Fiksasi Rohani

 Harry Puspito
(harry.puspito@yahoo.com)*

Sebab sekalipun kamu, ditinjau dari sudut waktu, sudah seharusnya menjadi pengajar, kamu masih perlu lagi diajarkan asas-asas pokok dari penyataan Allah, dan kamu masih memerlukan susu, bukan makanan keras. (Ibrani 5:12)

 

Pada tulisan sebelumnya kita membicarakan perjalanan iman orang percaya dan salah satu penulis menggambarkan perjalanan itu dalam 6 tahap sebagai berikut: 1). Tahap Kesadaran akan Allah yang Mengubahkan Hidup; 2). Tahap Belajar atau Pemuridan; 3). Tahap Kehidupan Aktif atau Melayani; 4). Tahap Perjalanan ke Dalam; 5). Tahap Perjalanan ke Luar; dan, 6). Tahap Transformasi dalam Kasih. Perjalanan iman seseorang bersifat unik, berbeda satu orang dengan orang yang lain. Dalam rencana Allah perjalanan iman seseorang bersifat progresif. Artinya, walaupun kehidupan seseorang mengalami pasang surut, namun trend kehidupan orang percaya adalah menuju kedewasaan rohani, yang membuat dia semakin mengasihi Allah dan sesama dalam arti yang sebenarnya.
Di gereja kita melihat banyak jemaat yang memulai perjalanan imannya dengan semangat dan semangatnya terpelihara dan terlihat mengalami pertumbuhan rohani yang kasat mata, seperti terungkap dalam perkataan dan terlihat dalam perbuatannya. Seperti pola pertumbuhan yang kita bicarakan, mereka mengalami pertobatan, bersemangat belajar dan terlibat dalam berbagai pelayanan, bahkan ada yang masuk dalam pelayanan penuh waktu. Namun kita melihat lebih banyak lagi jemaat yang mengalami kemandegan dalam proses pertumbuhan itu, sehingga banyak kita temukan jemaat yang sekedar hadir pada hari minggu; jemaat yang tidak ada semangat belajar Firman Tuhan; jemaat yang pasif, tidak terlibat dalam pelayanan; jemaat yang tidak mempraktekkan Firman dalam kehidupan sehari-hari; jemaat yang tidak punya harapan apa-apa terhadap masa depan dan terhadap kekekalan.
Dalam perjalanan rohani ini seseorang bisa mengalami hambatan pada tahap-tahap tertentu sehingga dia mengalami kemacetan pertumbuhan – yang bisa disebut sebagai fiksasi rohani. Konsep fiksasi atau dalam bahasa Inggris adalah ‘fixation’ ini dikenal dalam psikologi perkembangan, khususnya psikoseksual. Dalam teori ini dari masa bayi, seseorang mencari kesenangan melalui berbagai kegiatan secara bertahap sesuai dengan perkembangannya. Fiksasi terjadi ketika suatu konflik atau isu terjadi pada satu tahap psikoseksual tidak terselesaikan, membuat dia terjebak ke dalam tahap itu dan tidak bisa bergerak ke tahap berikut. Ketika ini terjadi maka dia akan memiliki psikologi dan kebiasaan tertentu yang menjadi manifestasi dari fiksasi tahap tertentu itu. Seseorang yang mengalami fiksasi oral, misalnya, bisa memiliki masalah dengan menggigit kuku, suka merokok, makan dan minum berlebihan, dan sebagainya.
Bagaimana dengan fiksasi dalam pertumbuhan kerohanian? Tahap awal pertumbuhan rohani seseorang adalah timbulnya kesadaran akan Allah yang mengubah hidupnya. Pada tahap ini iman menjadi seperti mukjizat yang mengubah hidup seseorang. Dia sekaligus menyadari akan kebesaran dan kasih Allah dan akan diri dan kondisi diri yang berdosa dan membutuhkan Allah. Dia menghayati kepindahan hidupnya dari gelap kepada terang. Dia menyadari arti hidup yang lebih besar bersama Sang Pencipta daripada yang dulu dia jalani. Pengampunan dirasa nyata membuat dia merasakan dosa-dosa-nya sudah dibereskan. Kebesaran kasih Allah dihayati dan membangkitkan respon ‘kasih mula-mula’.
Sayangnya dalam situasi iman yang sedang hangat ini seseorang sering tidak mendapatkan dukungan dari lingkungan (baca: Gereja) sehingga tidak ditolong untuk bertumbuh memasuki tahap berikutnya, yaitu tahap pembelajaran atau pemuridan. Bisa jadi dia berpikir pengalaman pertobatan itu adalah satu-satunya tahap dalam kehidupan iman-nya. Atau dia bisa ‘kecanduan’ dengan pengelamanan yang menyenangkan itu dan tidak mau masuk ke pengalaman berikut yang ‘lebih berat’.
Ketika seseorang mengalami fiksasi pada tahap awal ini, dia bisa merasa tidak berharga, bisa jadi karena dia tidak belajar hal-hal yang dia perlukan sebagai orang percaya. Selanjutnya dia bisa merasa kosong dengan iman yang sesaat terasa luar biasa itu. Sudah barang tentu tanpa belajar dia akan merasa tidak tahu tentang imannya. Dan tanpa pengetahuan orang percaya bisa salah persepsi merasa terus dihukum karena dosa-dosanya.
Bagaimana menolong dia agar beralih ke tahap belajar? Siapa yang mengenal orang seperti ini seyogyanya menolong dia masuk dalam komunitas yang sedang dalam pembelajaran sehingga dia mendapat dukungan untuk ambil bagian dalam suatu pemuridan. Kita harus menolong dia agar memiliki makna diri di dalam komunitas dan di dunia ini. Dia perlu belajar jalan-jalan Tuhan dalam menghadapi kehidupannya dengan iman yang baru itu. Idealnya dia bisa mendapatkan mentor pribadi yang menolong dia belajar berbagai aspek praktis dari iman barunya itu.
Apa tanda-tanda seseorang sudah pindah dari tahap kesadaran akan Allah menuju tahap pembelajaran atau pemuridan? Ketika dia membuka diri kepada suatu komunitas atau persekutuan itu adalah salah satu gejala. Ketika dia kemudian bergaul dengan sesama orang percaya,  ada kemungkinan dia akan masuk dalam tahap belajar. Tahap ini juga ditandai dengan dia menerima nilai dirinya di tengah-tengah lingkungannya yang mungkin baru itu. BERSAMBUNG.

Recommended For You

About the Author: Harry Puspito

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *