Esther Patricia Silalahi: Bertumbuh dari Kesulitan

Ketegaran dan kekuatan seorang pribadi biasanya terbentuk dari kesulitan serta kesukaran yang dilewatinya. Percaya atau tidak, ternyata kesulitan dan kesukaran yang dihindari setiap kita adalah media yang dianugerahkan Tuhan, untuk membentuk manusia yang terbatas mengerti bagaimana menghadapi kehidupan. Hal ini dialami seorang perempuan tangguh Esther Patricia Silalahi, yang sering disapa Terry.

Kehidupan Keluarga
Sebagai anak keempat dari tujuh bersaudara, Terry sejak kecil tumbuh dalam keluarga yang tidak harmonis. “Saya sering melihat pertengkaran Papa dan Mama. Ada banyak pertanyaan dan kekecewaan terhadap orang tua dan Tuhan yang saya gumuli tanpa mendapatkan jawaban jelas”, ungkap Ibu kelahiran 27 Juli 1969 ini. Dia menyadari bahwa keenam saudaranya pun terluka dengan situasi orang tua. Kendati demikian, hatinya bersyukur atas pemeliharaan Tuhan terhadap setiap orang di keluarga ini. Dengan jiwa yang marah dan kesal terhadap situasi, lulusan Fakultas Hukum-Universitas Indonesia ini dibentuk Tuhan melalui persekutuan mahasiswa, vocal group, dan pelayanan remaja di gereja.

Puncak Tekanan
Berbagai situasi beserta dinamikanya harus dijalani. Dinamika menulis skripsi, dikecewakan orang yang dikasihinya, dan pindah rumah tiga kali adalah beberapa hal yang dihadapi dalam kurun waktu dua setengah tahun. Puncaknya adalah ketika Tuhan memanggil pulang mama terkasih dari sisi Terry dan keluarga, melalui cancer yang dideritanya. Peristiwa ini mengguncang jiwa putri Victor H Silalahi dan Sonja F Matindas ini, rapuh. Namun, hatinya bertanya, “Didepan ada apa Tuhan sehingga aku harus menjalani ini semua?”

“Perasaan yang tak dapat dijelaskan. Saya akan selalu menangis saat melihat apapun. Ada tekanan dalam jiwa yang sesak, terasa hampa, letih, sendiri, kecewa, marah, semua beradu. Tak dapat dimengerti oleh diriku sendiri, sejak mama pergi. Sepertinya inilah puncak depresiku, dukacita yang sangat besar” tutur Terry penuh duka, di bulan November saat itu. Lanjutnya, ”Saya tak ingin baca Alkitab. Ingin sendiri, pergi jauh dari keluarga dan orang-orang yang dekat denganku. Saya minta pada Tuhan agar diberikan seseorang untuk bisa bicara tentang apa yang saya alami. Dan Tuhan menjawab kerinduanku.” Terry berkisah.

Dalam tekanan yang dirasakan, Terry mendapat kesempatan menjadi konselor bagi anak remaja. Inilah cara Tuhan mempertemukan Terry dengan seorang Pendeta. Dalam tekanan, melayani untuk disembuhkan. Tuhan memberikan seorang Pendeta yang bisa diajak konsultasi tentang apa yang sedang dihadapinya.

“Di usia 27 tahun, apa yang kamu inginkan?”, inilah pertanyaan awal Pak Pendeta, yang merangsang Terry untuk mulai membuka diri menceritakan apa yang sedang dialaminya. Terry terbuka dan mulai menceritakan semua pergumulannya. Terry ditolong melewati masa-masa bimbingan. Mulai meninggalkan berita TV maupun koran, pulang dari kantor tepat waktu, dan istirahat. Mendapat bimbingan 2 minggu sekali. Akhirnya Terry bisa bangkit dan melangkah maju dengan kekuatan baru.

Impian Itu Datang
Kesempatan yang dinantikan dan diharapkan kini terbuka di depan mata, untuk bisa sekolah ke luar negeri melalui beasiswa ke Inggris. Kesempatan untuk ke Inggris adalah impian besarnya untuk melihat pemulihan Tuhan. Maka Terry mengikuti kelas pemantapan bahasa Inggris 4 bulan, dari jam 8 hingga 3 sore. Walau harus meninggalkan kerja di LSM lokal, karena waktu yang sulit untuk pemantapan bahasa, demi untuk sebuah harapan dan cita-cita. Penantian jawaban doa untuk pergi jauh meninggalkan Indonesia, keluarga, serta sahabat, kini nyata di depan mata. Inggris menjadi harapan pemulihan bagi Terry ke depan, walau tak mulus di awal. Terry sempat gagal bahasa Inggris, namun kehendak Tuhan menolong Terry bisa ke Inggris. Jalan itu tetap terbuka untuk panggilan kedua.

Sejalan dengan kesempatan ke Inggris, Terry sudah mulai bisa berdoa dan membaca Alkitab, puji-pujian dapat dilantunkan melalui paduan suara gereja yang diikutinya setelah melewati 2 tahun bimbingan. Tuhan sedikit demi sedikit memulihkannya. Namun, datang lagi penghalang baru. Krisis moneter di tahun 1998.

“Apakah Tuhan menolongku tetap bisa ke Inggris, dengan situasi berat di bangsaku?”, doa Terry penuh cemas. “Tanpa pekerjaan, bagaimana aku bisa bertahan? Untuk kebutuhan pribadiku?,” pergumulan itu tak berakhir. Namun terdengar telepon berdering. Seorang sahabat menyatakan bahwa BBC Inggris memerlukan mobil dan sopir untuk peliputan kondisi Indonesia saat itu. Terry segera menyambar kesempatan tersebut, “Ya saya bisa”, katanya. Begitulah Tuhan menolong. Dibayar dolar dan cukup, pas untuk membiayai setiap kebutuhan hingga bisa ke Inggris. “Tuhan turut bekerja mendatangkan kebaikan bagi anak-anakNya,” saksi Terry penuh haru. Dibalik kesulitan ada pertolongan. Ada tangis namun juga tawa untuk melewati. Tak mudah dan berat, namun kekuatan-Nya diberi untuk bertahan.

Pemulihan dalam Kesukaran
Tepatnya waktu itu, Terry memasuki usia 28 tahun menuju Inggris dan melewati masa-masa yang penuh keajaiban-Nya. “Di sana, setiap malam saya menangis dan merenungi apa yang terjadi dengan diriku. Luka hati akibat pertengkaran papa-mama, dan kata-kata dan Tindakan saudara-saudaraku adalah hal yang ditata kembali selama bersekolah di sana. Tuhan mengobati semua lukaku. Inilah retreat yang paling besar. Saya tidak punya prestasi akademik yang gemilang, biasa-biasa saja. Tapi Tuhan memberikanku pemulihan,” kisah Terry panjang dalam haru. Terry diyakinkan bahwa Tuhan mengasihinya dan mempunyai rencana indah, walau tak dipahami.

Satu tahun mendapat beasiswa di Inggris, dan satu tahun selanjutnya tetap tinggal dan bekerja menjadi Ibu asrama, untuk mendapatkan tempat tinggal gratis. Ada pertolongan teman dengan pekerjaan-pekerjaan receh yang mencukupkan.

“Dulu, wajah, cara bicara, pancaran mataku penuh luka yang dalam,” jujur Terry mendeskripsikan perubahan yang terjadi dalam dirinya oleh pergumulan panjang, yang merenggut kebahagiaannya sebagai seorang anak. “Saat itu, aku tidak percaya diri sama Tuhan. Tuhan baik, berkuasa tapi saya tak mengalami. Saat Mama meninggal, tubuhku kurus, hatiku hancur,” lanjutan pengalaman Terry panjang. Akhirnya kini dirinya menyatakan: “Bagaimana Tuhan mempersiapkan kita untuk segala sesuatu. Tuhan itu membantu kita memahami sedikit demi sedikit, kali ini yang ini, besok yang ini. Dari diri kita.” Terry mengakui semua cerita ini untuk memperlihatkan kepedulian Tuhan padanya.

Ibu dua orang anak ini tetap mengalami pergumulan. Diberikan kesempatan memiliki dan membesarkan 2 anak spesial yang totally dependent. Kesabaran dan kecerdasan diberi Tuhan untuk merawat dan membesarkan mereka. Kini tinggal seorang putra yang menemani dirinya bersama suami, untuk menikmati keajaiban dan besarnya kuasa kasih Tuhan.

Istri Bonar Manahan Siahaan ini, dikenal sebagai seorang trainer dan konsultan dalam berbagai kegiatan. Proses hidup yang panjang dan penuh kesukaran, menjadikannya kini berkat bagi banyak orang dan teguh menghadapi perjalanan panjang yang tak tahu kapan berakhir. Kesukaran dan kesulitan itu menakutkan, namun bersama Tuhan dapat dilewati, bahkan menemukan makna indah membentuk seorang pribadi menjadi kuat dan lembut. Itulah Terry, yang dibentuk Tuhan bertumbuh dalam kesukaran.

Recommended For You

About the Author: Lidya Wattimena

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *