Natal Penuh Kemustahilan

Natal itu merayakan kegembiraan. Betapa tidak, karena pada satu masa Tuhan pernah nuzul (baca: inkarnasi) menjadi manusia melalui seorang perawan. Ya, seorang perawan. Maria, gadis desa itu, mengandungi Yesus ketika masih perawan. Ini merupakan suatu kemustahilan. Bukan karena hal ini tidak logis, melainkan karena ini melampaui kemampuan pikiran setiap insan. Tema SUP di momen Natal kali ini membahas beberapa kemustahilan yang terjadi di seputar kisah Natal, yang nukilannya oleh Injil Matius dan Lukas telah dilaporkan.

Yusuf berencana menceraikan Maria secara diam-diam setelah mengetahui kehamilan Maria di masa pertunangan mereka. Yusuf merasa bingung atas kehamilan Maria karena ia tidak pernah menyentuh Maria. Ia juga mengerti bahwa Maria adalah seorang gadis yang baik. Bagaimana mungkin bisa hamil? Apalagi Maria masih perawan? Malaikat lalu mendatangi Yusuf dalam mimpi dan menyampaikan pesan Tuhan agar Yusuf tetap menikahi Maria karena kandungannya berasal dari Roh Kudus. Ini tidak berarti Roh Kudus membuahi sel telur Maria. Rahim Maria dipakai oleh Tuhan sebagai tempat janin Yesus bertumbuh.

Di satu sisi janin Yesus berbeda dari semua janin lain manapun. Di sisi lain Yesus sama dengan orang lain pada umumnya. Janin Yesus berbeda, karena bukan dari hasil pembuahan seorang pria dan seorang wanita. Ini membuat Yesus tidak terdampak pengaruh dosa turun temurun sejak manusia pertama jatuh di dalam dosa. Sejak Adam berbuat dosa, maka keturunannya tidak bisa tidak berbuat dosa. Semua manusia pasti berdosa. Tapi tidak demikian dengan Yesus Kristus yang tidak berdosa. Yesus sama dengan orang lain pada umumnya, dalam arti bahwa Ia mengalami proses pertumbuhan mulai dari janin, lahir ke dunia, dan terus tumbuh sampai dewasa sebagaimana dialami oleh orang lain pada umumnya. Yesus adalah Allah sejati sekaligus manusia sejati. Ia bukan ciptaan, melainkan Pencipta yang membatasi dirinya dalam rupa insan. Ini juga merupakan kemustahilan.

Yusuf tidak bersetubuh dengan Maria sebagaimana normalnya relasi suami-istri (Matius 1:25). Ini juga merupakan kemustahilan. Banyak orang di zaman sekarang yang melakukan hal sebaliknya, yaitu bersetubuh namun tidak menikah. Ada pula yang bersetubuh dengan pasangan sesama jenis. Sebagian lainnya bersetubuh dengan lebih dari satu pasangan. Ini semua adalah bentuk penyimpangan. Namun tidaklah demikian dengan Yusuf. Ia tidak bersetubuh dengan istri sahnya sampai Yesus dilahirkan. Setelahnya, barulah Yusuf dan Maria hidup sebagai suami-istri yang normal dengan dianugerahi anak laki-laki dan perempuan (Matius 13:55-56). Kualitas karakter Yusuf terlihat melalui kemauan dan kemampuannya mengekang keinginan demi menaati perintah Tuhan.

Maria disebut sebagai ”ibu Tuhanku” oleh Elisabet, sanaknya. Bagaimana mungkin Tuhan memiliki seorang ibu? Ini adalah kemustahilan, namun demikianlah firman Tuhan mengisahkan (Lukas 1:43). Bagaimanapun, Maria adalah satu-satunya wanita yang dipilih Tuhan di sepanjang zaman, untuk mengandung dan melahirkan Yesus yang adalah Juruselamat dan Tuhan. Karena itu Maria sudah sepantasnya dihormati oleh setiap umat Kristen. Ia taat kepada kehendak Tuhan dan siap menjalani segala risiko yang mungkin terjadi saat ia mengandung Yesus. Bukan tidak mungkin ia dituduh hamil karena melakukan zinah dan hukuman mati dengan cara dirajam sangat mungkin terjadi pada dirinya.

Orang-orang Majus datang dari Timur untuk menyembah Yesus. Ini pun merupakan suatu kemustahilan. Betapa tidak, orang-orang Majus itu bukan orang Yahudi. Tinggalnya di tempat yang jauh sekali. Banyak penafsir Alkitab yang menduga mereka datang dari Persia atau Babilonia karena letak geografisnya memang di sebelah Timur. Dua kerajaan ini juga terkenal dengan ilmu perbintangannya. Orang-orang Majus menggambarkan orang-orang non-Israel (gentiles) yang dipanggil Tuhan untuk menyembah Yesus. Ini menunjukkan bahwa Yesus adalah Raja atas bangsa-bangsa, bukan hanya Israel. Orang-orang Majus tersebut datang mencari Raja yang telah lahir itu dengan melihat petunjuk bintang terang. Mereka datang dengan membawa persembahan emas, kemenyan dan mur. Ini merupakan simbol yang tidak disadari bahwa persembahan itu menyiratkan Yesus sebagai raja, imam dan nabi sekaligus. Sungguh suatu kemustahilan, tapi kenyataan. Orang-orang kafir dipakai Tuhan dalam skenario ilahi untuk menyatakan maksud dan tujuan Tuhan.

SUP ini terlalu berharga untuk disembunyikan. Kisah kemustahilan yang menjadi kenyataan perlu dikabarkan. Ayo bagikan kepada kerabat maupun rekan. Kepada sebanyak mungkin orang berita Natal perlu diperdengarkan. Kiranya SUP ini semakin meneguhkan iman dan mengokohkan persaudaraan. Selamat Natal bagi setiap orang yang merayakan.

Recommended For You

About the Author: Pdt Gelen Marpaung

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *