Identitas Diri

 Harry Puspito
(harry.puspito@yahoo.com)*

MANUSIA adalah makhluk yang berpikir, termasuk tentang dirinya. Perta-nyaan-pertanyaan besar yang ha-rus dia jawab adalah: “Siapa saya? Dari mana saya tahu siapa saya? Mengapa saya ada di bumi?”  
Di dunia yang dihuni oleh hampir 7 miliar manusia ini pertanyaan-per-tanyaan ini penting untuk dijawab. Pengenalan terhadap diri dan tujuan hidup akan menentukan perbuatan-perbuatan yang akan seseorang lakukan selama hidupnya.

Penemuan tentang diri itu akan menentukan apakah mereka akan bekerja dengan semangat secara konsisten atau sembarangan. Ke-lompok masyarakat yang kehila-ngan pengenalan dirinya cende-rung berperilaku tanpa disiplin dan seenaknya. Mereka akan hidup bermalas-malasan karena tidak mengetahui dirinya secara jelas yang berakibat tidak tahu apa yang harus dia perbuat.
Pemikiran tentang siapa dirinya adalah apa yang dikenal dalam psikologi sebagai self-identity atau identitas diri. Self-identity adalah pengetahuan seseorang akan dirinya sebagai suatu subyek yang unik di bumi ini. Ia mendefinisikan diri dalam atribut-atribut pribadi yang unik dan hubungan-hubu-ngan interpersonal. Identitas diri berisi koleksi keyakinan-keyakinan dan perasaan seseorang tentang dirinya yang ia bangun sepanjang hidupnya.    
Setiap orang mempunyai tiga skema tentang dirinya. Pertama adalah actual self, yaitu bagaimana seseorang melihat dirinya sekarang. Kedua adalah ideal self, yaitu bagaimana sese-orang ingin menjadi. Dan ‘ought self’, yaitu bagaimana dia ber-pikir dia seharusnya. Persepsi diri ini sudah barang tentu me-miliki gap dengan diri yang sesung-guhnya. Dan tidak ada orang lain, tidak diri sendiri, yang me-ngenali diri seseorang sea-kurat Sang Pencipta. Kalau kita ingin berubah dan ber-tumbuh, kita perlu mengenali siapa dirinya dan mengem-bangkan dirinya sesuai dengan potensi yang dianugerahkan kepadanya.
Bagaimana kita bisa menge-nali diri secara akurat? Kita bisa mengenali diri lebih baik ketika kita bisa mendekati bagaimana Allah memandang kita. Jika de-mikian maka kita harus kembali kepada pikiran-pikiran Allah, yang bisa coba kita ketahui melalui per-gaulan dengan Dia, dan khususnya, melalui Firman-Nya. Alkitab berbi-cara orang percaya adalah anak-anak Allah (Yoh 1:12). Kita adalah orang-orang pilihan Allah, mendapat belas kasihan Allah, milik Allah, orang kudus, dan imam rajani (1 Pe-trus 2: 9-10). Dan panggilan kita sebagai orang percaya sudah jelas, yaitu memproklamasikan kebesaran nama-Nya. Inilah garis besar identitas orang percaya.
Namun sudah barang tentu se-tiap pribadi mengembangkan iden-titas yang unik. Satu teori yang di-akui tentang perkembangan manu-sia adalah teori psikososial Erikson yang membagi masa-masa per-kembangan manusia dari lahir hing-ga akhir hayatnya sesuai dengan umur dalam 8 tahap. Walau iden-titas diri terbentuk seumur hidup, namun menurut teori ini tahap kritis pembentukan seseorang adalah pada usia remaja dengan dua ke-mungkinan, yaitu apakah sese-orang bisa memiliki identitas yang se-hat atau dia menjadi manusia yang ’confused’ tentang diri-nya. Pertanyaan yang me-ngemuka adalah ’siapa saya’ dan ’ke mana saya menuju’. Konflik diri yang terjadi meli-batkan penetapan identitas pribadi seorang anak muda yang konsisten, yang menjadi modal untuk perjalanan hidup selanjutnya.
James Marcia mengem-bangkan lebih lanjut teori status identitas melalui dua pro-ses dalam kehidupan seseor-ang, yaitu eksplor dan mem-buat komitmen. Untuk memi-liki identitas diri yang sehat, seorang remaja harus meng-eksplor berbagai hal, seperti mengenali diri (kekua-tan-ke-kuatan dan kelemahan-kelemahan pribadi), berelasi sosial (dengan berbagai kalangan), seko-lah (pelajaran yang diminati, jurusan sekolah lanjut), bekerja (berbagai karir), politik (berbagai pilihan), rohani (agama dan aspek-aspeknya), dsb. Setelah mengeks-plor berbagai kesempatan yang ada, seseorang harus membuat komitmen di berbagai hal tadi. Dengan komit terhadap sejumlah nilai-nilai, keyakinan-keyakinan dan goal-goal identitas seseorang terbentuk.
Ketiga, kita gagal mengeksplor peluang-peluang yang ada sese-orang akan bermasalah dengan pembentukan identitas pribadinya. Tanpa ekplorasi tapi membuat ko-mitmen yang kuat terhadap faktor-faktor identitas, maka identitas seseorang sebenarnya ditetapkan orang lain. Misalnya, orang tua me-maksa anaknya untuk kuliah bidang tertentu, memaksa belajar musik, menjodohkan dengan pasangan pilihannya, dsb. Ketika seseorang banyak mencoba dan mengeksplor tapi tidak komit, pembentukan identitasnya tertunda. Jika ini ber-sifat sementara tidak begitu ma-salah. Pada jaman yang menawar-kan banyak pilihan, eksplorasi ini memang memerlukan waktu. Na-mun paling berat adalah ketika seseorang tidak mengeksplor hi-dupnya dan tidak membuat komit-men terhadap arah hidupnya. Dia tidak ke mana-mana, ikut-ikutan dan bingung. Hidupnya tidak pro-duktif dan akan mengakhiri hidup dengan kekecewaan dan penyesalan.v
*Penulis adalah Partner Trisewu Leadership Institute.

Recommended For You

About the Author: Harry Puspito

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *