
Ada 15 hal yang kasih kerjakan dalam 1 Korintus 13:4-7, dan ada satu hal yang selalu kasih lakukan adalah mengharapkan segala sesuatu (ayat 7c). Dalam dunia yang penuh kekecewaan, banyak orang menyerah berharap. Ketika pasangan berubah dingin, ketika anak tidak mau mendengar, ketika rekan kerja terus mengecewakan, ketika hidup tidak berjalan seperti rencana — banyak orang berkata, “Sudah cukup. Aku tidak bisa berharap lagi.” Tapi kasih ilahi tidak pernah berhenti berharap, bahkan saat semua alasan logis sudah habis.
Ketika Rasul Paulus menulis bahwa “kasih mengharap segala sesuatu”, ia memakai dua kata penting dalam bahasa Yunani: panta elpizei. Kata Yunani untuk ‘pengharapan’ elpizei bermakna lebih dari sekadar harapan atau keinginan belaka tapi mengekspresikan kepercayaan yang yakin pada hal yang tidak terlihat, yaitu menanti keselamatan dengan sukacita dan penuh keyakinan. Ini adalah harapan yang aktif yang bersandar teguh pada kebaikan dan kuasa Allah. Kasih yang sejati menaruh pengharapan semacam ini, bukan karena situasi mendukung, melainkan karena Allah tetap setia dan sanggup mengubah siapa saja. (Lihat Ibrani 11:1).
Kata panta berarti “segala sesuatu” — artinya tidak terbatas pada situasi yang baik atau orang yang mudah dikasihi. Ini mencakup semua situasi, termasuk saat orang lain mengecewakan kita, saat keadaan memburuk, atau ketika sepertinya tidak ada lagi harapan secara manusiawi. Tapi kata panta juga bisa dipahami sebagai “selalu” atau “tanpa henti.” Pengertian ini penting, karena kita tahu kita tidak mengharapkan segala sesuatu secara harfiah – misalnya, kita tahu tidak semua orang akan diselamatkan. Harapan kita sebagai orang percaya didasarkan pada kebenaran Tuhan. Jadi, ketika kita membaca kasih “mengharapkan segala sesuatu,” penekanannya bukan pada ruang lingkup yang tak terbatas, melainkan pada ketekunan dan kegigihan kasih itu. Artinya, kasih sejati itu tidak pernah berhenti berharap, tidak mengenal kata menyerah.
Mari kita lihat teladan kasih yang mengharapkan segala sesuatu ini pada Yesus terhadap murid-murid-Nya, khususnya, Petrus. Petrus adalah seorang yang bersemangat, yang sering berbicara lantang, bahkan pernah berkata ia siap mati bersama Yesus. Namun, di malam Yesus ditangkap, Petrus gagal menunjukkan kasihnya dengan menyangkal Yesus hingga tiga kali, bahkan bersumpah bahwa ia tidak mengenal-Nya.
Mungkin kita akan berpikir, “Sudah, tidak ada harapan lagi untuk orang seperti itu.” Tapi bagaimana dengan Yesus? Yesus tidak menyingkirkan Petrus. Setelah kebangkitan-Nya, Yesus secara khusus mencari Petrus. Ia memulihkan Petrus, menanyakan “Apakah engkau mengasihi Aku?” tiga kali—seolah sebagai balasan atas tiga kali penyangkalannya. Yesus bahkan menugaskan kembali Petrus untuk menggembalakan domba-domba-Nya.
Ini adalah gambaran kasih yang mengharapkan segala sesuatu. Kasih Yesus terhadap Petrus tidak didasarkan pada kesempurnaan Petrus, tetapi pada keyakinan bahwa Allah sedang bekerja di dalam diri Petrus. Ia mengasihi Petrus dengan harapan yang tak pernah menyerah.
Bagaimana kasih bisa mengharap segala sesuatu? Ini bisa karena obyek pengharapan kita sesungguhnya bukanlah pada orang yang kita kasihi tapi Allah. Alkitab mengatakan jangan berharap dan menaruh percaya pada manusia. Manusia berdosa dan saling mengecewakan, namun Allah adalah obyek pengharapan kita (Lihat Maz 38:15).
Kasih percaya bahwa Allah masih bekerja. Harapan kasih tidak dibangun di atas yang lain, tapi di atas keyakinan bahwa Tuhan bekerja dalam segala sesuatu untuk kebaikan (Roma 8:28). Ketika kita mengasihi seseorang, kita bisa berkata dalam hati: “Aku belum melihat hasil, tapi aku percaya Tuhan belum selesai.” Seorang ibu yang terus mendoakan anaknya yang memberontak. Ia tidak melihat perubahan segera, tetapi ia tetap berharap karena tahu Tuhan mendengar doanya.
Kasih melihat potensi, bukan kegagalan. Kasih tidak menilai orang dari kegagalan hari ini, tetapi dari potensi yang Tuhan bisa pulihkan. Yesus melihat Simon si penyangkal, dan tetap menyebutnya “Petrus” — batu karang. Jika kita sungguh mengasihi orang lain, kita belajar untuk tidak mengurung mereka dalam masa lalu mereka, tetapi tetap percaya bahwa mereka bisa diubahkan oleh anugerah Tuhan.
Kasih tidak dikendalikan oleh situasi sekarang, tapi oleh janji Tuhan. Dunia menilai dari fakta sekarang. Kasih menilai dari iman akan janji Tuhan. Kasih mengingat bahwa “yang mustahil bagi manusia, mungkin bagi Allah” (Lukas 18:27). Dalam pelayanan, kita mungkin merasa frustasi melihat jemaat yang pasif, atau rekan sepelayanan yang tidak serius. Tapi kasih sejati akan tetap berharap dan terus melayani dengan setia — karena kasih percaya Tuhan bisa bekerja kapan saja, dengan cara yang tak terduga.
Tantangan terhadap kasih yang berharap adalah di lingkungan terdekat. Perhatian Paulus terutama adalah kasih yang harus ada di antara orang percaya di gereja dan di keluarga Kristen. Ketika kita semakin mengenal satu dengan yang lain, ketika kita semakin dekat, kita melihat kesalahan-kesalahan dan dosa-dosa yang lain. Di sini menjadi tempat yang paling sulit bagi kita untuk mengasihi, tempat yang kurang mencintai. Karena itu kita harus waspada dengan situasi di gereja dan keluarga.
Bagaimana kita mewujudkan kasih yang selalu berharap ini dalam keseharian kita? Di keluarga, kasih yang berharap berarti jangan menyerah pada pasangan atau anak-anak yang bermasalah. Terus mendoakan, membimbing, dan percaya Allah bekerja. Kita yakin Allah sanggup memulihkan.
Di komunitas gereja, terhadap saudara seiman yang salah atau jatuh, kasih yang berharap mendorong kita untuk memulihkan, bukan menghakimi atau meninggalkan. Berikan kesempatan berubah, yakinlah Allah akan menyempurnakan pekerjaan-Nya dalam diri mereka. Lihat potensi dalam diri setiap orang, bukan hanya kekurangannya. Doakan perubahan yang baik terjadi.
Di tempat kerja, sebagai karyawan Kristen, jangan menyerah pada rekan kerja yang sulit. Kita doakan mereka, cari cara untuk mendukung, dan tunjukkan kebaikan. Hadapi kegagalan proyek atau tekanan pekerjaan dengan optimisme ilahi, percaya bahwa kegagalan bukanlah akhir segalanya dan Tuhan bisa memberikan jalan keluar. Kasih kita yang penuh harapan akan menjadi kesaksian kuat di lingkungan kerja yang seringkali sinis dan pesimis. Tuhan Yesus memberkati!