Allah Diskriminatif?

Shalom Bapak Pdt. Bigman Sirait
Saya ingin bertanya terkait peristiwa pesawat Airasia rute Sura-baya-Singapura yang jatuh di laut dekat Pangkalan Bun, Kalteng. Disebut-sebut ada sejumlah calon penumpang pesawat tersebut yang selamat, karena mereka tidak jadi berangkat dengan alasan macam-macam. Di antara mereka ada yang Kristen, yang kemu-dian bersaksi dan disebarkan ke youtube. Tapi bukannya Tuhan Yesus yang ditinggikan, malah kuasa minyak urapan dan anggur perjamuan kudus.
Pertanyaan saya: 1) apakah kesaksian tersebut etis mengingat Indonesia sedang berduka? 2) apakah Allah tidak diskriminatif, mengingat ada juga puluhan jemaat Mawar Saron dan keluarga pendeta Korsel yang jadi korban?
Hendri Suwignyo Bekasi Barat

ENDRI yang dikasihi Tuhan, dari informasi re-daksi yang saya terima,
pertanyaan anda juga menjadi pemberitaan redaksi Reformata. Semoga jawaban ini bisa meleng-kapi hal-hal yang ingin anda pa-hami. Perihal minyak urapan bisa anda baca Reformata edisi 165, dan Perjamuan Kudus di edisi 164 rubrik Mata Hati (http://issuu.com/ reformata).
Pertama, penting bagi kita me-mahami apa kata Alkitab soal ke-matian dan soal etika. Kematian adalah akhir kehidupan manusia, siapapun dia, termasuk nabi, ra-sul, imam. Mati merupakan kon-sekuensi dari kejatuhan manusia kedalam dosa, seperti kata Alkitab; Upah dosa adalah maut (Roma 5:12). Jadi, tidak ada hal yang mengherankan dari kematian sik. Mati karena usia tua, sakit, huku-man mati, kecelakaan didarat, laut, atau udara, hanyalah sebuah cara mati. Hal itu tidak berkaitan langsung dengan hidup benar se-seorang, apalagi karena hal ritual yang belum tentu benar. Mari kita telusuri berbagai kematian tokoh Alkitab. Musa mati karena fak-tor usia. Alkitab mencatat dengan jelas usia Musa mencapai 120 ta-hun (Ulangan 34:7). Musa adalah nabi besar yang dipakai Tuhan untuk memimpin Israel lepas dari perbudakan di Mesir. Peristiwa pembebasan itu sendiri penuh dengan mujizat sepuluh tulah yang terkenal. Begitu juga di sepanjang perjalanan di padang gurun sela-ma empat puluh tahun. Luar biasa bukan. Tapi Musa tetap saja mati. Apakah Musa kurang beriman? Tidak tahu soal minyak urapan? Jawabannya ada dalam Alkitab dan kejujuran bathin kita. 

Elisa, juga nabi yang terkenal, dan dipakai Tuhan untuk meny-embuhkan Naaman panglima raja Aram dari penyakit kustanya. Namun nabi Elisa yang dipakai Tuhan menyembuhkan Naaman dari kustanya, justru mati karena penyakit yang dideritanya (2 Raja 13:14). Apakah Elisa seorang nabi yang dikutuk Tuhan? Tak ada se-dikitpun data, kecuali ada yang memanipulasi nya. Mengapa Elisa mati karena sakit? Bukan karena kurang beriman, tapi di situlah kita melihat kedaulatan Allah yang me-makai Elisa menyembuhkan Naa-man, namun sebaliknya, Tuhan memanggilnya pulang kepangkuan Bapa lewat sakitnya. Dalam PB, Yesus Kristus sendiri mati karena hukuman salib. Para imam (pen-deta masa itu) mengadakan rapat dan persekongkolan jahat untuk memtnah Yesus Kristus. DIA mati di kayu salib, simbol keterkutukan (Galatia 3:13).  Apakah Yesus Kris-tus kurang beriman, tidak mengerti arti perjamuan kudus?  Bukankah Dia yang memulai dan mengajar-kan hakekat Perjamuan Kudus kepada murid-murid. Jadi, tidak ada korelasinya antara Minyak, atau Perjamuan kudus dengan cara mati seseorang. Ini jelas di dalam Alkitab, kecuali kita mem-bangun cerita yang berbeda den-gan Alkitab. Karena itu, Alkitab juga memperingatkan supaya kita tidak menambah atau mengurangi isi kitab suci, apalagi merubahnya (Ulangan 12:32, Wahyu 22:18-19).

Rasul Petrus menurut tradisi ge-reja mati disalibkan dengan posisi kepala kebawah. Kematian yang mengerikan, tapi pasti kita tak be-rani berkata bahwa Petrus adalah rasul yang kurang iman bukan. Rasul Yohanes mati dibuang ke pulau Patmos. Terkucil dari dunia sekitarnya, menderita berada di pulau nun jauh di sana. Apakah rasul Yohanes adalah rasul yang tidak diberkati. Rasul Paulus juga mati dipedang, sebuah cara kema-tian yang juga tak biasa. Namun rasul Paulus adalah rasul yang menyakini hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan (Filipi 1:21). Tak penting bagaimana cara matinya. Sebaliknya ada orang kaya yang sehat, yang hidup seja-man dengan Lazarus yang miskin dan sakit-sakitan. Tapi Alkitab mencatat dengan jelas si kaya dan sehat mati masuk neraka, semen-tara si miskin yang sakit mati ma-suk surga (Lukas 16:20-25).  Lagi-lagi soal kesehatan atau kekayaan materi tidak ada korelasinya den-gan surga. Bahwa ada orang beri-man yang kaya dan sehat tak se-dikit di Alkitab, termasuk Abraham, Ayub, dll. Tapi mereka disebut beri-man karena hidupnya yang sesuai kehendak Tuhan, bukan karena kaya atau sehatnya. Jadi, Allah tak pernah berlaku diskriminatif pada umat Nya. Dia adalah Allah yang adil, bahkan maha adil. Bagaima-na mungkin Dia berkalu diskriminatif.  Dan, Allah tak pernah salah dalam keputusan-Nya, termasuk cara mati kita.

Sementara soal etis atau tida-knya sikap senang di tengah ke-susahan orang, Alkitab mengajar kita di Roma 12:15; Bersukacitalah dengan orang yang bersukacita, dan menangislah dengan orang yang menangis. Tidak pernah kita diajarkan bersukacita di kala orang lain berduka. Simpati adalah cara hidup Kristiani. Dan, untuk bersim-pati diperlukan kepekaan, kecu-ali memang kita tak memilikinya. Betapa indahnya hidup Kristiani. Sebagai orang percaya kita diajar untuk saling bertolong-tolongan. Bukankah perintah Yesus Kristus sangat tegas; Kasihilah sesama-mu manusia seperti dirimu send-iri. Sesamamu manusia, bukan sesama suku, ras, atau agama. Melintasi semuanya. Itulah sikap hidup Kristiani. Bagimana mungkin sebagai orang yang taat pada Fir-man Tuhan, kita mengabaikannya.

Akhirnya, Hendri yang dikasihi Tuhan, jelaslah bagi kita apa arti kematian, yaitu dipanggil kembali ke pangkuan Bapa. Sementara cara mati, atau jalan hidup, hanya lah sebuah cara yang dipakai Tu-han, bukan hakikat beriman. Ibrani 11:31-37, mengungkapkan, bahwa karena iman para pendahulu kita justru diejek, didera, dibelenggu, dipenjarakan, dilempari, digergaji, dibunuh dengan pedang. Mereka mengembara sambil menderita kekurangan, kesesakan dan sik-saan. Ini semua karena beriman dan bukan sebaliknya!
Kiranya jawaban ini bisa menjadi pencerahan dan pemurnian bagi keimanan kita. Dan juga menjadi berkat bagi setiap pembaca Re-formata. Segala pujian bagi Tuhan atas apapun yang terjadi. Amin

Recommended For You

About the Author: Reformata

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *