Bermimpi

Ardo Ryan Dwitanto, SE, MSM*
 
Reformata.com – SEKELOMPOK anak kecil  berkumpul di sebuah sekolah yang hampir ditu-tup. Mereka menunggu seorang teman mereka lagi untuk mendaf-tar supaya sekolah tersebut tetap berjalan. Mereka adalah anak-anak yang berasal dari keluarga yang tak mampu. Orang tua mereka bekerja sebagai buruh pabrik, nelayan, dan pedagang kecil. Mereka berkumpul di sekolah tersebut karena mereka mempunyai hasrat untuk belajar dan akhirnya menjadi orang-orang yang berhasil dan keluar dari jerat kemiskinan.
Cerita di atas merupakan salah satu adegan dari film “Laskar Pelangi”, salah satu film box office nasional. Bagian yang menarik dari film tersebut adalah bagaimana anak-anak miskin tersebut ber-juang untuk keluar dari kemiskinan mereka. Mereka tidak punya apa-apa selain hanya satu, yaitu mimpi. Ya, mimpi! Suatu hal yang kede-ngarannya sepele, namun sangat dibutuhkan oleh semua orang.
Nick Vujicic dilahirkan dengan keadaan cacat fisik. Dia dilahirkan tanpa tangan dan kaki. Bayangkan apa jadinya jika seseorang hidup tanpa tangan dan kaki. Pastilah itu keadaan yang sangat tidak menyenangkan. Apa yang dapat diharapkan dari seorang Nick? Luar biasanya, Nick tidak mau bunuh diri, namun menjalani hidupnya sebagai seorang motivator dan telah menolong banyak orang untuk bangkit dan menjalani hidup yang berpengharapan. Apa yang membuat Nick bangkit? Mimpi! Coba renungkan apa yang dia katakan di bawah ini:
“God has used me to let people know in countless schools, chur-ches, prisons, orphanages, hospitals, stadiums and in face-to-face encounters with individuals how very precious they are to God. Secondly, it’s my pleasure to assure them that God does have a plan for their lives that is purposeful. For God took my life, one that others might disregard as having any significance and filled me with His purpose and showed me His plans to move hearts and lives toward Him. Understanding this, though faced with struggles, you can overcome too.” (Nick Vujicic, www.lifewithoutlimbs.org)

Apa mimpi Anda?
Jawaban pertanyaan tersebut “gampang-gampang susah”. Apa maksudnya? Pertanyaan tersebut kedengarannya mudah, namun butuh beberapa saat untuk men-jawabnya. Sayangnya, banyak anak muda yang tidak dapat men-jawab pertanyaan tersebut bukan karena mereka tidak mempunyai mimpi, namun karena mereka tidak memberikan waktu bagi diri mereka sendiri untuk mencari jawabannya.
Jawaban atas pertanyaan-perta-nyaan tersebut dapat berbeda-beda bagi setiap orang. Orang-orang yang sedang dilanda kemiskinan cenderung untuk bermimpi menjadi orang kaya. Mahasiswa yang baru lulus bermimpi untuk bekerja di pe-rusahaan bonafit. Seorang profe-sional muda bermimpi untuk mem-punyai mobil baru dan rumah baru. Kebutuhan yang tak terpenuhi da-pat menjadi faktor utama seseorang untuk menentukan mimpinya.

Namun, belajar dari seorang Nick Vujicic, dia tidak bermimpi untuk mempunyai tangan dan kaki palsu yang bagus, sehingga dia dapat hidup layaknya orang normal. Dia mulai bermimpi ketika Tuhan mela-watnya. Apa yang dia ucapkan di atas merupakan ungkapan hatinya yang terdalam karena dia memiliki hubungan pribadi dengan Tuhan. Mimpinya berasal dari Tuhan bukan dari dirinya. Mimpi yang seperti itu yang telah membuat seorang muda tanpa tangan dan kaki menjalani hi-dupnya dengan penuh kegairahan.

Mimpi berasal dari diri sendiri
Tak dapat disangkali bahwa ba-nyak orang tanpa Tuhan mempu-nyai mimpi-mimpi indah dan menjadi bergairah karenanya. Cerita-cerita mengenai kesuksesan dari orang-orang yang dulu bukan apa-apa menjadi suatu komoditas yang laku sekali. Buku-buku bagaimana men-jadi kaya dan berhasil, kerapkali menjadi best sellers.
Alicia Silverstone, aktris Hollywood berangkat dari seseorang yang bukan apa-apa dan bermimpi menjadi seorang aktris Hollywood. Dia pergi ke Hollywood dan dia berhasil menjadi seorang aktris yang ternama. Namun, suatu saat di dalam wawancaranya dengan sebuah radio di Amerika Serikat, dia mengatakan bahwa dia tidak bahagia dengan keadaannya. Dia merindukan hidup yang normal tan-pa gangguan gossip dan paparazzi.
Robert Enke, seorang penjaga gawang asal Jerman, telah bebe-rapa kali membela tim nasional Jer-man dan bermain di klub-klub ter-nama di Eropa, salah satunya Barcelona. Dia juga merupakan penjaga gawang terbaik Liga Jerman tahun 2009. Namun, suatu penyakit di perutnya yang disebab-kan oleh suatu virus membuat penampilannya tidak sehebat sebelumnya dan dapat membuat posisinya di tim nasional terancam. Tanggal 11 November 2009, dia menabrakkan dirinya ke kereta api yang tengah berjalan hingga mati.
Banyak kasus bunuh diri telah kita baca di surat-surat kabar disebab-kan karena mereka tidak lagi ber-pengharapan setelah mimpi mereka tidak dapat dicapai. Bunuh diri karena tidak mendapatkan orang yang dicintai, kehilangan peker-jaan, tidak lulus ujian, kehilangan nama baik, kegagalan dalam peker-jaan, tidak mendapatkan penghar-gaan dari orang lain sudah tidak asing lagi di telinga kita. Itu semua merupakan bukti nyata bahwa mimpi yang berasal dari keinginan sendiri dapat membawa seseorang kepada kekacauan dan kekece-waan dalam hidupnya. Meskipun mereka telah mencapai apa yang mereka mimpikan, namun hidup-nya tetap hampa.
Mengejar mimpi yang berasal dari diri sendiri seperti kacamata kuda. Mengejar sesuatu yang tidak dapat dicapai. Ketika seseorang menca-painya, tetap dia merasa kurang dan menetapkan mimpi yang lain dan ketika dicapai tetap merasa kurang lagi hingga akhirnya dia merasa lelah untuk bermimpi.

Mendapatkan impian Tuhan
Mimpi yang berasal dari Tuhan bukanlah mimpi yang demikian. Mimpi ini membawa kita kepada suatu kehidupan yang berarti dan penuh kebahagiaan. Di dalamnya, Tuhan memberikan jaminan yang pasti, sehingga kita merasa tenang dan menikmati perjalanan menuju mimpi tersebut.
Kita dapat memperoleh mimpi tersebut dengan merendahkan hati dan mengarahkannya kepada Tuhan. Katakan kepada Tuhan bahwa kita mungkin telah mengejar mimpi kita sendiri dan mengabaikan mimpi dari Tuhan sehingga mem-buat hidup kita hampa. Karena itu, kita mengarahkan hati kepada Tuhan dan memohon agar Tuhan membuka mata kita untuk melihat mimpi yang Tuhan telah siapkan bagi kita masing-masing, karena Tu-han telah berfirman: “Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pe-kerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya.” (Efesus 2: 9).
Selamat bermimpi!

*Dosen UPH Business School

Recommended For You

About the Author: Harry Puspito

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *