Bagaimana Adam-Hawa Berkembang Jadi Miliaran?

Pdt. Bigman Sirait

Tuhan menciptakan manusia yang pertama, yakni Adam, kemudian Hawa. Setalah manusia jatuh ke dalam dosa mereka dikeluarkan dari Taman Eden (tinggal di Bumi). Setelah manusia jatuh ke dalam dosa, apakah Tuhan Allah menciptakan lagi manusia di dunia ini? Karena kalau berdasarkan cerita Alkitab, setelah Kain membunuh Habel, dia lari dan pergi jauh, kemudian kawin dengan wanita bangsa lain. Pertanyaan saya, “Bangsa lain ini berasal dari mana?”
Demikian pertanyaan saya, terima kasih.
Djuli Rahardjo
djulirahardjo@ymail.com
Gresik, Jawa Timur

 

DJULI yang dikasihi Tuhan,  selamat bergabung dalam  rubric Konsultasi Teologi Reformata. Mari kita telusuri data-data Alkitab seputar pertanyaan yang kamu ajukan. Allah mencipta-kan manusia pertama yaitu Adam dan Hawa. Dalam bahasa Ibrani, nama Adam itu berarti manusia. Jadi, nama Adam, bukan sekadar sebuah nama panggilan saja tetapi juga hakekat diri sebagai manusia. Adam dan Hawa tinggal di Taman Eden, dan Taman Eden adalah sebuah lokasi yang berada di bumi ini. Taman ini dikatakan Alkitab dialiri oleh sungai dari Eden yang kemudian terpecah menjadi em-pat cabang, yaitu sungai Pison, Gihon, Tigris dan Efrat (Kejadian 2:10-14). Tidak dijelaskan berapa panjangnya sungai ini, dan ber-muara ke mana. Tapi yang pasti gambaran ini lebih dari cukup untuk memahami lokasi taman yang ada di Eden itu berada di bumi kita yang sekarang ini. 

Setelah kejatuhan ke dalam dosa, maka manusia harus me-nanggung konsekuensi yang mengerikan, yaitu kematian (Kejadian 3). Mati artinya terpisah dari Allah sumber kehidupan. Manusia mati secara rohani dalam seketika, dan juga mati jasmani dalam proses waktu. Di era Adam, usia manusia berkisar seribuan ta-hun. Pada era Nuh tinggal seratus dua puluh tahun (Kejadian 6:3), dan di era Musa manusia hanya di kisaran tujuh puluh tahun (Mazmur 90:10).
Artinya, akibat dari dosa, dengan jelas Alkitab menggambarkan betapa merosotnya kualitas hidup manusia dalam segala aspek, yang diperlihatkan dengan masa hidup yang menurun drastis. Di sisi lain, akibat dari kejatuhan ke dalam dosa manusia diusir keluar dari Taman Eden. Yang berarti manusia kehilangan segala fasilitas surgawi yang tadinya Allah sediakan untuk menjadi hak manusia. Ironis sekali bukan?

 Di mana selanjutnya manusia itu tinggal? Jawabannya sederhana saja, yaitu di sekitar Taman Eden yang sudah ditutup Allah. Soal jarak berapa jauhnya, kita tidak punya datanya. Yang pasti manusia diusir keluar dari daerah timur Taman Eden (Kejadian 3: 24).
Jika melihat peristiwa Kain membunuh Habel, adiknya, dalam Kejadian 4, dikatakan bahwa Kain pergi dari hadapan TUHAN dan menetap di tanah Nod, di sebelah timur Taman Eden, maka ini menjadi informasi tempat tinggal keluarga mereka (Adam dan Hawa). Setelah Kain mempunyai anak  yang diberinya nama He-nokh, maka Kain membangun se-buah kota sebagai tempat tinggal yang baru bagi keluarganya. Kota ini diberi nama sesuai nama anaknya (Kejadian 4:17). Dan di sini juga jelas dikatakan istri Kain, bukan dari bangsa lain.
Nah, siapakah istrinya ini? Alkitab jelas mengatakan bahwa Allah tidak ada menciptakan bangsa lain. Semua berasal dari manusia Adam dan Hawa. Tak ada penjelasan tentang penciptaan bangsa lain, sekalipun tafsiran tentang hal ini ada berdasarkan ketakutan Kain setelah pembunuhan dan usaha menjelaskan perkembangan ma-nusia . Tapi berdasarkan Kejadian 5: 4, jelas dikatakan bahwa Adam mempunyai anak-anak lelaki dan perempuan (yang nama-namanya tidak pernah disebutkan, kecuali Kain, Habel, Set).
Ketakutan Kain, sangatlah masuk akal sebagai konsekuensi rasa keberdosaan. Kain dikejar oleh bayang-bayangnya sendiri. Dan ketakutan itu semakin menjadi karena TUHAN sendiri menyatakan murka-Nya atas Kain. Sementara perkembangan manusia tampak-nya adalah melalui perkawinan inces. Tentu kita akan berkata bahwa itu adalah dosa. Jawa-bannya adalah betul itu dosa, dan diatur dengan jelas di kemudian hari dalam hukum Taurat.

Abraham sendiri menikah dengan Sara, saudara sepupunya (saat itu populasi manusia sudah lebih banyak). Nah, perkawinan inces ini sekaligus menggambarkan kegagalan manusia untuk taat sepenuhnya kepada perintah Allah. Kejatuhan ke dalam dosa telah merusak seluruh sistem kehidupan manusia. Mulai dari pembunuhan oleh Kain atas Habel hingga perni-kahan antarsaudara. Situasi ini justru menjadi gambaran betapa rusaknya akibat yang ditimbulkan oleh dosa.
Jika, kita bertanya, andaikata manusia tidak jatuh ke dalam dosa, bagaimana perkembangan manu-sia? Saya akan menjawab, “Tidak tahu”, karena memang faktanya manusia jatuh. Tidak ada kisah perkembangan manusia yang tidak jatuh ke dalam dosa. Dan yang pasti adalah, jika manusia tidak ber-dosa maka dia akan berkembiang biak tanpa berdosa. Soal cara, pasti Allah akan mengaturnya. Yang terjadi manusia jatuh ke dalam dosa dan berkembangnya pun de-ngan cara berdosa. Ingat pembu-nuhan, pernikahan, dan berbagai aspek lainnya yang mewarnai sejarah perjalanan kehidupan manusia.
Perkembangan manusia sangat jelas dalam penjelasan Alkitab, seperti Kain yang membangun sebuah keluarga, juga sebuah kota, dan jadilah sebuah suku yang terus semakin besar. Begitu juga anak-anak Adam lainnya. Lalu pernikahan pun terjadi antara saudara sepupu dan seterusnya. Lalu pada era Nuh, setelah peristiwa air bah, manusia berkem-bang biak lewat tiga anak Nuh yaitu Sem, Ham dan Yafet. Sem, (Kejadian 5: 32,6:10, 9:18-27, 10, 11, I Tawarikh 1: 4, disebut se-bagai leluhur beberapa suku bang-sa Timur Tengah-Asia. Ham, (Kejadian 5: 32, 6:10,7:13,9:18, I Tawarikh 1: 4,4:40, disebut sebagai leluhur beberapa suku bangsa Timur tengah-Afrika. Se-mentara Yafet, (Kejadian 5: 32,6:10,7:13,9:18,23,27, I Tawa-rikh 1:5-7, disebut sebagai leluhur beberapa suku bangsa Indo-Eropa.

Lalu mengenai perkembangan bahasa yang semakin beraneka ragam, Alkitab menceritakan hal itu bermula dari peristiwa Babel (Kejadian 11: 7-9). Nah, kemudian semua berkembang biak dalam perjalan waktu, mulai dari; manusia menjadi bangsa-bangsa, warna kulit, budaya, bahasa, dan yang lainnya, seturut dengan; tempat, situasi, kondisi, yang dialami oleh umat manusia. Hanya saja, Alkitab bukanlah buku anthropologi, arke-ologi, atau disiplin ilmu lain yang menggali dengan detail. Namun garis besar yang diberikan oleh Alkitab, sangatlah memadai untuk menjelaskan penciptaan, perkem-bangan, hingga kesudahan hidup manusia kelak. Alkitab menjadi titik temu dari semua ilmu, karena me-mang dari sanalah penjelasan terje-las yang ada di kolong langit ini.
Baiklah Djuli yang dikasihi Tuhan, semoga jawaban ini semakin memperkaya wawasan pikir kita tentang Alkitab yang luar biasa itu. Selamat menjadi sahabat REFOR-MATA, Tuhan memberkati. v

Recommended For You

About the Author: Pdt Bigman Sirait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *