“Teolog yang Menulis dengan Hati: C.S. Lewis”

Clive Staples Lewis, atau lebih dikenal sebagai C.S. Lewis,  seorang teolog dan penulis terkenal, memiliki hati yang lembut dan empati yang mendalam. Dia lahir pada 29 November 1898 di Belfast, Irlandia Utara, dan meninggal pada 22 November 1960 di Oxford, Inggris. Sebelum menjadi apologis Kristen, Lewis adalah seorang ateis yang keras, namun pertemanan dengan J.R.R. Tolkien dan membaca karya-karya penulis Kristen membuatnya mempertanyakan keyakinannya.

“Mengapa Tuhan Anda menciptakan alam semesta yang begitu kejam?”

“Mengapa Tuhan Anda mengizinkan seorang bayi meninggal?”

“Mengapa Tuhan Anda mengizinkan hewan yang tidak berdaya menderita sakit?”

“Mengapa Tuhan Anda menciptakan alam semesta yang begitu besar tapi hanya satu planet yang dapat didiami?”

“Mengapa alam semesta ciptaan Tuhan Anda ini berjalan sesuai dengan perkiraan para ilmuwan?”

“Jika Tuhan Anda itu baik dan maha kuasa, mengapa begitu banyak dari makhluk ciptaan-Nya yang tidak gembira? Bukankah Ia maha pengasih?”

“Mengapa manusia selalu terlibat dalam perang dan saling membunuh?”

Mengapa dan mengapa? Salah satu hal yang membuat Lewis mempertimbangkan keberadaan Tuhan yaitu dikarenakan hampir semua teman-temannya yang brillian di Oxford merupakan orang yang percaya pada Tuhan, termasuk Tolkien. Di benaknya, ia sering dibayangi pertanyaan, “Mengapa?”

Pada waktu itu Lewis hanya percaya pada rasionalisme dan materialisme. Tetapi di dalam pencariannya yang panjang, ia akhirnya harus mengakui bahwa materi dan rasio tidak dapat menjelaskan pengalaman manusia. Setelah begitu banyak membaca, ia semakin menyakini akan eksisnya satu pengaruh supranatural. Tetapi masih sulit baginya untuk menerima bahwa rasio yang berada di balik alam semesta ini atau pengaruh supranatural itu adalah Tuhan.

KEPUTUSAN MENJADI PERCAYA

Malam demi malam ia bergumul sendirian di kamarnya di Magdalen Kolej, ia terus menolak untuk menerima identitas dan realitas Sang Mutlak. Di musim semi 1929, saat ia sedang berada di dalam sebuah bus di Oxford, tanpa kata-kata dan sesuatu apapun, tiba-tiba ia merasa terbebani dan dingin, seperti manusia es yang tidak terjangkau. Sesaat ia merasa harus membuat suatu keputusan. Lalu, hatinya yang sekeras batu, sedikit demi sedikit mulai mencair. Ia kemudian percaya. Di dalam kesendiriannya di atas bus, ia akhirnya mengakui bahwa Yang Mutlak adalah Roh. Roh adalah Tuhan. Dan Lewis menjadi seorang percaya (theis).

Ia menulis pada temannya, “Aku menyerah. Aku mengaku Tuhan adalah Tuhan.” Ia menggambarkan dirinya sebagai orang percaya yang paling enggan dan patah hati. Ia menulis kepada teman baiknya, “Hal-hal yang mengerikan sedang terjadi kepada saya, sebaiknya Anda segera datang untuk menemui  saya, jika tidak saya mungkin akan masuk biara…

MENULIS, MEMPERKENALKAN IMAN KRISTEN

Lewis akhirnya menerima keberadaan Tuhan dan menjadi seorang Kristen. Ia kemudian menggunakan bakat menulisnya untuk menjelaskan dasar-dasar iman Kristen dengan cara yang sederhana dan logis.

Dalam bukunya “Mere Christianity”, Lewis menulis tentang cinta Tuhan yang tidak bersyarat dan kasih-Nya yang tak terbatas. Ia juga menulis tentang pengalaman pribadinya dalam menerima iman Kristen, dan bagaimana iman itu mengubah hidupnya.

Lewis memiliki kemampuan untuk menulis dengan hati, membuatnya dapat menghubungkan dengan pembaca dari berbagai latar belakang. Ia menulis tentang topik-topik seperti cinta, kematian, dan makna hidup, dan karyanya masih dibaca dan dipelajari oleh banyak orang hingga hari ini.

Melalui tulisannya, Lewis menunjukkan bahwa iman Kristen bukanlah tentang aturan dan dogma, tapi tentang hubungan pribadi dengan Tuhan. Ia mengajak pembaca untuk mempertanyakan keyakinan mereka dan mencari kebenaran.

TEOLOG KRISTEN TERKENAL ABAD KE-20

Lewis adalah seorang teolog yang unik karena dia tidak memiliki latar belakang pendidikan teologi formal. Namun, dia memiliki kemampuan analitis yang kuat dan kemampuan menulis yang luar biasa, yang membuatnya menjadi salah satu teolog Kristen paling terkenal abad ke-20.

Lewis dikenal karena karyanya yang menjelaskan dasar-dasar iman Kristen dengan cara yang sederhana dan mudah dipahami. Beberapa karya terkenalnya dalam bidang teologi termasuk:

– “Mere Christianity” (buku yang menjelaskan dasar-dasar iman Kristen)

– “The Problem of Pain” (buku yang membahas masalah penderitaan dan kejahatan)

– “The Abolition of Man” (buku yang membahas moralitas dan etika)

Karya-karya Lewis, seperti “The Chronicles of Narnia” dan “The Screwtape Letters”, masih populer hingga hari ini, dan ia dianggap sebagai salah satu apologis Kristen terbesar abad ke-20.

Lewis dipandang sebagai seorang teolog yang memiliki pandangan yang kompleks dan tidak sepenuhnya sesuai dengan tradisi Reformasi. Namun, beberapa tokoh Reformasi telah memberikan penilaian positif tentang Lewis.

– John Piper, seorang teolog Reformasi Amerika, telah menulis bahwa Lewis adalah seorang “teolog yang luar biasa” dan bahwa karyanya “Mere Christianity” adalah salah satu buku teologi terbaik abad ke-20.

– Tim Keller, seorang pastor Reformasi Amerika, telah menyebut Lewis sebagai “salah satu apologis Kristen terbesar abad ke-20”.

– R.C. Sproul, seorang teolog Reformasi Amerika, telah menulis bahwa Lewis adalah seorang “teolog yang mendalam” dan bahwa karyanya “The Problem of Pain” adalah salah satu buku terbaik tentang masalah penderitaan.

Namun, beberapa tokoh Reformasi juga telah mengkritik Lewis karena beberapa alasan, seperti:

– Lewis tidak sepenuhnya menerima doktrin Calvinisme, yang merupakan dasar dari tradisi Reformasi.

– Lewis memiliki pandangan yang lebih inklusif tentang keselamatan, yang tidak sepenuhnya sesuai dengan pandangan Reformasi.

– Lewis tidak sepenuhnya menerima otoritas Alkitab sebagai satu-satunya sumber kebenaran, yang merupakan prinsip dasar Reformasi.

Beberapa tokoh Reformasi yang telah mengkritik Lewis termasuk:

– Cornelius Van Til, seorang teolog Reformasi Amerika, yang mengkritik Lewis karena pandangannya tentang apologetika.

– John Frame, seorang teolog Reformasi Amerika, yang mengkritik Lewis karena pandangannya tentang epistemologi.

Namun, perlu diingat bahwa Lewis adalah seorang teolog yang kompleks dan memiliki pandangan yang luas, sehingga penilaian tentang dirinya dapat berbeda-beda tergantung pada perspektif teologis.

Seorang Atheis yang menerima anugerah Tuhan menjadi percaya (Theis). Melampaui rasio, iman itu diberikan Tuhan. Tuhan memakai Lewis menjadi anugerah bagi banyak orang, untuk datang pada Kristus, dan menjadi percaya, melalui karya-karyanya: Penulis lima puluh sembilan buku dan editor dua buku lainnya, Lewis lulus dari Universitas Oxford di mana ia memenangkan gelar triple first, penghargaan tertinggi dalam tiga bidang studi, dan ia mengajar sebagai anggota Magdalen College, Oxford, selama hampir tiga puluh tahun, dari tahun 1925 hingga 1954. Setelah itu, ia menjadi Profesor Bahasa Inggris Abad Pertengahan dan Renaisans pertama di Universitas Cambridge dan anggota Magdalene College, Cambridge.

(Kompilasi berbagai sumber)

Recommended For You

About the Author: Lidya Wattimena

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *