Bebas Khawatir

Harry Puspito
(harry.puspito@yahoo.com)*

Reformata.com – SETIAP orang yang normal pasti mengalami khawatir dalam hidupnya. Rasa kha-watir dalam dosis yang wajar diperlukan agar kita bersikap hati-hati dan bertindak ketika ada anca-man bahaya. Ketika kita mengkha-watirkan hasil ujian, maka kita akan belajar lebih keras. Ketika seorang mengkhawatirkan kesehatannya di masa depan dia akan berolah-raga dan menjaga makanan.
Namun dalam jaman sekarang, kita membangun perasaan dan kebiasaan cemas yang berlebihan. Kita belajar menjadi cemas, me-ngembangkan dan memanfaatkan kecemasan. Orang tua sering mengatakan kepada anaknya: “Pikirkan masa depanmu”. Dengan kata lain cemaskan masa depanmu. Atau, pernahkah Anda melihat seseorang yang mengkhawatirkan suatu hal – belum Anda selesai meyakinkan hal itu tidak perlu dikhawatirkan – dia menambah kekhawatiran lain, dan seterusnya.
Kapan khawatir menjadi tidak sehat? Ini terjadi ketika kekhawa-tiran tidak menolong kita bertindak tapi sekadar berkeluh kesah. Khawatir menjadi tidak sehat ketika kita dibuat tidak berdaya oleh perasaan itu sementara apa yang kita khawatirkan belum terjadi.

Dalam bahasa psikologis, khawa-tir (worry) dikenal dengan cemas (anxiety). Teori kecemasan menya-takan ada dua komponen kecema-san, yaitu khawatir dan emosional-nya. Khawatir adalah bicara diri yang negatif yang sering mence-gah pikiran fokus pada masalah yang dihadapi sehingga mengha-langi seseorang menyelesaikan masalah tersebut secara optimal. Sedangkan sisi emosi kecemasan adalah gejala-gejala fisiologis yang menyer-tai seperti berkeringat, detak jantung meningkat dan teka-nan darah yang meninggi.
Kecemasan yang sudah melebihi normal disebut kelainan kecemasan (anxiety disorder). Yang membedakan khawatir yang merusak dengan yang normal adalah tingkat kesulitan mematikan atau mengontrol proses khawatir itu. Kondisi ini dialami hampir 1 dari 5 penduduk AS. Perasaan khawatir mereka timbul terus-menerus se-hingga mereka tidak bisa berfungsi normal. Sering disertai dengan gejala-gejala fisik seperti pusing-pusing, mual, sesak, sering ke toilet, keringat dingin, sulit tidur dsb. Penyebabnya bisa bersifat genetik. Kabar gembiranya kecemasan yang sudah tidak normal ini pun bisa diobati dan diterapi.

Di luar masalah genetik, kekha-watiran menghadang seseorang ke-tika dia menghadapi suatu ketidak-pastian sementara dia tidak bisa atau kurang mampu mengontrol hasilnya. Misalnya, ketika kita akan mengikuti suatu ujian, ada ketidak-pastian materi ujian, dan kita tidak bisa memastikan 100% akan lulus.
Dua faktor yang membangun kekhawatiran wajar kita, adalah ketika kita sangat concern dengan masalah tersebut, seperti ujian kesarjanaan yang kita hadapi, dan kemampuan kita menghadapi masa-lah tersebut, yaitu kemampuan dan persiapan kita dalam menyelesaikan soal-soal ujian itu. Untuk hal-hal yang kita peduli dan kita mampu menghadapi, maka biasanya kita tidak khawatir bahkan mungkin menikmati waktu menghadapi ma-salah tersebut. Namun ketika kita tidak mampu dan tidak siap, maka di sana kita merasa khawatir, misal-nya, khawatir tidak bisa lulus ujian.
Masalah-masalah yang men-trigger kekawatiran itu bisa konflik dengan orang lain, masalah kesehatan, situasi yang mengancam, bayangan kematian, kebutuhan yang tidak terpenuhi, hutang yang belum terbayar, dsb. Keyaki-nan-keyakinan yang salah bisa memperburuk, seperti keber-adaan makhluk halus di rumah yang bisa mengganggu. Dan terlebih dari banyak masalah ini, masalah dosa bisa mem-buat orang khawatir.

Kekhawatiran yang sudah berlebihan jelas membuat kinerja kita tidak optimal dan hidup tidak bahagia. Oleh karena itu ketika ini adalah masalah kita, kita harus menangani-nya. Kita harus mengalami peruba-han dalam mengelola kekhawatiran pribadi ini dan bertumbuh. Banyak pendekatan dikembangkan untuk menangani masalah kekhawatiran, bahkan sangat banyak.
Karena itu, pertama kita harus mau berubah dari pengkhawatir menjadi ’bebas khawatir’. Jika sikap demikian sudah terbentuk, lang-kah-langkah berikut bisa dijalani walaupun tidak selalu mudah. Kita perlu mengevaluasi masalah kekha-watiran kita, apa penyebab kekha-watiran kita. Apakah sekadar di pikiran atau sesuatu yang riil? Apa-kah itu masalah dosa, salah persepsi atau keyakinan yang salah? Kalau riil apa inti masalahnya yang mem-buat kita khawatir itu.

Kita perlu bertindak. Tanpa ber-tindak kekhawatiran akan bertahan dan berkembang. Dengan bertin-dak kekhawatiran akan teratasi. Karena itu kita perlu membuat ren-cana tindakan yang efektif. Apakah kita harus berubah dalam hal sikap dan fokus hidup kita? Apakah kita perlu mengubah gaya hidup kita agar lebih terbebas dari khawatir – tidur cukup, olahraga, rekreasi, sharing, dsb? Apakah kita akan minta ampun atas suatu dosa dan menyelesaikan dengan pihak lain? Apakah ada tindakan-tindakan yang harus segera kita ambil? Atau, apakah kita perlu bertemu dengan profesional yang bisa membantu?
Sebagai orang percaya kita perlu mendoakan kekawatiran-kekawati-ran kita maka damai sejahtera Allah akan menyertai kita (Filipi 4: 6-7). Tuhan memberkati.v

*Penulis adalah partner di Trisewu Leadership Institute

Recommended For You

About the Author: Harry Puspito

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *