Perubahan Holistik –Harry Puspito

Pejabat suatu bank pemerintah menyampaikan pidato pada hari ulang tahun bank tersebut yang ke-10 bahwa bank tersebut telah mentransformasi diri dari suatu bank pemerintah yang pada masa itu dikenal sebagai bank yang lambat, birokratis dan bahkan korup menjadi suatu bank yang profesional, memiliki good corporate governance yang diakui secara internasional dan mencapai prestasi kualitas layanan nasabah yang terbaik tahun ini berdasarkan pengukuran oleh Marketing Research Indonesia (MRI). Menarik kemudian dia menceritakan bahwa bank tersebut melakukan transformasi secara sistematis pada bagian-bagian penting dari dirinya. Salah satu yang disebut adalah budaya perusahaan, yaitu nilai-nilai utama yang dianut perusahaan dan perilaku para staf yang diselaraskan dengan nilai-nilai tersebut.

Penulis mengetahui banyak tentang bank tersebut karena terlibat dalam proses yang terjadi dengan menjadi mitra dalam pengukuran kualitas layanan staf sebagai bagian dari strategi pengembangan budaya perusahaan. Dari interaksi dengan para staf

bank tersebut maupun dengan menjadi nasabah, penulis harus mengakui kalau mereka benar-benar berhasil berubah. Berubah menjadi sangat baik. Di mana kunci keberhasilannya? Penulis percaya faktor komitmen leadership sangat penting. Namun lebih dari itu, perusahaan memiliki konsep perubahan dan strategi yang efektif.

Sebagai pribadi kalau kita mau mengalami perubahan yang progresif, kita perlu menyadari bahwa perubahan sedang terjadi; kita perlu tahu perjalanan perubahan kita menuju ke mana; dan bagaimana kita mengarahkan perubahan diri kita? Dengan kata lain kita perlu memiliki strategi perubahan. Berbagai isu ini sudah dibicarakan pada tulisan sebelumnya. Pada kesempatan ini penulis ingin masuk pada pemahaman di mana perubahan itu harus kita kerjakan. Perubahan yang penulis bicarakan adalah pada tingkat pribadi, yang sudah barang tentu akan mempengaruhi kinerja suatu organisasi di mana pribadi itu menjadi bagian.

Dalam diri manusia ada bagian-bagian utama yang sering dibicarakan, dipelajari dan khususnya ditulis dalam Alkitab. Dimensi-dimensi manusia yang sering disebut adalah tubuh, emosi, pikiran, jiwa dan roh. Alkitab menyatakan perubahan kita adalah menjadi seperti Kristus, mengasihi Allah dan sesama. Ketika berbicara tentang hal ini, Alkitab mengatakan: "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap akal budimu, dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri." (Lukas 10:27). (Penekanan dari penulis).

Bacaan ini menyiratkan kita ada di dalam proses perubahan dalam seluruh aspek diri kita menuju suatu sasaran mengasihi Allah dan mengasihi sesama. Dalam ayat itu disebutkan bagian-bagian dari dari diri yang ditransformasi adalah hati, jiwa, kekuatan dan akal budi. Kita perlu memahami masing-masing dimensi dari diri kita manusia ini agar mampu mengembangkan strategi yang efektif untuk mengerjakan perubahan pada masing-masing aspek dari diri manusia itu.

Dari pengalaman hidup, pengetahuan dan dari firman Tuhan kita tahu kemauan melakukan yang baik saja tidak membuat kita melakukannya. Paulus, misalnya, dalam Roma 7:19 mengatakan: ”Sebab bukan apa yang aku kehendaki, yaitu yang baik, yang aku perbuat, melainkan apa yang tidak aku kehendaki, yaitu yang jahat, yang aku perbuat.” Jelas fisik juga harus mengalami transformasi kalau dia akan menjadi bagian yang mendukung perubahan diri yang dikehendaki.

Namun kita juga perlu memahami di mana pengendali utama diri kita ketika kita mau berubah. Paulus menyiratkan itu ada di ’kemauan’. Dan menurut Alkitab kemauan adalah di pusat kehidupan seseorang atau di hati. Memang Alkitab sangat mengutamakan ’hati’ manusia. Lihat saja, misalnya, Amsal 4:23 yang mengatakan: ”Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan.”. Dalam bahasa Inggris dikatakan: “Above all else, guard your heart, for it is the wellspring of life.” Keutamaan hati adalah di atas segala dimensi diri kita yang lain karena di situ adalah kendali kehidupan kita. Namun bagian-bagian diri kita yang lain – tubuh, emosi, pikiran, dan jiwa – bisa menggagalkan atau paling tidak menghambat perubahan yang kita inginkan. Berbeda dengan Allah yang adalah Roh, yang Mahakuasa, sehingga apa saja yang Allah mau akan terjadi tanpa hambatan. Alkitab juga menyatakan bahwa ketika seseorang berubah, sebenarnya Allah-lah yang mengerjakannya, dari hati hingga perilaku (Filipi 2:13).

Karena itu sebagai orang percaya, kalau kita mau berubah, tidak ada jalan lain daripada kita hidup dalam persekutuan dengan Allah. Allah akan mengerjakan kemauan orang untuk berubah dan memampukan itu terwujud dalam hidup seseorang. Dan dia akan menjadi alat yang efektif di tangan Allah, di mana pun Allah tempatkan. Tuhan memberkati.

*Penulis adalah partner di Trisewu Leadership Institute

REFORMATA:

Tabloid Kristen Berwawasan Nasional, Menyuarakan Kebenaran dan Keadilan.

Pendiri: Pendeta Bigman Sirait

website: www.reformata.com

Alamat Redaksi

WISMA BERSAMA
Jl. Salemba Raya No. 24B, Jakarta Pusat 10430
Telp: +62 21 392 4229 (Hunting), Fax: +62 21 314 8543

DOWNLOAD PDF FORMAT (EBOOK)

Recommended For You

About the Author: Harry Puspito

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *