Orang Benar Kok Dirundung Masalah?

Pdt. Bigman Sirait

Bapak Pengasuh, dalam menjalani kehidupan, selalu ada yang namanya masalah. Dan permasalahan itu bisa datang kapan saja, dan tidak bisa diduga kapan hadirnya. Sehubungan dengan itu saya ingin bertanya: 1)  Apakah masalah adalah bagian hidup manusia yang terjadi karena manusia itu sendiri yang membuat masalah itu? 2) Apakah masalah itu tidak akan ada jika manusia tidak membuatnya? 3) Ada yang menyatakan kapasitas masalah yang terjadi pada setiap orang selalu sama, walau dalam bentuk yang berbeda. Bagaimana menurut Bapak? 4) Adakah orang dapat  terhindar dari masalah jika hidupnya sungguh-sungguh di dalam Tuhan, dengan penuh ketaatan. Apakah orang semacam ini dapat terhindar dari masalah? 5) Bagaimana sesungguhnya manusia harus menghadapi masalah hidup ini?
Jandi
Tangerang

JANDI yang dikasihi Tuhan, pertanyaan Anda soal masalah hidup memang menjadi pertanyaan semua orang. Hal ini sangat menarik karena seringkali merupakan sebuah misteri. Ada orang yang diyakini orang baik, tapi ya ditimpa masalah juga. Semisal seorang bayi yang tiba-tiba harus menjadi yatim piatu karena kedua orang tuanya menjadi korban ta-brak lari, bukan karena kecerobo-han si orang tua, namun orang lain. Dan masih ba-nyak kisah lainnya.  
Bagaimana Alkitab men-jelaskan hal ini? Fakta per-tama adalah kejatuhan ma-nusia ke dalam dosa (Keja-dian 3). Akibat kejatuhan, kesempurnaan ciptaan Allah mengalami kekacauan dalam segala aspek. Relasi manusia dengan Allah misal-nya, manusia bukannya ta-kut dan hormat, melainkan bersembunyi dan membe-rontak terhadap Allah. Lalu antarmanusia sendiri saling menyalahkan, bukan lagi saling mengasihi. Bahkan generasi pertama keturu-nan manusia saling bunuh, di mana Kain membunuh Habel dengan alasan yang tidak masuk akal. Semen-tara antara manusia dengan alam pun terjadi kekacauan. Alam yang menyediakan makanan yang lengkap dan mudah, setelah keja-tuhan, membuat manusia harus melewati semak duri, dan kesuli-tan, dalam mencari nafkah demi mempertahankan hidupnya. Bina-tang ciptaan Tuhan tak lagi men-jadi sahabat, bahkan bisa menjadi musuh yang sangat menakutkan.
Nah, Jandi yang dikasihi Tuhan, jelaslah bahwa permasalahan dalam kehidupan dimulai sejak kejatuhan manusia ke dalam dosa, dan di kemudian hari, bukan sekadar kesalahan dalam sebuah tindakan, sekalipun unsur itu ada. Jadi, permasalahan dalam hidup manusia akan tetap ada, baik yang kita buat langsung maupun tidak. Secara umum sudah jelas permasalahan ada karena kejatuhan manusia ke dalam dosa, dan manusia tidak mungkin hidup tanpa masalah. Jangan lupa, setelah kejatuhan, sebagai manusia kita hidup di dunia yang bermasalah.
Selanjutnya kita akan membahas tentang bagaimana dengan ma-nusia yang bertobat dan percaya kepada Tuhan? Apakah mereka juga akan tetap tertimpa masalah? Apalagi jika mereka adalah orang percaya yang taat, yang hidup dalam iman sungguh-sungguh dan terpuji?
Jandi yang dikasihi Tuhan, seperti dikatakan di atas, semua orang sudah jatuh ke dalam dosa dan hidup dengan segala akibatnya, yaitu apa yang kita sebut sebagai permasalahan hidup. Roma 3, menggambarkan kehidupan manu-sia berdosa yang saling menyakiti. Pertobatan seseorang bukanlah jalan lepas dari masalah hidup di dunia, melainkan lepas dari perbu-dakan dosa. Sehingga orang yang sudah bertobat sungguh-sungguh tidak lagi menjadi bagian dari per-masalahan kehidupan ini. Artinya dia bukan lagi pencuri, pembunuh, atau yang suka menyakiti orang lain, sebagaimana hidup yang sebelumnya (band. Efe-sus 4:17-32). Namun se-kalipun dia sudah berto-bat dan hidup di dalam Tuhan masalah tetap saja dapat menimpa dia.
Cobalah lihat bagaimana kehidupan para nabi dalam Perjanjian Lama, atau para rasul dalam Perjanjian Baru, mereka juga tidak luput dari masalah, bukan? Tuhan Ye-sus sendiri telah berkata: “Jika kamu mau mengikut Aku, sangkallah dirimu, pikullah salibmu, dan ikutlah Aku”.
Jadi, penyangkalan diri dan pikul salib justru jadi bagian dari pertobatan. Hanya saja di sini nilai per-masalahan menjadi ber-ubah total. Orang berdo-sa berbuat masalah, hidup dalam masalah, dan bermasalah baik dari dirinya sendiri maupun dari luar. Masalah bagi orang berdosa adalah kesedihan, kepahitan hing-ga kemarahan, terhadap realita. Sementara bagi orang percaya tetap ada masalah, tetapi orang percaya bukan pembuat masalah, dan masalah hidup bukanlah permasalahan yang sesungguh-nya. Di sini memang berlaku sebuah paradoks.
Dalam Yakobus 1: 2-18, jelas dikatakan bahwa pencobaan (per-masalahan hidup) yang kita hadapi adalah sebuah ujian, sebuah kehor-matan, sebuah kesempatan untuk membuktikan keunggulan iman sebagai orang percaya. Jadi, se-buah permasalahan yang sama, bisa menjadi malapetaka bagi orang yang tidak percaya, sementara bagi orang percaya itu adalah keba-hagiaan (band. Matius 5: 1-12).
Cobalah juga renungkan bagai-mana sikap Paulus sebagai rasul dalam menghadapi berbagai permasalahan. Dia berkata: “Dalam segala hal kami ditindas namun tidak terjepit, kami habis akal namun tidak putus asa, kami diani-aya namun tidak ditinggalkan sendi-rian, kami dihempaskan namun tidak binasa” (2 Korintus 4: 8). Ingat, Paulus adalah rasul yang sungguh-sungguh melayani Tu-han, dia mengalami masalah bahkan sangat serius, namun itu justru menjadi sangat menguatkannya. Dalam menghadapi masalah, Alkitab juga memberikan jaminan kepada kita, bahwa pencobaan (masalah) yang kita hadapi tidak akan melebihi kekuatan kita (1 Korintus 10: 13).
Jadi, sebagai orang percaya kita tak perlu takut akan masalah, karena masalah justru diperlukan sebagai wujud bukti keberimanan kita kepada Tuhan Yesus sendiri. Tuhan tidak menjanjikan hidup tanpa masalah, melainkan kekua-tan untuk menanggung masalah. Masalah bagi orang percaya adalah jika dia kurang sungguh-sungguh, tidak setia dalam mengikut Tuhan.
Karena itu jangan buat masalah dengan hidup di luar kehendak Tuhan. Hiduplah di dalam Tuhan, maka masalah hanyalah sebuah ke-hormatan, seperti buah yang se-dang matang, dan sangat menye-nangkan pada waktu panen tiba.
Akhirnya selamat menikmati permasalahan hidup, jangan lari, dan jangan bermimpi hidup tanpa masalah. Tapi juga jangan sampai Anda yang justru menjadi pusat masalah.
Baiklah Jandi yang dikasihi Tuhan, semoga ini memberikan pence-rahan bagi kita semua.v

Recommended For You

About the Author: Pdt Bigman Sirait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *