyerahkan musuhmu ke tanganmu.” Lalu Abram memberikan kepadanya sepersepuluh dari semuanya” (Kejadian 14:19-20). Zaman Abram, persepuluhan sudah dilakukan, tidak ada yang salah dan juga tidak ada yang mempertanyakannya. Itu bukti, bahwa memberi persepuluhan adalah sesuatu yang sudah dilakukan dari zaman Abraham.
Zaman Israel, Allah menyuruh Musa untuk membuat aturan khusus dalam hal memberi persembahan, termasuk persepuluhan. Dalam hal ini, persembahan persepuluhan adalah seluruh dari hasil tanah yang dikelolah manusia, baik gandum maupun buah-buahan harus dipersembahkan kepada Tuhan. “Sepersepuluh dari seluruh hasil tanah, baik gandum maupun buah-buahan, adalah untuk Tuhan; itulah persembahan kudus bagi Tuhan (Imamat 27:30). Maka, memberi persepuluhan adalah merupakan ketetapan Tuhan untuk umatNya, yang harus dilakukan dengan sepenuh hati. Tidak boleh menukar/menggantinya dengan yang tidak baik, artinya, memberi untuk Tuhan dengan pemberian yang kudus dan mulia. Persepuluhan, bukan hanya lagi berbicara angka atau jumlah yang akan dipersembahkan, tetapi siapa yang memberi, pemberiannya dari hasil yang benar atau tidak, hati yang sungguh atau terpaksa.
Dalam kitab Bilangan dikatakan: “Mengenai bani Lewi, sesungguhnya Aku berikan kepada mereka segala persembahan persepuluhan di antara orang Israel sebagai milik pusakanya, untuk membalas pekerjaan yang dilakukan mereka, pekerjaan pada Kemah Pertemuan”(Bilangan 18:21). Bani Lewi tidak mendapatkan tanah milik pusaka, mereka dikhususkan dalam jabatan sebagai imam, untuk bekerja dalam kemah Pertemuan. Mereka tidak mendapatkan penghasilan apa pun, untuk kelanjutan hidupnya, maka Allah menetapkan supaya mereka mendapatkan persepuluhan dari hasil persembahan orang Israel. “Di sanalah kamu makan di hadapan Tuhan, Allahmu, dan bersukaria, kamu dan seisi rumahmu, karena dalam segala usahamu engkau diberkati oleh Tuhan, Allahmu” (Ulangan 12:7). Persepuluhan yang dipersembahkan kepada Tuhan, diserahkan kepada para Imam yang bekerja di dalam kemah pertemuan, untuk kelanjutan kehidupan keluarga Imam.
Dalam konteks Perjanjian Lama, persepuluhan merupakan ketetapan Allah bagi umatNya, untuk dilakukan dengan baik, sesuai dengan peruntukkannya. Namun dalam konteks Perjanjian Baru, persepuluhan apakah masih tetap harus dilakukan? Ada beberapa alasan bagi gereja yang tidak mengharuskan lagi untuk memberi persepuluhan. Pertama, Yesus Kristus tidak pernah mengajarkannya lagi, dan alasan yang kedua, para rasulpun tidak berbicara lagi soal persepuluhan. Disisi yang lain, masih ada juga gereja yang tetap mengajarkan bahkan mengharuskan untuk memberi persepuluhan.
Suatu Ketika, Yesus pernah mengecam orang-orang Farisi dan ahli taurat: ”Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu memberi persepuluhan dari selasih, adas manis dan jintan, tetapi yang terpenting dalam hukum Taurat kamu abaikan, yaitu: keadilan dan belas kasihan dan kesetiaan. Yang satu harus dilakukan dan yang lain jangan diabaikan”, (Matius 23:23). Demikian juga, dalam Lukas 11:42, Yesuspun mengatakan hal yang sama: “Tetapi celakalah kamu hai orang-orang Farisi, sebab kamu membayar persepuluhan dari selasih, inggu dan segala jenis sayuran, tetapi kamu mengabaikan keadilan dan kasih Allah. Yang satu harus dilakukan dan yang lain jangan diabaikan. Ayat di atas, menjelaskan bahwa dalam perjanjiaan baru (zaman Yesus), mereka tetap memberi persepuluhan dari hasil tanah yang ada, sebagaimana yang diajarkan hukum taurat. Persoalannya, mereka justru bersikap tidak adil dengan sesama, ‘Mereka mengikat beban-beban berat, lalu meletakkannya di atas bahu orang, tetapi mereka sendiri tidak mau menyentuhnya (Matius 23:4). Mencari kehormatan dan pujian manusia, hidup dalam keangkuhan diri dengan mengabaikan kasih Allah yang sesungguhnya. Maka, Yesus mengecam mereka, engkau munafik dan buta, persepuluhan engkau lakukan, tetapi hidup dalam ketidakadilan.
Memberi persepuluhan, bukanlah hal yang salah, tidak memberi persepuluhan juga, bukan berarti tidak mengasihi Tuhan. Hanya orang-orang yang terlalu berani saja, yang mengatakan, tidak memberi persepuluhan adalah dosa. Yesus sendiri, mengecam orang-orang yang memberi persepuluhan, karena mereka abai terhadap keadilan dan kasih Allah. Memberi persepuluhan atau tidak memberi persepuluhan, tidak akan membuat seseorang menjadi lebih baik dihadapan Tuhan, karena ukurannya bukan pada pemberian kita, tetapi sikap dan prilaku yang benar, serta motivasi dan ketulusan dihadapan Tuhan dan sesama. Selamat memberi persepuluhan, jikalau engkau mau dan mampu melakukannya dengan benar, dan jangan merasa berdosa jikalau engkau tidak melakukannya, karena yang terpenting adalah kejujuran dan ketulusan hati bukan persepuluhannya. Tuhan Memberkati!
Jika anda membutuhkan konsultasi teologi,
silakan mengirim pertanyaan ke sekretariat yapama WA: 0811-8888-804