Tetap Bersemangat!

KITA sering mendengar ucapan seperti: ‘Semangat!’, ‘Tetap Semangat !’,  atau ‘Terus Semangat!’ untuk menyemangati seseorang atau kelompok. Dan orang-orang akan merespon dengan ungkapan yang sama. Apakah kebiasaan ini efektif membangkitkan semangat kita beraktivitas? Bagaima kita bisa membangun dan mempertahankan semangat bekerja dan melakukan aktivitas lain?
Kita menghadapi masalah untuk tetap bersemangat. Bagaimana tidak? Ketika kita hidup di kota besar, kegiatan sehari-hari begitu padat, untuk urusan kerja, keluarga, pribadi, sosial dan belum pelayanan – bagi aktivis Kristen. Pekerjaan seperti tidak habis-habisnya. Atasan seperti tidak mengerti waktu yang kita miliki terbatas. Target yang ditetapkan jauh dari realistis.
Di lingkungan kita bertemu dengan orang-orang dengan berbagai kepribadian, dan banyak di antaranya yang bertemperamen buruk, pemarah, egois, tidak peduli, dsb. Bos kita bisa jadi orang yang demikian dan tiap hari kita harus menjadi sasaran pelampiasan emosinya.
Belum soal-soal pribadi. Karena tempat tinggal jauh, kita harus berangkat pagi, melalui jalan yang macet. Pulang sama saja bahkan sering lebih padat lagi. Akibatnya kita kurang istirahat, kurang tidur. Waktu dengan keluarga dan rekreasi sangat kurang atau tidak ada. Bagaimana hidup di tengah lingkungan dan situasi seperti ini kita bisa memiliki ‘tetap bersemangat’?
Namun kita melihat ada orang-orang tertentu, tidak banyak, yang menunjukkan semangat yang tinggi dalam menjalani aktivitas atau pekerjaannya. Mereka kelihatan energik, bekerja keras dan tidak mudah capek. Sikapnya selalu positif, walaupun lelah masih murah senyum. Mereka tampak merasakan kepuasan dalam apa yang mereka kerjakan. Mengambil tindakan-tindakan untuk terus maju. Pantang menyerah kalau adalah masalah yang menghadang.
Sebaliknya kita melihat lebih banyak orang yang tidak demikian. Mengantuk sepanjang hari. Bersandar di eskalator, mata ditutup. Berbicara dengan nada negatif. Jarang tersenyum. Menghindarkan tugas dan kewajibannya.
Banyak yang orang bersemangat hanya di kegiatan-kegiatan tertentu tapi tidak di bidang lain. Anak-anak umumnya bersemangat bermain tapi kehilangan semangat ketika diminta belajar. Banyak orang bersemangat bekerja tapi ogah-ogahan dalam pelayanan. Sebaliknya juga ada, orang lebih bersemangat dalam pelayanan tapi ceroboh dalam pekerjaan. Mungkin lebih sedikit, tapi ada orang yang dalam hal apa pun tidak bersemangat.
Mengapa memiliki semangat begitu penting? Kita tahu keberhasilan seseorang lebih banyak ditentukan oleh sikap daripada pengetahuan. Ada yang mengatakan sukses orang 85% didukung oleh faktor sikap dan 15% saja oleh pengetahuan dan ketrampilan.
Tanpa semangat orang tidak memiliki energi untuk mengerjakan tugasnya, apalagi mengembangkan atau berinovasi dalam area pekerjaannya. Pekerjaan apa pun yang dilakukan tanpa semangat akan menghasilkan output yang mediocre; kualitas akan merosot; dan, ketika kegagalan terjadi tidak ada energi untuk bangkit..
Alkitab menyatakan, Allah menolak orang yang tidak bersemangat dalam perumpamaan talenta (Matius 25) dan tidak mengerjakan talentanya. Allah menyukai orang-orang yang bersemangat dan memberikan reward atas hasil kerja-keras mereka. Dia menghendaki kita mengasihi Dia dengan semangat tinggi: dengan segenap hati, jiwa dan akal budi (Matius 22: 37). Dalam Markus 12: 30 perintah yang sama ditambahkan dengan ketentuan ‘dengan segenap kekuatanmu’.
Dengan semangat kita akan memiliki energi yang besar dan bisa bekerja keras dalam hal apa pun yang menjadi bagian kita. Pekerjaan dan pelayanan akan ‘berbuah’ dan berkualitas. Inovasi-inovasi radikal timbul dari orang dengan semangat yang ‘ekstrim’ yang kita lihat dalam diri para inovator seperti Thomas Alfa Edison. Dengan semangat orang bisa menghadapi tantangan dan penderitaan dalam hidupnya dengan tetap bersuka cita.
Dan Alkitab menyatakan Allah menghargai orang-orang yang bersemangat dan bekerja keras. Ini tergambar dalam dalam perumpaan talenta. Mereka yang menggandakan talentanya menjadi dua kali lipat dipuji oleh Tuhan dan diberi tanggung jawab lebih, sedangkan mereka yang mendiamkan talentanya dikutuk dan ditolak-Nya.
Suatu contoh pribadi yang bersemangat di Alkitab adalah Paulus. Dia menunjukkan semangat yang besar dalam menjalani kehidupannya baik sebelum mengenal Tuhan, apalagi sesudahnya. Bagaimana seorang pribadi yang bersemangat ini menampilkan semangat dalam perjalanan hidupnya? Paulus digambarkan dalam Alkitab sebagai seorang rasul yang bekerja ‘paling keras’. Dia tidak saja melayani pemberitaan Injil tapi juga bekerja sebagai tukang tenda untuk membiayai pelayanannya. Di antara para rasul dia melayani di paling banyak lokasi. Dia melakukan perja-lanan pelayanan paling jauh. Mengalami paling banyak penderitaan dan aniaya paling berat namun menunjukkan sikap yang positif dan bersuka-cita dalam kesulitan-kesulitan yang dihadapi.
Paulus memiliki curiosity dalam terhadap kehidupan masyarakat dan budaya lokal sehingga mampu melayani sesuai dengan konteks. Pendekatan pelayanannya inovatif dan kreatif. Paulus paling produktif dalam menuliskan ajaran-ajaran kebenaran dalam bentuk surat-surat. Dan dia mengakhiri hidupnya dengan tetap bersemangat – bagi dia ‘mati adalah untung’. Di balik hidupnya memang dia memiliki panggilan Allah yang jelas, yaitu memberitakan Injil bagi orang-orang non-Yahudi dan orang-orang Yahudi (KPR). Dia menetapkan sasaran-sasaran pelayanan mengarah kepada panggilan sorgawinya.
Bagaimana dengan kita? Hidup bersemangat adalah anugerah tapi sekaligus pilihan dan ketaat. Tuhan memberkati. v

Recommended For You

About the Author: Harry Puspito

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *