Teologi, Menarik Atau Menyesatkan?

Pdt. Bigman Sirait

Bapak Pengasuh, teologi adalah ilmu yang menarik, luas dan sangat dalam. Tapi tidak semua orang menyadari hal ini. Padahal dalam seluruh aspek hidup kita, selalu kita bersinggungan dengannya. Pertanyaan saya: 1) Bagaimana membuat orang tertarik untuk mempelajari teologi? 2) Mengapa ada orang yang belajar teologi tidak membuat dia lebih sungguh-sungguh mencintai Tuhan, sebaliknya malah menghujat/menciptakan hal-hal yang melukai hati Tuhan? (contoh: muncul ajaran-ajaran yang menyimpang). 3) Apakah penting semua orang belajar teologi? Kalaupun sulit secara formal, sekolah praktis, seperti apa yang harus disediakan gereja/keluarga untuk memfasilitasi hal ini.
Terima kasih sebelumnya untuk jawaban Bapak, saya menantikan jawaban Bapak, dan berharap dapat mencerahkan banyak orang.
Linda, Cimanggis

Linda yang dikasihi Tuhan,
    bagus sekali pertanyaanmu,
    karena ini memang merupa-kan kebutuhan konkrit umat Tu-han. Harus diakui ada banyak kesalahpahaman tentang hal ini, bahkan tidak sedikit pengkhotbah yang berkata teologi tidak perlu, yang penting adalah kepekaan mendengar suara Tuhan. Padahal ketika mereka berkhotbah mereka berbicara tentang Tuhan yang dinyatakan Alkitab yang harus dibaca, direnungkan, dan dipahami dengan baik. Artinya, ketika me-reka berbicara tentang Tuhan, sesungguhnya mereka sudah ber-teologi, tetapi tidak menguasai, sehingga berpotensi besar untuk salah.  Jadi memang sangat diperlukan pencerahan tentang hal ini, karena berdasarkan fakta, ada bahaya yang menakutkan.  
Mari kita mulai dengan mema-hami teologi. Secara sederhana teologi berarti ilmu tentang Tuhan, yang dalam iman Kristen adalah, Tuhan yang menyatakan diri mela-lui para nabi, yang digenapi dalam diri Yesus Kristus, dan diteruskan oleh para rasul. Itu berarti semua umat sudah seharusnya mengerti sebagai kebutuhan dasar. Namun sebagai ilmu, teologi memiliki bidang studi lanjut yang lebih luas dan komprehensip. Nah, dalam pe-ngertian keilmuan seperti ini tidak semua umat dipersiapkan untuk itu. Tapi sekali lagi, sebagai kebutu-han dasar untuk mengetahui Alkitab dengan benar itu menjadi keharusan. Lihatlah contoh jemaat Berea (Kisah 17:11), di mana me-reka dengan segala kerelaan hati, dan setiap hari, menyelidiki kitab suci (kegiatan belajar), bukan “mendengar suara Roh”. Dan, dengan tegas pula Alkitab berkata, “Janganlah padamkan Roh, dan janganlah anggap rendah nubuat-nubuat, tetapi awas, jangan asal terima saja, melainkan; Ujilah segala sesuatu dan peganglah yang baik” (1 Tesalonika 5:19-21). Bagaimana mau menguji jika tidak mengetahui isi kitab suci, dan bagaimana mengetahui jika tidak menyelidiki (mempelajari). Ingat, yang perlu diuji adalah orang yang mengaku mendengar suara Tuhan.
Jadi, semua orang harus tunduk pada Alkitab yang telah tertulis, bukan kata-kata, “Tuhan berkata kepadaku”. Siapa pun manusianya, dia harus tunduk kepada Alkitab, kecuali memang dia penyesat yang selalu ingin menyesatkan umat (band. 2 Timotius 3:13-17). Ada banyak orang berkata, bahwa murid-murid Yesus hanyalah nelayan yang tidak terpelajar (disimpulkan tidak perlu belajar teologi). Penda-pat yang sangat menyedihkan dan sangat miskin pengamatan yang cermat. Lihatlah murid-murid Ye-sus, memang kebanyakan nelayan, tetapi juga ada pemungut cukai yang terdidik. Jangan lupa, semua mengikut Yesus selama kurang lebih 3,5 tahun, dan mereka bela-jar siang dan malam. Bukan hanya itu, mereka juga ikut praktek pela-yanan bersama Yesus, termasuk terlibat dalam berbagai mukjizat yang dilakukan Yesus. Dalam pers-pektif waktu, materi, baik teori maupun praktek, mereka dapat dikatakan berada pada level master. Namun itu pun, mereka gagal untuk setia pada waktu Yesus disalibkan.
Tidak bisa dibayangkan jika mereka tidak pernah belajar sama sekali. Di sisi lain, ternyata tidak semua murid menjadi penulis kitab. Penulis Injil, Matius, jelas terdidik sebagai pemungut cukai, lalu Lukas sebagai tabib yang terdidik, dan terlibat dalam pelayanan para rasul. Kemudian Markus, yang bukan dari kedua belas rasul, melainkan seorang muda yang tampaknya terpelajar, yang banyak mendam-pingi pelayanan Petrus, dan menyadurnya menjadi Injil tertulis. Sementara Yohanes adalah rasul yang memiliki kehidupan dan pengetahuan lebih baik dibanding para nelayan pada umumnya (tam-pak jelas ketika Yesus memper-cayakan pemeliharaan Maria di hari tuanya kepada Yohanes). Kemu-dian Rasul Paulus, yang sangat jelas adalah ahli Perjanjian Lama (PL), murid dari Gamaliel, guru yang sa-ngat terkenal saat itu (Kisah 22:3).
Dengan segera dan mudah, kita melihat bahwa penulis Alkitab adalah mereka yang terdidik dalam teologi yang baik. Kesadaran ini perlu dibangun agar merangsang umat tertarik belajar teologi. Pengaruh jelek tidak mau belajar dengan alasan cukup mendengar suara Tuhan dan tidak mau jadi Farisi, belakangan ini sangat terasa. Jika kita mau menjadi murid sejati, harus berani menyiapkan diri, menyediakan waktu untuk belajar dengan benar. Sementara soal orang belajar teologi tetapi tidak menjadi hidup benar, bukanlah berarti kita tidak perlu belajar. Ingat para rasul semuanya belajar, khususnya penulis Alkitab adalah orang-orang terdidik.
Ada beberapa aspek mengapa orang menjadi tidak benar. Yang pertama dia belajar (materi yang benar), tapi tujuan/motivasinya tidak benar, maka lahirlah peng-khotbah yang khotbahnya benar tetapi hidupnya tidak benar. Dia menjadikan Firman Tuhan sebagai lahan mencari un-tung. Kasarnya, dia memperjualbelikan Injil untuk perut-nya. Lalu ada juga yang mau belajar benar tapi materi-nya salah, sehingga dia menjadi peng-khotbah yang salah khotbahnya. Tapi jika hatinya murni, pasti dia suatu wak-tu akan menyadari kesalahannya dan kembali ke ajaran yang benar.
Yang terakhir, adalah orang yang belajar, dan menja-dikan Alkitab hanya sebagai objek be-lajar, sehingga ber-gantung pada ra-sio (teologi rasio-nal). Apa yang ma-suk akal, itu yang benar. Atau pada perasaan (teologi emosional), yang selalu getol ber-kata Tuhan ber-kata, atau Tuhan hadir, dan seterus-nya, dan dia adalah ukuran kebenaran yang tidak bisa dikoreksi. Yang terakhir, apakah gereja memfasili-tasi umat untuk belajar teologi? Ya, ada banyak yang mempersiapkan-nya dengan baik, sekalipun tidak sedikit yang asal ada. Ini sangat tergantung pada pemimpin gereja.
Baiklah Linda yang dikasih Tuhan, semoga jawaban ini menjadi berkat tersendiri.v

Recommended For You

About the Author: Pdt Bigman Sirait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *