Mau Menang terhadap Dosa: “Serahkan Tubuh Kepada Allah!”

“…tetapi serahkanlah dirimu kepada Allah sebagai orang-orang, yang dahulu mati, tetapi yang sekarang hidup. Dan serahkanlah anggota-anggota tubuhmu kepada Allah untuk menjadi senjata-senjata kebenaran.” Roma 6:13

Kita masih membicarakan strategi-strategi atau langkah-langkah untuk menang terhadap dosa. Kita sudah membahas dua langkah kemenangan pada dua tulisan sebelumnya. Pertama adalah memahami dan mengimani Injil keselamatan Yesus Kristus sebagai modal kemenangan kita (Roma 6:11).

Kemenangan atas dosa dimulai dengan mengenali diri di dalam Kristus. Dalam Dia kita telah diubahdari manusia berdosa yang terpisah dengan Allah menjadi manusia baru yang kudus. Kemenangan kita atas dosa mengalir dari posisi kita itu.

Berikut adalah menolak menyerahkan tubuh kita kepada dosa (Roma 6:12-13a). Setelah lahir baru, kita memiliki kemampuan untuk menolak berbuat dosa. Kita menolak berbuat dosa dengan menjaga jarak dengan cobaan-cobaan yang potensi membuat kita jatuh dalam dosa. Ketika ada cobaan kita lari dari kesempatan berbuat dosa itu.

Pada tulisan kali ini kita akan membahas strategi ketiga, yaitu secara aktif menyerahkan tubuh kita kepada Allah, untuk Dia pakai menjadi alat kemuliaan nama-Nya di tengah dunia ini. Kita tidak cukup berhenti dengan menolak dosa yang terus mencoba menguasai tubuh orang percaya, yang memang masih rentan melakukan dosa. Sekali pun sudah lahir baru, orang percaya masih tinggal dalam tubuh fana yang bisa berdosa. Tapi orang percaya bisa menolak berbuat dosa oleh kehadiran Roh Kudus dalam diri mereka.

Dengan kata lain, untuk memastikan kemenangan atas dosa, orang percaya perlu melakukan strategi yang lebih ofensif terhadap cobaan dosa, yaitu dengan menyerahkan tubuh fananya kepada Tuhan. Satu cara terbaik dan penting meninggalkan sifat lama dosa kita adalah dengan menumbuhkan sifat kudus baru kita. Kita tidak menyerahkan tubuh kita kepada dosa tapi kepada yang Allah, seperti diserukan oleh Paulus: “Serahkan dirimu kepada Allah”…”Serahkanlah anggota-anggota tubuhmu kepada Allah…” (Roma 6:13).

Kita mengijinkan Allah menduduki tahta tubuh kita. Orang percaya harus memberikan dirinya kepada Allah dalam menghidupi kehidupan kekristenannya. Melalui bagian-bagian tubuh kita, dengan berpikir, memandang, mendengar, berbicara, berjalan dan bekerja dengan menyerahkan kepada Allah.

Mengapa Allah tertarik dengan tubuh kita? Pertama, tubuh kita ada adalah untuk memuliakan Dia! Tujuan hidup manusia adalah memuliakan Dia dengan seluruh keberadaannya. Di dunia ini, maka tubuhlah yang menghubungkan manusia dengan lingkungannya. Mulut manusia adalah untuk memuji Dia. Telinganya adalah untuk mendengarkan suara sesama. Kaki dan tangannya adalah untuk berjalan mengikut Dia dan melayani Dia.

Kedua, tubuh kita adalah ‘untuk menjadi senjata-senjata kebenaran,’ yaitu digunakan untuk tujuan-tujuan Kerajaan yang kekal dan mendapatkan manfaat-manfaat kekekalan. Hidup di dunia adalah sementara, namun apa yang kita lakukan di dunia yang fana ini berpengaruh pada kehidupan kekal kita. Maka tubuh kita seyogyanya digunakan untuk kepentingan Kerajaan Surga.

Sebagai senjata kebenaran, mulut kita adalah untuk memuji Dia; berbicara tentang kebenaran-Nya; membagikan kabar baik; memberi dorongan, menasehati dan memberikan kekuatan, dsb. Telinga adalah untuk mendengar penderitaan sesama, sehingga bisa melayani lebih tepat. Kaki dan tangan adalah untuk mengerjakan kebaikan-kebaikan yang memuliakan Dia.

Berikut, Allah tertarik dengan ‘shalom’ orang percaya, yaitu damai sejahtera kita yang seutuhnya. Dia mengasihi kita, karena itu Dia mau kita hidup dengan sukacita, damai sejahtera bahkan bisa memberi peran kepada kita untuk pekerjaan-Nya yang mulia. Jika dosa bertahta dalam tubuh kita, maka keinginan-keinginan Allah ini tidak bisa terpenuhi.

Berbeda dengan kelahiran baru yang menghasilkan pembenaran orang berdosa oleh karya salib Kristus yang terjadi sekali dan tidak berulang, maka kehidupan orang percaya yang mengalami proses pengudusan itu terjadi hari demi hari sepanjang hidupnya di bumi ini.

Pada proses pengudusan ini, maka orang percaya mengijinkan Firman Allah tinggal dalam diri mereka untuk membersihkan mereka dari kuasa dosa, dengan menolak berbuat dosa. Sebaliknya mereka menginjinkan Kristus ditinggikan dalam setiap aspek hidup mereka, tubuh mereka menjadi hamba kebenaran ketika Dia mengerjakan pekerjaan-Nya dari dalam oleh Roh Kudus-Nya.

Dengan demikian dari hari ke hari, orang percaya bertumbuh dalam kasih karunia dan dalam pengenalan akan Juruselamat mereka. Bagaimana dengan kita? Apakah kita dengan sengaja menyerahkan tubuh seperti pikiran, mata, telinga, tangan dan kaki kita untuk secara aktif melakukan perbuatan-perbuatan yang memuliakan Dia? Tuhan Yesus memberkati!

Recommended For You

About the Author: Ev Harry Puspito

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *