Kasih Percaya Segala Sesuatu

Ia menahan segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu.”  1 Korintus 13:7 (TB 2)

Banyak di antara kita merasa sulit untuk mempercayai seseorang. Mungkin karena pengalaman masa lalu dengan yang bersangkutan, atau mungkin karena kita melihat begitu banyak ketidakjujuran di sekitar kita. Apa yang kita lihat di media sosial yang terkadang tidak sesuai dengan realitas membuat kita semakin sulit untuk mempercayai perkataan seseorang apa adanya. Namun firman Tuhan berkata Kasih “percaya segala sesuatu”, tentu ini bukan berarti kita diajar untuk menjadi bodoh dengan bersikap naif atau mudah dibohongi. Kita akan merenungkan bersama satu aspek yang luar biasa dari kasih sejati yang ditulis oleh Paulus ini.

Kata Yunani yang digunakan (pisteuei) memiliki beberapa nuansa makna, yaitu yakin, percaya; mempercayakan diri; dan mengandalkan. Dalam konteks kasih, kata itu lebih mengarah pada kecenderungan untuk mempercayai, untuk memberikan keuntungan dari keraguan, dan untuk memiliki keyakinan dasar pada kebaikan orang lain.

Kasih memiliki fondasi pada kepercayaan yang teguh kepada Allah (Ibrani 11:6). Pribadi yang bisa kita percaya sepenuhnya adalah Yesus, yang tidak berubah dari dahulu, sekarang dan selama-lamanya. Dan ini memengaruhi bagaimana kasih memanifestasikan dirinya dalam hubungan dengan sesama (1 Yohanes 4:7-8). Kasih tidak selalu percaya manusia, tapi kasih memilih untuk percaya lebih dulu, tidak mulai dengan curiga. Kasih memilih melihat potensi kebaikan orang.

Percaya segala sesuatu” dalam konteks kasih bukanlah perintah untuk menjadi naif atau mempercayai setiap klaim tanpa dasar. Tapi menggambarkan watak kasih yang secara melekat cenderung untuk mempercayai orang, memberikan kesempatan kepada orang, dan memiliki keyakinan dasar pada potensi kebaikan dan kejujuran orang. Kasih selalu memilih untuk melihat yang terbaik dalam diri orang lain, kecuali ada bukti yang kuat untuk sebaliknya.

Dengan memilih untuk percaya, kasih menciptakan lingkungan di mana kepercayaan dapat tumbuh dan berkembang. Ketika seseorang merasa dipercayai, mereka lebih mungkin untuk bertindak dengan bertanggung jawab dan jujur.

Namun, kasih yang percaya segala sesuatu bukanlah kebutaan terhadap kenyataan atau pengabaian terhadap kehati-hatian (1 Korintus 13:6). Kasih tetap bijaksana dan tidak mengabaikan tanda-tanda bahaya atau penipuan yang jelas (Amsal 22:3). Kasih yang percaya tidak berarti kita harus menanggung akibat dari kesalahan atau kebohongan orang lain (Galatia 6:5). Sikap dasarnya adalah mau percaya, bukan curiga. Sikap hati yang memilih untuk memberikan kepercayaan sebagai titik awal dalam berinteraksi dengan orang lain. Ini adalah kecenderungan untuk melihat yang terbaik dan memberikan kesempatan, sambil tetap waspada dan bijaksana. Kasih percaya pada potensi pemulihan dan perubahan, tetapi tidak mengabaikan realitas dosa dan kejatuhan manusia.

Sekali lagi kasih yang percaya segala sesuatu bukanlah panggilan untuk menjadi naif, tetapi undangan untuk memiliki hati yang penuh harapan dan keyakinan pada potensi kebaikan dalam diri sesama. Dalam komunitas Kristen, kasih yang demikian membangun ikatan yang kuat, menciptakan ruang aman untuk pertumbuhan, dan mencerminkan kasih Kristus yang tanpa syarat kepada kita. Mari kita belajar untuk memberikan keuntungan dari keraguan, melihat potensi terbaik dalam diri orang lain, dan membangun kepercayaan sebagai fondasi relasi kita.

Untuk menerapkan kasih yang percaya segala sesuatu, mari belajarlah dari Kasih Kristus. Ingatlah bagaimana Kristus telah mempercayai kita, meskipun kita seringkali gagal. Biarlah kasih-Nya menginspirasi kita untuk mempercayai orang lain dengan cara yang sama.

Kita latih diri bersikap percaya. Mulailah dengan hal-hal kecil. Ketika muncul keraguan, berikan kesempatan kepada orang lain untuk menjelaskan. Pilih untuk percaya, kecuali ada bukti yang kuat untuk sebaliknya. Berikut mari kita bangun budaya kepercayaan. Dalam keluarga, persekutuan, dan tempat kerja kita, mari kita menjadi agen kepercayaan. Ketika kita mempercayai orang lain, kita menciptakan lingkungan di mana mereka lebih mungkin untuk bertindak dengan integritas. Tuhan Yesus memberkati!

Recommended For You

About the Author: EV. Harry Puspito

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *