Semangat Dituntun Oleh Sang Pencipta

 Harry Puspito
(harry.puspito@yahoo.com)*

Janganlah hendaknya kerajinanmu kendor, biarlah rohmu menyala-nyala dan layanilah Tuhan.
(Roma 12:11)

DALAM tulisan sebelumnya kita telah membahas pentingnya kita memiliki semangat yang sehat untuk menjalani kehidupan, untuk berkarya dan untuk melayani Tuhan. Kalau kita mau menjadi pribadi yang berubah dan bertumbuh, satu area yang perlu mendapat perhatian kita adalah di sini. Semangat dibutuhkan agar kita memiliki energi untuk terus bertumbuh. Karena itu kita perlu memahami masalah semangat ini, bagaimana memiliki dan memeliharanya.
Untuk mengerti lebih jelas tentang konsep semangat ini secara lebih tepat, ada dua padanan dalam  bahasa Inggris yang menolong kita, yaitu excitement dan enthusiasm. Yang pertama adalah gairah  di dalam diri seseorang untuk melakukan sesuatu yang dibangkitkan oleh stimulus-stimulus dari luar – karena itu ‘ex’ (dari luar) dan ‘citement’ (gairah). Ketika seseorang akan menonton pertandingan bola tim favoritnya, seorang anak muda mau ketemu pacar, seorang karyawan mau masuk kerja pertama kali; mereka mengalami excitement. Ini adalah proses yang alami. Gairah terjadi lebih pada level emosi.
Kata lain adalah enthusiasm yang berasal dari bahasa Yunani ‘en’ atau ‘in’ dalam bahasa Inggris, artinya di dalam; dan ; ‘theos’ yaitu Tuhan. Dengan demikian entheos mengandung arti “Tuhan di dalam seseorang atau seseorang di dalam Tuhan”. Seseorang yang ‘enthusiastic’ adalah seperti orang yang memiliki Allah di dalam dirinya, dan karena Allah adalah Allah yang mahakuasa, memiliki kekuatan dan energi yang tidak terbatas maka ketika seorang manusia mengalami enthusiasm dia akan memiliki gairah dan energi untuk bekerja dan beraktivitas dengan tenaga yang seperti tidak habis-habisnya. Dia akan tampak berbeda dengan manusia-manusia biasa lainnya, yang tidak entheos.
Berbeda dengan orang yang mengalami excitement, semangat itu datang dari dalam diri seseorang sehingga tidak dipengaruhi oleh rangsangan-rangsangan dari luar. Energinya mengalir dari dalam dirinya mengerjakan apa saja yang ada di tangannya dengan semangat tinggi. Dan karena itu semangatnya tidak hanya ketika dia mengerjakan aktivitas tertentu saja tapi dalam segala hal yang dia kerjakan. Dalam bekerja semangatnya terpelihara sepanjang hari, dalam mengerjakan semua list to do-nya. Semangatnya menerobos kepada suka tidak suka terhadap semua sisi-sisi dari pekerjaannya.
Dan karena kehadiran Allah di dalam diri orang, maka semangat ini diimbangi dengan hikmat-Nya. Semangat yang sejati tidak ngawur karena dituntun oleh hikmat Sang Pencipta. Di samping itu semangat yang sejati ini juga dibatasi dalam mengerjakan hal-hal yang baik sesuai dengan karakter baik-Nya. Ketika dia melakukan dengan gairah sesuatu yang tidak berhikmat, atau jahat itu berarti dia sedang dikuasai dirinya atau roh lain yang bukan Allah yang baik itu.
Semangat sejati sebenarnya hanya mungkin terjadi di dalam diri orang Kristen karena hanya dalam orang percaya Tuhan tinggal melalui kehadiran Roh Kudus (1 Korintus 3: 16). Alkitab juga menyatakan sesungguhnya Roh Allah mau memegang kendali seluruh aspek hidup orang percaya melalui kehadiran Diri-Nya dalam orang percaya (Efesus 5:18). Ketika orang percaya membuka diri untuk kepenuhan kehadiran Roh Allah itu, Dia akan mengerjakan dalam dirinya baik kemauan mau pun kemampuan melakukan pekerjaan-pekerjaannya (Filipi 2:13).
Oleh karena itu semangat orang percaya atau semangat yang sejati adalah dalam segala dimensi hidup orang percaya. Seorang yang dipimpin oleh Roh seharusnya akan bersemangat tidak hanya ketika beribadah tapi juga ketika bekerja, belajar, berolahraga, bersosialisasi, berada  di tengah keluarga, bahkan ketika sendirian mengerjakan tugas dan hobi-hobinya. Tidak heran banyak inovasi – sesuatu kegiatan yang memerlukan semangat yang luar biasa – banyak terjadi oleh orang-orang percaya. Banyak karya-karya agung dan mulia berbagai bidang seperti musik, bangunan, tulisan, sain, riset, teknologi dan lain-lain keluar dari buah pikiran dan pekerjaan orang percaya. Tidak berarti orang tidak kenal Tuhan tidak bisa berprestasi, karena Tuhan juga memberikan anugerah umum, yang memungkinkan mereka berhasil, bahkan sering mereka lebih cerdik (Lukas 16: 8).
Namun kita tahu semangat orang percaya juga sudah dirusak dosa. Walaupun ketika orang menjadi percaya mereka memiliki potensi untuk dipulihkan dan pada waktunya Tuhan sempurnakan, namun selama dia di dunia, manusia masih akan mengalami gangguan-gangguan terhadap semangat hidupnya, baik karena dosa mau pun karena kelemahan manusiawinya.  Gangguan ini bisa dipulihkan melalui pemulihan hubungan dengan Allah, yaitu melalui pengakuan dosa dan permintaan agar kembali Roh Allah memegang kendali atas hidupnya.  Semangat yang lemah perlu diperkuat melalui ‘pelatihan-pelatihan’ (1 Timotius 4: 8). Tuhan memberkati. v

 

Recommended For You

About the Author: Harry Puspito

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *