Janji Lagi, Janji Lagi ..

Harry Puspito
(harry.puspito@yahoo.com)*

SETIAP hari kita mengeluarkan janji seperti saya akan menelpon Anda kembali, saya akan kirim buku X, saya akan buatkan foto kopi artikel Y, saya akan hadir di acara Anda, dsb… dsb. Pertanyaannya, berapa banyak dari janji-janji yang pernah Anda keluarkan itu Anda penuhi? Berapa banyak yang tidak Anda penuhi?
Kebanyakan janji-janji orang tidak dipenuhi. Janji-janji ke pihak lain dalam urusan bisnis banyak tidak dipenuhi, misalnya untuk mengirimkan surat, proposal, laporan pada waktu tertentu. Janji pernikahan yang serius untuk saling mencintai pasangan, baik tidak baik waktunya, kebanyakan juga tidak dipenuhi dengan berjalannya waktu.Termasuk janji kepada Tuhan, misalnya untuk melayani, memberi persembahan lebih; apalagi janji yang tidak konkrit seperti lebih mengasihi Dia.
Kita sering membuat janji gombal. Tidak heran kalau ada ungkapan “janji adalah untuk dilanggar”. Seringkali bukan maksudnya tidak mau memenuhi janji kita tapi kita sering tidak serius, tidak punya strategi untuk memenuhi janji kita. Ketika kita melupakan janji kita kepada orang lain, kita tidak merasa apa-apa. Namun pertanyaannya bagaimana perasaan kita kalau orang berjanji kepada kita dan dia tidak memenuhi janjinya? Jawaban ini akan berlaku pada orang lain yang menerima janji-janji kita.
Ketika kita tidak memenuhi janji kita sebenarnya secara sadar atau tidak sadar kita tidak menghargai orang yang bersangkutan. Namun tidak memenuhi janji juga berarti tidak menghargai diri sendiri, yaitu tidak menghargai ucapan sendiri.
Akibat janji yang tidak dipenuhi, adalah hubungan yang rusak. Orang kecewa dan sakit hati karena harapannya tidak dipenuhi dan merasa tidak dihargai. Kita kehilangan kepercayaan dari orang yang kita ingkari janjinya. Kalau ini menjadi kebiasaan akan merusak reputasi kita sebagai orang tidak memegang janji. Dalam jangka panjang situasi demikian akan merusak citra diri atau self-image orang tersebut, self-esteem dan akhirnya merusak hidupnya.
Apa sebenarnya janji itu? Janji kita pahami sebagai pernyataan seseorang bahwa ia akan melakukan atau tidak melakukan sesuatu bagi orang lain. Orang yang menerima ungkapan itu bisa berharap janji akan dilakukan. Dalam budaya modern, janji itu mengikat secara moral. Ada ungkapan: Our words are our debt. Tidak menepati janji berarti tidak membayar hutang.
Kalau manusia banyak berjanji sebenarnya wajar, karena Allah Sang Pencipta yang adalah patron manusia ciptaan adalah Allah yang banyak berjanji. Menurut seseorang penulis dalam Alkitab ada 3.573 janji Allah. Satu janji Allah yang paling awal adalah Dia akan mengirimkan seorang Juruselamat yang akan mengalahkan iblis (Kejadian 3:15), dan ini sudah Dia penuhi dalam kedatangan Kristus. Dan janji Allah yang terakhir adalah bahwa Yesus akan datang kembali. Ini janji yang masih kita tunggu pemenuhannya.
Bedanya dengan Tuhan, kalau kita sering ingkar janji maka Allah tidak pernah tidak menepati janji-janji-Nya (Bilanngan 23:19). Sementara manusia dengan keterbatasan dan karena dosa tidak mampu selalu memenuhi janji-janjinya dan kadang dengan sengaja mengingkari janji-janjinya untuk kepentingan sesaat.
Kita harus sadar ketika kita berjanji maka reputasi kita sedang dipertaruhkan. Apakah janji kita akan terpenuhi atau tidak. Ketika kita penuhi maka kita telah bertindak dengan integritas dan sebaliknya ketika kita gagal memenuhi janji kita maka kita sedang mengganggu integritas sendiri.
Kalau kita adalah pribadi yang mau berubah dan bertumbuh, maka satu hal yang bisa perbaiki adalah dalam soal berjanji dan memenuhi janji. Kita perlu menyadari dan mengevaluasi bagaimana kita telah membuat janji, motivasi di balik membuat janji seberapa banyak kita berhasil memenuhi janji-janji kita, dan apa yang membuat kita telah sering gagal dalam memenuhi janji-janji kita. Untuk suatu janji yang spesifik kita perlu memahami motivasi – apakah untuk ego kita atau untuk kebutuhan ybs? Apakah Anda perlu membuat janji itu? Apakah Anda mampu memenuhi janji itu? Lebih baik kita tidak menjanjikan sesuatu yang muluk-muluk tapi tidak bisa memenuhi tapi kita memberikan apa yang bisa kita berikan.
Alkitab mengatakan: “Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak.” (Matius 5:37). Jika kita sudah berjanji maka penuhi. Untuk memenuhi janji perlu strategi agar kita mampu memenuhi janji tersebut. Strategi yang sederhana adalah mencatat apa yang kita janjikan, menaruh catatan janji itu di depan mata, dan membuangnya setelah kita memenuhi janji kita. Kita harus membangun sikap secara aktif berusaha menyelesaikan janji demi janji.
Bagaimana kalau karena keadaan kita tidak bisa memenuhi janji kita? Misalnya, kita berjanji akan mengunjungi seseorang pada waktu tertentu, tapi kemudian akan kedatangan saudara dari luar kota pada waktu yang bersamaan. Segera setelah tahu tidak akan bisa memenuhi suatu janji kita perlu segera memberitahu dan menegosiasikan waktu yang baru. Jika ini kita lakukan niscaya pihak lain tidak dirugikan dan dikecewakan. Tuhan memberkati.v

Recommended For You

About the Author: Harry Puspito

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *