
“Karena Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya sebagai tebusan bagi banyak orang.”- Markus 10:45
Di dunia profesional, organisasi sekuler bahkan di organisasi pelayanan dan gereja, kita sering melihat kepemimpinan sebagai posisi atau status. Jabatan kerap dianggap sebagai “garis akhir” di mana seseorang akhirnya memiliki hak untuk memerintah, mendapatkan fasilitas eksklusif dan menuntut penghormatan. Secara naluri, kita cenderung mengagungkan pemimpin yang duduk di puncak piramida dan dilayani oleh mereka yang berada di bawahnya.
Namun, kepemimpinan Kristen menawarkan paradigma yang berbeda. Teladan tertinggi kita, Yesus Kristus, secara radikal mengubah cara kita memandang kepemimpinan. Markus 10:45 menegaskan bahwa kedatangan-Nya bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani. Yesus tidak sekedar menawarkan pemikiran-Nya tapi mempraktikkan dalam pelayanan-Nya, bahkan hingga memberikan nyawa-Nya di kayu salib untuk manusia. Inilah kepemimpinan hamba (servant leadership) yang sejati.
Saat ini, dunia sekuler justru sangat gencar mengadopsi dan mengembangkan konsep servant leadership. Perusahaan-perusahaan global papan atas menyadari bahwa model kepemimpinan otoriter sudah usang dan tidak efektif. Mereka melakukan riset mendalam, mengembangkan modul pelatihan, dan menerapkan bentuk-bentuk aplikasi praktis tentang bagaimana pemimpin harus memberdayakan timnya. Sangat ironis jika dunia sekuler yang tidak menggunakan landasan kerohanian justru lebih cekatan dalam mempraktikkan nilai-nilai kepemimpinan hamba, sementara kita di lingkungan kepemimpinan Kristen atau gereja sering terjebak dalam struktur organisasi yang kaku, birokratis dan haus akan penghormatan jabatan. Kita yang memiliki sumber asli kepemimpinan sering kali kalah dalam mengaplikasikannya.
Dalam praktik manajemen, kita sadar bahwa otoritas sejati tidak datang dari posisi. Jika kita memimpin kita akan melihat bahwa orang mungkin patuh karena jabatan kita, tetapi mereka hanya akan memberikan dedikasi terbaiknya jika mereka merasa dihargai sebagai manusia. Fokus kita harus bergeser: tanggung jawab kita bukan untuk “menggunakan” orang demi keberhasilan kita, melainkan untuk menggunakan posisi kita demi pertumbuhan orang-orang yang kita pimpin. Kredibilitas kita tidak lagi bergantung pada seberapa besar wewenang kita untuk memaksa orang patuh, melainkan muncul dari karakter dan kerendahan hati untuk melayani. Ini adalah paradoks kepemimpinan ilahi: kita memperoleh pengaruh sejati justru saat kita bersedia melepaskan hak untuk dilayani.
Bagaimana kita mewujudkan kepemimpinan hamba ini di tengah budaya kerja yang kompetitif?
Pertama, kita harus berani menghilangkan mentalitas privilese pemimpin. Pemimpin hamba adalah mereka yang bersedia “turun ke lapangan,” mendengarkan staf paling bawah dan memastikan mereka memiliki apa yang dibutuhkan untuk bekerja dengan baik. Kita tidak membangun tembok pemisah antar jabatan dan menjawab kebutuhan nyata tim di lapangan untuk menjalankan fungsi-fungsi mereka.
Kedua, kita harus siap menjadi “pembersih jalan.” Alih-alih hanya menuntut hasil, kita bertanya kepada tim: “Apa hambatan yang Anda hadapi dan bagaimana saya bisa membantu Anda menyelesaikannya?” Peran kita adalah menyingkirkan hambatan agar orang lain bisa berkembang dan berprestasi.
Ketiga, keberanian untuk berkorban. Yesus memberikan nyawa-Nya untuk misi-Nya. Di dunia kerja, paling tidak kita dipanggil untuk “mati” terhadap ego. Ini berarti berani mengambil tanggung jawab saat tim gagal, tidak menyalahkan bawahan, serta bersedia memberikan kredit keberhasilan sepenuhnya kepada tim saat target tercapai.
Kepemimpinan hamba bukan berarti kepemimpinan yang lemah. Sesungguhnya, dibutuhkan kekuatan karakter yang luar biasa untuk bisa tetap rendah hati di posisi kekuasaan. Pemimpin hamba tetap harus tegas terhadap prinsip dan mengejar keunggulan, namun semua itu dikerjakan bersama tim dengan motif kasih, bukan dominasi.
Ketika kita mempraktikkan gaya kepemimpinan hamba, kita sedang memberikan kesaksian yang kuat tentang nilai-nilai Kerajaan Allah. Orang-orang akan melihat ada yang berbeda pada cara kita memimpin; mereka tidak hanya melihat seorang manajer yang kompeten, tetapi seorang manusia yang peduli pada martabat sesamanya. Mari kita mulai melakukan perubahan paradigma kepemimpinan kita dengan mengevaluasi motivasi kita memimpin dan bekerja. Apakah instruksi yang kita berikan bertujuan demi kenyamanan kita sendiri atau demi kebaikan dan pertumbuhan tim? Mari kita lakukan satu tindakan pelayanan kecil minggu ini untuk tim kita, seperti memberikan apresiasi yang tulus, mengajarkan suatu pengetahuan atau membantu tugas teknis yang sedang membebani staf kita.
Kita dipanggil bukan untuk menjadi penguasa yang dilayani, tetapi menjadi hamba yang memimpin. Jangan biarkan dunia luar melampaui kita dalam mempraktikkan teladan yang Tuhan kita sendiri sudah berikan. Di sanalah letak kekuatan kepemimpinan kita yang sesungguhnya. Tuhan Yesus memberkati!
Ev. Harry Puspito
Pendiri dan chairman MRI (Marketing Research Indonesia)